Kisah Khalifah Al-Manshur, Tumpas Pemberontakan Keturunan Ali Bin Abu Thalib

Selasa, 17 Mei 2022 - 17:15 WIB
loading...
A A A
Isa adalah pemimpin tertinggi dalam misi memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Muhammad dan Ibrahim, serta menghancurkan kekuatan para pendukung keturunan Ali bin Abi Thalib. Namun balasan atas kemenangan yang sudah diraihnya, justru pencopotan kedudukannya dari posisi sebagai putra mahkota.

Setelah berhasil menggeser posisi Isa bin Musa, Al Manshur mengangkat putranya yang bernama Al-Mahdi sebagai putra mahkota.

Pada tahun 148 H, semua kerajaan kecil telah berada di bawah kendali Al-Manshur. Saat itulah dia menjadi pemimpin yang disegani dan menebarkan kharisma yang luar biasa. Kota-kota besar tunduk di bawah kekuasaannya, dan menyatakan kesetiaannya. Tidak ada wilayah Islam yang memisahkan diri, kecuali Andalusia yang ketika itu dikuasai oleh Dinasti Umayyah II yang didirkan Abdurrahman bin Mu’awiyah. Namun Abdurrahman dan keturunannya tidak pernah menyebut dirinya Amirul Mukminin, melainkan “Amir” saja. Layaknya panggilan gubernur di wilayah.

Selain capaian-capaian besar di bidang politik, berdasarkan catatan sejarah, pada masa pemerintahan Al-Manshur inilah dimulainya penulisan hadis-hadis Rasulullah SAW, pengumpulan khazanah Islam, serta membuat standar acuan pemikiran Islam di bidang fiqih dan tafsir. Kebijakan ini didorong oleh maraknya paham-paham baru yang dianggap sesat oleh khalifah, dan dirasa mengancam otentisitas agama.

Baca juga: Kisah Perjuangan Kader-Kader Abbasiyah, Ada yang Dimutilasi Lalu Disalib

Abul A’la Al-Maududi menyebut salah satu yang cukup terkenal, adalah lahirnya sekte Rawandiyah yang menganuh paham reinkarnasi. Sekte ini berhasil ditumpas oleh Al-Manshur. Namun yang kemudian terjadi, justru semakin banyak bermunculan pemikiran menyimpang dari tuntunan Al-Quran dan al Sunnah. Akibatnya, menurut al Maududi, kejahatan merajarela. Dampaknya tidak hanya pada penyebarluasan kerusakan akhlak atau akidah saja, tapi juga berhasil mencabik-cabik persatuan masyarakat dan negara Islam sehingga mejadi terpecah berkeping-keping.

Atas dasar itu, menurut Imam as Suyuthi mengutip Adz-Dzahabi berkata, bahwa pada tahun 143 H, para ulama memulai penulisan hadis-hadis Rasulullah, fiqih, dan tafsir. Waktu itu Ibnu Juraij menulis di Mekkah, Malik (bin Anas) di Madinah, Al-Auzai di Suriah, Ibnu Abi Arubah, Hammad bin Salamah, dan koleganya menulis di Basrah, Ma’mar menulis di Yaman, Sufyan Ats-Tsauri di Kufah. Ibnu Ishaq saat itu menulis kitab Al-Maghazi, Imam Abu Hanifah menulis masalah fiqih. Tak lama setelah itu Hasyim, Al-Laits, dan Ibnu Lahi’ah melakukan tindakan yang sama. Disusul oleh Ibnu Mubarak, Abu Yusuf dan Ibnu Wahab.

Dengan kata lain, pada masa ini ilmu-ilmu keislaman berkembang pesat. Bahasan-bahasan tentang bahasa Arab mulai dibukukan, demikian pula sejarah dan kehidupan bangsa-bangsa. Sebelum masa ini, para imam/ulama bicara tentang ilmu berdasarkan hafalan di kepala mereka dan melihat ilmu dari mushaf-mushaf yang berlum terstruktur.

Hanya memang, patut juga dipertanyakan; munculnya gairah yang luar biasa dari para ulama tersebut, apakah benar karena adanya dorongan dari khalifah Al-Manshur, atau justru sebagai bentuk perlawanan dari sistem yang dikembangkan dari dalam istana sendiri? Karena sebagaimana menurut Al-Maududi, istana khalifah Abbasiyah adalah sumber dari semua kekacauan pemahaman agama Islam. Ketika itu, nyaris seluruh aparatur pemerintahan Al-Manshur diisi oleh non-Arab yang menganut paham anti-Arab (Shu’ubiyah).

