Mencari Keberkahan dari Makanan yang Disajikan Sesuai Syariat
Jum'at, 06 Mei 2022 - 13:30 WIB
loading...
A
A
A
“Dan jangan dia biarkan makanan itu untuk setan.”
Ini menunjukkan bahwa setan ketika ada makanan jatuh dan dibiarkan maka akan dimakan oleh setan. Setan tidak bisa mengambil makanan atau ikut serta dalam makanan kita kalau kita membaca Bismillah.
“Dan jangan dia membersihkan tangannya dengan sapu tangan atau dengan tisu, hingga dia menjilati jari jemarinya yang digunakan untuk makan itu (tangan kanannya).”
Apa alasannya? Yaitu karena dia tidak mengetahui pada bagian makanan manakah terdapat keberkahan. Jadi kita menghabiskan makanan itu untuk mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanan yang berkah dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila masuk dalam tubuh seseorang akan menjadi kekuatan baginya untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya, makanan yang tidak ada berkahnya atau makanan dari hasil yang haram, ini akan menjadikan seorang yang makan itu ada kekuatan tetapi untuk maksiat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makanya Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dan ulama-ulama yang lainnya menyebutkan tentang pengaruh makanan yang halal terhadap tubuh manusia berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Jika seseorang makan dari makanan yang halal kemudian dia menyebut nama Allah ketika memakannya, maka makanan-makanan itu akan menjadi kekuatan baginya dan dia terdorong untuk melaksanakan amal-amal kebaikan, amal-amal shalih.
Sebaliknya, seorang yang makan dari makanan yang haram kemudian ada kekuatan dalam dirinya, namun makan yang haram ini mendorong dia untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makanya Allah perintahkan kepada para Nabi dan kaum mukminin untuk makan yang baik dan halal, jangan sampai memakan makanan yang haram. Orang-orang yang makan riba, itu juga berpengaruh dalam dirinya, pengaruh pada tubuhnya dan perbuatan-perbuatannya. Semakin banyak seseorang memakan riba, dia semakin kuat untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.
Baca juga: Mengapa Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Disebut Seperti Puasa Setahun Penuh? Begini Penjelasannya
Wallahu A'lam
Ini menunjukkan bahwa setan ketika ada makanan jatuh dan dibiarkan maka akan dimakan oleh setan. Setan tidak bisa mengambil makanan atau ikut serta dalam makanan kita kalau kita membaca Bismillah.
وَلا يمسَحْ يَدهُ بِالمِنْدِيلِ حتَّى يَلعقَ أَصَابِعَهُ
“Dan jangan dia membersihkan tangannya dengan sapu tangan atau dengan tisu, hingga dia menjilati jari jemarinya yang digunakan untuk makan itu (tangan kanannya).”
Apa alasannya? Yaitu karena dia tidak mengetahui pada bagian makanan manakah terdapat keberkahan. Jadi kita menghabiskan makanan itu untuk mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanan yang berkah dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila masuk dalam tubuh seseorang akan menjadi kekuatan baginya untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya, makanan yang tidak ada berkahnya atau makanan dari hasil yang haram, ini akan menjadikan seorang yang makan itu ada kekuatan tetapi untuk maksiat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makanya Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dan ulama-ulama yang lainnya menyebutkan tentang pengaruh makanan yang halal terhadap tubuh manusia berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Jika seseorang makan dari makanan yang halal kemudian dia menyebut nama Allah ketika memakannya, maka makanan-makanan itu akan menjadi kekuatan baginya dan dia terdorong untuk melaksanakan amal-amal kebaikan, amal-amal shalih.
Sebaliknya, seorang yang makan dari makanan yang haram kemudian ada kekuatan dalam dirinya, namun makan yang haram ini mendorong dia untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Makanya Allah perintahkan kepada para Nabi dan kaum mukminin untuk makan yang baik dan halal, jangan sampai memakan makanan yang haram. Orang-orang yang makan riba, itu juga berpengaruh dalam dirinya, pengaruh pada tubuhnya dan perbuatan-perbuatannya. Semakin banyak seseorang memakan riba, dia semakin kuat untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.
Baca juga: Mengapa Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Disebut Seperti Puasa Setahun Penuh? Begini Penjelasannya
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :