Merajut Rekonsiliasi di Bulan Suci Ramadan, Ormas Keagamaan Berperan Penting
Sabtu, 30 Maret 2024 - 20:57 WIB
loading...
Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi menjelaskan para tokoh agama memegang peran penting dalam membina rekonsiliasi pasca Pemilu 2024. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Bulan suci Ramadan menjadi momen penuh berkah bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa dan waktu yang tepat untuk merekatkan kembali persatuan lintas agama dan masyarakat pasca Pemilu 2024.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi menjelaskan bahwa para tokoh agama memegang peran penting dalam membina rekonsiliasi.
Baca juga: Inilah Beragam Julukan untuk Bulan Suci Ramadan
Ulama yang akrab dengan sapaan Gus Fahrur ini, menyoroti peran strategis ormas keagamaan dalam menenangkan emosi masyarakat pasca Pemilu.
Dengan memiliki pengikut yang loyal, ormas keagamaan memiliki potensi besar untuk membawa pesan rekonsiliasi dan moderasi kepada massa.
“Ormas (organisasi masyarakat) memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan rekonsiliasi, karena biasanya mereka mempunyai pengikut-pengikut yang sangat loyal. Selain itu, berbagai ormas biasanya mempunyai pimpinan yang juga menjadi patron (figur yang diteladani) di dalamnya,” kata Gus Fahrur dikutip Sabtu (30/3).
Dirinya menambahkan, melalui sikap yang moderat dari para pimpinan ormas dan adanya keinginan untuk terus merajut persaudaraan sesama anak bangsa, tentunya akan sangat efektif untuk meredam emosi-emosi yang kemarin timbul karena efek dari kampanye politik.
Baca juga: 10 Ceramah Singkat Ramadan yang Menyentuh Hati dan Memperdalam Makna Bulan Suci
Menurut Gus Fahrur, kondisi Indonesia akan menjadi lebih baik jika efek dari kontestasi Pemilu 2024, yang mungkin bisa membuat gesekan horizontal dan suasana yang cenderung panas bisa segera mereda.
Sebagai upaya stabilisasi kondisi sosial dan politik, sikap moderat dari pimpinan ormas, seruan, dan semangat untuk merajut persaudaraan dianggap sebagai langkah efektif untuk meredam ketegangan dan emosi negatif yang muncul selama masa kampanye dan kontestasi politik.
Namun, di tengah upaya meraih rekonsiliasi, Gus Fahrur juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah adanya fanatisme di antara para tokoh dan pendukung politik yang cenderung memicu konflik.
Menurutnya, fanatisme tersebut perlu dinetralisir dengan mengingatkan bahwa pemilu hanyalah alat untuk memilih, bukan untuk memecah belah bangsa.
Pentingnya kesadaran bahwa tujuan utama adalah membangun negeri ini lebih baik menjadi poin kunci dalam memperkuat rekonsiliasi.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Dr KH Ahmad Fahrur Rozi menjelaskan bahwa para tokoh agama memegang peran penting dalam membina rekonsiliasi.
Baca juga: Inilah Beragam Julukan untuk Bulan Suci Ramadan
Ulama yang akrab dengan sapaan Gus Fahrur ini, menyoroti peran strategis ormas keagamaan dalam menenangkan emosi masyarakat pasca Pemilu.
Dengan memiliki pengikut yang loyal, ormas keagamaan memiliki potensi besar untuk membawa pesan rekonsiliasi dan moderasi kepada massa.
“Ormas (organisasi masyarakat) memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan rekonsiliasi, karena biasanya mereka mempunyai pengikut-pengikut yang sangat loyal. Selain itu, berbagai ormas biasanya mempunyai pimpinan yang juga menjadi patron (figur yang diteladani) di dalamnya,” kata Gus Fahrur dikutip Sabtu (30/3).
Dirinya menambahkan, melalui sikap yang moderat dari para pimpinan ormas dan adanya keinginan untuk terus merajut persaudaraan sesama anak bangsa, tentunya akan sangat efektif untuk meredam emosi-emosi yang kemarin timbul karena efek dari kampanye politik.
Baca juga: 10 Ceramah Singkat Ramadan yang Menyentuh Hati dan Memperdalam Makna Bulan Suci
Menurut Gus Fahrur, kondisi Indonesia akan menjadi lebih baik jika efek dari kontestasi Pemilu 2024, yang mungkin bisa membuat gesekan horizontal dan suasana yang cenderung panas bisa segera mereda.
Sebagai upaya stabilisasi kondisi sosial dan politik, sikap moderat dari pimpinan ormas, seruan, dan semangat untuk merajut persaudaraan dianggap sebagai langkah efektif untuk meredam ketegangan dan emosi negatif yang muncul selama masa kampanye dan kontestasi politik.
Namun, di tengah upaya meraih rekonsiliasi, Gus Fahrur juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah adanya fanatisme di antara para tokoh dan pendukung politik yang cenderung memicu konflik.
Menurutnya, fanatisme tersebut perlu dinetralisir dengan mengingatkan bahwa pemilu hanyalah alat untuk memilih, bukan untuk memecah belah bangsa.
Pentingnya kesadaran bahwa tujuan utama adalah membangun negeri ini lebih baik menjadi poin kunci dalam memperkuat rekonsiliasi.
Lihat Juga :