Mengenai hal ini, Al-Maududi mengutip dari kitab Tarikh al-Wuzara karya Al-Jahsyiari, “Mengenai pejabat-pejabat Al-Manshur, kita akan mendapati bahwa hampir semua dari mereka adalah orang-orang non-Arab, yang dengan segenap otoritas di tangannya secara aktif menyebarkan paham shu’ubiyah di mana-mana. Gerakan ini pada awalnya dimulai dengan pengertian bahwa ‘tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa ajam (non-arab).’ Namun segera setelah itu ia diwarnai dengan paham anti-Arab, sehingga banyak buku tebal dikarang orang untuk merendahkan bangsa Arab, bahkan menjelek-jelekan suku Quraisy secara keseluruhan. Tapi yang jauh lebih berbahaya dari itu, gerakan ini telah membawa virus-virus kaum zindiq, atheisme, dan permisivisme (keserbabolehan).”

Baca juga: Konflik Politik Berdarah dan Tradisi Pembunuhan Khalifah Dinasti Abbasiyah

Dari sini, kita bisa menduga, meningkatnya gerakan para ulama membukukan serta mensistematisasi pokok-pokok ajaran agama, adalah bentuk lain dari metode perlawanan terhadap prilaku penguasa dan aparaturnya. Lagi pula, sebagaimana kemudian terjadi, para ulama-ulama terkemuka yang tadi disebut oleh As Suyuthi umumnya dibunuh dan disiksa oleh Al-Manshur. Diantaranya Abu Hanifah (Imam mahzab Hanafi), Abdul Hamid ibn Ja’far, Ibnu Ajian, dan Imam Malik bin Anas (Imam Mahzab Maliki). Salah satu alasan dihukumnya Imam Malik bin Anas, karena dia memperbolehkan pemberontakan terhadap pemerintahan Al-Manshur. Pada saat ditanyakan kepadanya, “bukankah kita terikat bai’at pada Al-Manshur?’ dia menjawab, “Kalian membaiatnya dengan terpaksa dan sumpah orang-orang yang terpaksa tidak terkena denda.”

Bahkan di akhir-akhir masa pemerintahannya, sekitar tahun 158 H, Al-Manshur masih sempat menginstruksikan kepada pejabatnya di Mekkah untuk memenjarakan Sufyan Ats-Tsauri dan Abbas bin Katsir. Keputusan apa yang akan dilakukan kepada kedua orang ulama itu, masih menunggu Al-Manshur tiba di Mekkah. Ketika itu adalah musim haji. Orang-orang khawatir kedua ulama itu akan dibunuh oleh Al-Manshur sembari menunaikan ibadah haji. Tapi rupanya Allah SWT tidak memberi kesempatan pada Al-Manshur untuk sampai ke Mekkah. Karena dia keburu wafat dalam perjalanan.

Baca juga: Muhammad bin Ali, Arsitek Dinasti Abbasiyah yang Kampanyekan Ahlul Bait
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Sejarah Kiswah Kakbah:...
Sejarah Kiswah Kakbah: Dari Beragam Warna hingga Hitam yang Mendunia
Dibangun Lebih dari...
Dibangun Lebih dari Rp1.500 Triliun! 20 Fakta Menakjubkan Masjidil Haram
Jejak Para Singa Allah:...
Jejak Para Singa Allah: Deretan Panglima Perang Terhebat dalam Sejarah Islam
Inilah Penyebab Utama...
Inilah Penyebab Utama Iran Menjadi Negara Syiah
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Rekomendasi
Afrika Mulai Terbagi...
Afrika Mulai Terbagi Menjadi Dua dan Membentuk Samudra Keenam di Bumi
Abu Rahyan alias Al-Biruni,...
Abu Rahyan alias Al-Biruni, Ilmuwan Jenius yang Dikagumi Dunia Barat
Teliti Mukjizat Nabi...
Teliti Mukjizat Nabi Musa, Terungkap Fenomena Alam Langka yang Membinasakan Firaun
Artikel Terkini
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Malam 1 Suro dan Muharram:...
Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Samakah 1 Muharram dengan...
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved