Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak
Selasa, 24 Mei 2022 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Satu per satu kepala korban mereka di penggal, lalu dibawa ke hadapan Muhammad bin Sulaiman. Dan betapa kagetnya mereka, ternyata di antara kepala-kepala yang dipersembahkan itu ada kepala Husein bin Ali. Dengan demikian pemberontakan itupun selesai dengan sendirinya.
Setelah berhasil menghancurkan kekuatan inti pemberontak dan membunuh pimpinanannya, pasukan Abbasiyah memasuki kota Mekkah dan mengultimatum para pendukung Husein bin Ali agar menyerah. Tapi mereka menolak, lalu terjadilah pembantaian besar-besaran di tempat tersebut.
Pasukan Abbasiyah memburu anak keturunan Ali bin Thalib yang lainnya. Tidak hanya di Mekkah, ketika kisah kekalahan Husein bin Ali sampai ke Madinah, Umar bin Abdul Aziz segera memerintahkan anak buahnya menyerang semua anggota keluarga Ali bin Abi Thalib, dan merampas properti mereka, serta membakar kebun-kebun kurma milik mereka.
Merasa terancam, sebagian anak keturunan Ali bin Abi Thalib ini memilih melarikan diri. Salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri adalah Idris bin Abdullah bin Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dia adalah adik tiri dari Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang melakukan pemberontakan pada era Al-Manshur.
Menurut Tabari, Idris bin Abdullah berhasil melarikan dari dari kejaran pasukan Al-Hadi. Dia kemudian pergi ke Mesir. Di sana dia mendapatkan bantuan dari tokoh setempat, dan kemudian melarikan diri lebih jauh ke daerah Maroko. Di sana kelak dia mendirikan sebuah identitas politik yang dikenal dengan Dinasti Idrisiyah.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Kaum Zindiq
Dalam buku The History of al-Tabari dikisahkan, Al-Hadi diwasiatkan ayahnya agar meneruskan upaya pemurnian agama, dan membasmi kaum zindiq. Dia pun mematuhi perintah ini. Tapi sayangnya, dia tidak melakukannya dengan cara yang cerdik seperti ayahnya.
Dia menjawab permintaan ini dengan cara yang sangat brutal. Selama masa pemerintahannya, kaum zindiq diburu lalu dieksekusi mati. Bahkan mereka yang terindikasi menyimpang dari agama pun dieksekusi mati olehnya.
Al-Tabari berkisah, suatu hari seorang bernama Yazdan bin Badhan, terdengar mencela orang-orang yang sedang tawaf mengelilingi Kakbah. Seseorang kemudian melaporkan hal ini kepada Al-Hadi. Yazdan pun langsung dihukum mati, demikian juga dengan beberapa orang yang bersama dan diindikasikan menyetujui ucapan Yazdan.
Imam As-Suyuthi dalam buku berjudul "Tarikh Khulafa’, Sejarah Para Khalifah" mengisahkan dengan riwayat dari Ash-Shuli:
"Suatu hari kami menemui Al-Hadi sebagai saksi untuk seorang lelaki yang mencela seorang Quraisy hingga dia menyebutkan Rasulullah. Lalu Al-Hadi menempatkan kami dalam suatu majelis yang dihadiri oleh para ahli fikih zaman itu."
"Dia menghadirkan orang tadi lalu memberi kesaksian. Kami melihat wajah Al-Hadi berubah. Dia menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya kembali seraya berkata: ’Aku mendengar ayahku, Al-Mahdi, meriwayatkan hadist dari ayahnya Al-Manshur, dari ayahnya Muhammad, dari ayahnya Ali, dari ayahnya Abdullah bin Abbas, dia berkata: ’siapa yang merendahkan orang-orang Quraisy, dia akan merendahkan Allah.’ Adapun engkau, hai musuh Allah, engkau tidak rela pada orang-orang Quraisy saja hingga sampai menyebut nama Nabi. Penggal kepalanya!”
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Manshur, Tumpas Pemberontakan Keturunan Ali Bin Abu Thalib
Setelah berhasil menghancurkan kekuatan inti pemberontak dan membunuh pimpinanannya, pasukan Abbasiyah memasuki kota Mekkah dan mengultimatum para pendukung Husein bin Ali agar menyerah. Tapi mereka menolak, lalu terjadilah pembantaian besar-besaran di tempat tersebut.
Pasukan Abbasiyah memburu anak keturunan Ali bin Thalib yang lainnya. Tidak hanya di Mekkah, ketika kisah kekalahan Husein bin Ali sampai ke Madinah, Umar bin Abdul Aziz segera memerintahkan anak buahnya menyerang semua anggota keluarga Ali bin Abi Thalib, dan merampas properti mereka, serta membakar kebun-kebun kurma milik mereka.
Merasa terancam, sebagian anak keturunan Ali bin Abi Thalib ini memilih melarikan diri. Salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri adalah Idris bin Abdullah bin Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dia adalah adik tiri dari Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang melakukan pemberontakan pada era Al-Manshur.
Menurut Tabari, Idris bin Abdullah berhasil melarikan dari dari kejaran pasukan Al-Hadi. Dia kemudian pergi ke Mesir. Di sana dia mendapatkan bantuan dari tokoh setempat, dan kemudian melarikan diri lebih jauh ke daerah Maroko. Di sana kelak dia mendirikan sebuah identitas politik yang dikenal dengan Dinasti Idrisiyah.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Kaum Zindiq
Dalam buku The History of al-Tabari dikisahkan, Al-Hadi diwasiatkan ayahnya agar meneruskan upaya pemurnian agama, dan membasmi kaum zindiq. Dia pun mematuhi perintah ini. Tapi sayangnya, dia tidak melakukannya dengan cara yang cerdik seperti ayahnya.
Dia menjawab permintaan ini dengan cara yang sangat brutal. Selama masa pemerintahannya, kaum zindiq diburu lalu dieksekusi mati. Bahkan mereka yang terindikasi menyimpang dari agama pun dieksekusi mati olehnya.
Al-Tabari berkisah, suatu hari seorang bernama Yazdan bin Badhan, terdengar mencela orang-orang yang sedang tawaf mengelilingi Kakbah. Seseorang kemudian melaporkan hal ini kepada Al-Hadi. Yazdan pun langsung dihukum mati, demikian juga dengan beberapa orang yang bersama dan diindikasikan menyetujui ucapan Yazdan.
Imam As-Suyuthi dalam buku berjudul "Tarikh Khulafa’, Sejarah Para Khalifah" mengisahkan dengan riwayat dari Ash-Shuli:
"Suatu hari kami menemui Al-Hadi sebagai saksi untuk seorang lelaki yang mencela seorang Quraisy hingga dia menyebutkan Rasulullah. Lalu Al-Hadi menempatkan kami dalam suatu majelis yang dihadiri oleh para ahli fikih zaman itu."
"Dia menghadirkan orang tadi lalu memberi kesaksian. Kami melihat wajah Al-Hadi berubah. Dia menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya kembali seraya berkata: ’Aku mendengar ayahku, Al-Mahdi, meriwayatkan hadist dari ayahnya Al-Manshur, dari ayahnya Muhammad, dari ayahnya Ali, dari ayahnya Abdullah bin Abbas, dia berkata: ’siapa yang merendahkan orang-orang Quraisy, dia akan merendahkan Allah.’ Adapun engkau, hai musuh Allah, engkau tidak rela pada orang-orang Quraisy saja hingga sampai menyebut nama Nabi. Penggal kepalanya!”
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Manshur, Tumpas Pemberontakan Keturunan Ali Bin Abu Thalib
(mhy)
Lihat Juga :