Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak

Selasa, 24 Mei 2022 - 17:30 WIB
loading...
A A A
Mendengar ini, Yahya bin Abdullah bin Hasan (paman dari Hasan bin Muhammad bin Abdullah) langsung bereaksi. Dia bersumpah tidak akan tidur sebelum membawa Hasan bin Muhammad ke hadapan Umar secepatnya.

Mendengar sumpah dari Yahya, Umar pun pergi. Tapi setelah itu, Husein bin Ali protes. Bagaimana mungkin Yahya bersumpah untuk sesuatu yang dia tidak bisa penuhi? Karena mereka pun tidak mengetahui di mana sebenarnya Hasan bin Muhammad berada. Maka terjadilah perdebatan di antara mereka. Hingga akhirnya, mereka tidak melihat jalan lain, kecuali dua; mereka akan dihukum mati, atau melawan. Mereka memilih yang kedua.

Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Taklukkan Konstantinopel, Harun Al-Rasyid Jadi Bintang Abbasiyah

Husein bin Ali dan Yahya bin Muhammad melihat bahwa tidak ada jalan lain bagi mereka selain melakukan perlawanan. Maka mereka pun mengumpulkan para pengikutnya, termasuk beberapa anak keturunan Ali bin Abi Thalib yang lain.

Mereka mendeklarasikan revolusi, dan membaiat Husein bin Ali sebagai pemimpin mereka. Kota Madinah menjadi gempar karena masalah ini. Kelompok Husein bin Ali kemudian menyerang kediaman Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, tapi dia tidak ada di sana. Akhirnya mereka pun mengambil alih sepenuhnya Kota Madinah.

Hanya saja, sebagian sejarawan menilai agak janggal bila penyebab pemberontakan tersebut hanya dipicu masalah minuman (nabidb). Ada yang berpendapat motif utama revolusi tersebut disebabkan karena kekecewaan anak keturuan Ali pada kebijakan Al-Hadi yang mendepak sejumlah tokoh mereka dari dinas pemerintahan yang dulunya diangkat oleh Al-Mahdi.

Hanya saja, jarak antara pengangkatan Al-Hadi dengan meletusnya revolusi ini terlalu dekat, bahkan hampir bersamaan, yaitu sekitar akhir bulan Muharram 169 H.

Dengan demikian, bisa diduga bahwa di akhir masa pemerintahannya, Al-Mahdi telah mengubah sebagian kebijakannya, dan secara perlahan menyingkirkan anak keturunan Ali bin Abi Thalib dari posisinya. Inilah yang melahirkan benih-benih pemberontakan. Adapun peristiwa yang menimpa Hasan bin Muhammad bin Abdullah adalah faktor pemicu pecahnya pemberontakan tersebut.

Kembali pada pemberontakan Husein bin Ali. Setelah menguasai Kota Madinah, mereka segera menggalang dukungan di Mina dan Mekkah. Husein menyatakan dalam pidatonya, bahwa bagi para budak yang memutuskan bergabung dalam gerakannya, maka mereka akan diberi kemerdekaan. Tak ayal dukungan pun berdatangan dari berbagai lapisan masyarakat.

Para prajurit Abbasiyah mulai mengorganisasi diri menghadapi ancaman ini. Mereka kemudian menyerang Madinah, tapi kekuatan mereka bisa segera dipatahkan. Beberapa tokoh Bani Abbas tewas dalam serangan pertama ini. Hal ini memancing perhatian serius dari Al-Hadi.

Singkat cerita, pemberontakan ini berlangsung selama hampir setahun, dan sempat sangat merepotkan pemerintahan Abbasiyah. Hingga akhirnya, pada bulan Dzulhijjah 169 H, anggota keluarga Bani Abbas berdatangan untuk menuaikan ibadah haji.

Kala itu tanah suci sudah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Husein bin Ali dan anak keturunan Ali bin Abi Thalib lainnya. Al-Hadi memerintahkan kepada pamannya yang bernama Muhammad bin Sulaiman (sepupu As-Saffah dan Al-Manshur) memimpin jamaah haji. Tapi sebelum itu, dia memerintakan agar terlebih dahulu memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh anak keturunan Ali. Maka mereka pun menyiapkan pasukan.

Baca juga: Kisah Khalifah Abu al-Abbas: Orang yang Gemar Menumpahkan Darah

Pertempuran antara dua kekuatan ini berlangsung di tempat bernama Fakhkh, sebuah daerah di dekat Mekkah. Pertempuran ini terjadi di malam hari atau menjelang subuh. Dalam pertempuran tersebut, masing-masing pasukan tidak melihat jelas siapa musuhnya. Mereka mengorganisiasi diri dengan sistem formasi yang ketat.

Dalam perempuran ini, pasukan Abbasiyah diiming-imingi hadiah 500 dirham untuk setiap kepala pemberontak. Merekapun bersemangat. Hingga akhirnya mereka berhasil mengunci lawannya, dan membantai mereka semua.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Sejarah Kiswah Kakbah:...
Sejarah Kiswah Kakbah: Dari Beragam Warna hingga Hitam yang Mendunia
Dibangun Lebih dari...
Dibangun Lebih dari Rp1.500 Triliun! 20 Fakta Menakjubkan Masjidil Haram
Jejak Para Singa Allah:...
Jejak Para Singa Allah: Deretan Panglima Perang Terhebat dalam Sejarah Islam
Inilah Penyebab Utama...
Inilah Penyebab Utama Iran Menjadi Negara Syiah
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Rekomendasi
Kebakaran Hutan di Yunani...
Kebakaran Hutan di Yunani Terus Meluas Akibat Cuaca Panas
Arkeolog Yakin Suku...
Arkeolog Yakin Suku Indian Kuno Saksi Kedahsyatan Banjir Besar di Zaman Nabi Nuh
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Artikel Terkini
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved