Ramadhan: Restorasi Kehidupan dan Komitmen Ubudiyah kepada Allah
Kamis, 05 Mei 2022 - 21:45 WIB
loading...
A
A
A
Dalam Hadits Qudsi disebutkan bahwa "semua amalan anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah milikKu".
Diakuinya, puasa sebagai milik Allah ini tentu juga memberikan nilai istimewa yang lain. Salah satunya karena puasa seolah mengembalikan manusia kepada identitas dasar dan misi utama hidupnya sebagai "Abdullah". Bahwa wujud manusia itu dan misi utamanya dalam hidup ini adalah "li'ibadatill" (penyembahan kepada Allah).
Permasalahannya memang manusia kerap kali menjadi lengah atau lupa. Kata manusia itu sendiri memiliki konotasi "nas-yun" (lupa). Yang Kemudian diperkuat oleh dorongan hawa nafsu di satu sisi dan tarikan dunia yang melupakan di sisi lain. Maka terjadilah "nasullaha fa ansaahum anfusahum" (mereka lupa kepada Allah maka mereka dijadikan lupa diri).
Di saat manusia lupa diri itulah terjadi perilaku yang tida alami. Banyak yang tidak sadar bahwa mengingkari Tuhan itu tidak alami. Tidak melakukan ubudiyah itu tidak alami. Hingga melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan keridhoaan Allah itu sesungguhnya tidak alami dalam hidup seorang manusia (yang Fitri).
Maka bulan Ramadhan menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun kembali kesadaran ubudiyah itu. Di bulan inilah terjadi koneksi yang sangat intim dengan Pencipta.
Relasi ubudiyah yang begitu dekat itu digambarkan dalam sebuah ayat yang terletak di antara ayat-ayat puasa: "Dan jika hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Aku sampaikan bahwa Aku sangat dekat." (Al-Baqarah)
Restorasi kedekatan (Al-Qurbah) bahkan kebersamaan dengan Allah (ma'uyatullah) inilah yang menjadi esensi Ramadhan. Dan dengan merestorasi kedekatan ini hidup manusia akan lebih bermakna dan fitri. Insya Allah!
Baca Juga: Hikmah Idul Fitri 2022, Saatnya Kembali ke Fitrah
Diakuinya, puasa sebagai milik Allah ini tentu juga memberikan nilai istimewa yang lain. Salah satunya karena puasa seolah mengembalikan manusia kepada identitas dasar dan misi utama hidupnya sebagai "Abdullah". Bahwa wujud manusia itu dan misi utamanya dalam hidup ini adalah "li'ibadatill" (penyembahan kepada Allah).
Permasalahannya memang manusia kerap kali menjadi lengah atau lupa. Kata manusia itu sendiri memiliki konotasi "nas-yun" (lupa). Yang Kemudian diperkuat oleh dorongan hawa nafsu di satu sisi dan tarikan dunia yang melupakan di sisi lain. Maka terjadilah "nasullaha fa ansaahum anfusahum" (mereka lupa kepada Allah maka mereka dijadikan lupa diri).
Di saat manusia lupa diri itulah terjadi perilaku yang tida alami. Banyak yang tidak sadar bahwa mengingkari Tuhan itu tidak alami. Tidak melakukan ubudiyah itu tidak alami. Hingga melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan keridhoaan Allah itu sesungguhnya tidak alami dalam hidup seorang manusia (yang Fitri).
Maka bulan Ramadhan menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun kembali kesadaran ubudiyah itu. Di bulan inilah terjadi koneksi yang sangat intim dengan Pencipta.
Relasi ubudiyah yang begitu dekat itu digambarkan dalam sebuah ayat yang terletak di antara ayat-ayat puasa: "Dan jika hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Aku sampaikan bahwa Aku sangat dekat." (Al-Baqarah)
Restorasi kedekatan (Al-Qurbah) bahkan kebersamaan dengan Allah (ma'uyatullah) inilah yang menjadi esensi Ramadhan. Dan dengan merestorasi kedekatan ini hidup manusia akan lebih bermakna dan fitri. Insya Allah!
Baca Juga: Hikmah Idul Fitri 2022, Saatnya Kembali ke Fitrah
(rhs)
Lihat Juga :