Cinta kepada Allah Taala dan 4 Sebab Kecintaan Menurut Imam Ghazali
Senin, 30 Mei 2022 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Kecintaan ini mirip dengan cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di masa lampau, seperti Imam Malik dan Imam Syafi'i, meskipun kita tidak pernah mengharap untuk menerima keuntungan pribadi dari mereka.
Dan oleh karenanya, cinta ini merupakan jenis cinta yang lebih tak berpamrih.
Allah berfirman kepada Nabi Daud, "Abdi-Ku yang paling cinta kepada-Ku adalah yang tidak mencariku karena takut untuk dihukum atau berharap mendapatkan pahala, tetapi hanya demi membayar utangnya kepada Ketuhanan-Ku."
Di dalam Injil tertulis: "Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang menyembah-Ku karena takut neraka atau mengharapkan surga? Jika tidak Kuciptakan semuanya itu, tidak akan pantaskah Aku untuk disembah?"
Sebab keempat dari kecintaan ini adalah "persamaan" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri."
Lebih jauh lagi Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan lidahnya."
Juga Allah berfirman kepada Musa as: "Aku pernah sakit tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya berarti engkau telah mengunjungiKu."
Baca juga: 6 Hal yang Harus Dikerjakan dalam Perkawinan Menurut Imam Ghazali
Imam al-Ghazali menyadari ini adalah suatu masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini berada di balik pemahaman orang-orang awam.
Seseorang yang cerdas sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
Meskipun demikian, "persamaan" yang maujud di antara manusia dan Allah menghilangkan keberatan para ahli Ilmu Kalam yang telah disebutkan di atas itu, yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa mencintai suatu wujud yang bukan dari spesiesnya sendiri.
Betapa pun jauh jarak yang memisahkan mereka, manusia bisa mencintai Allah karena "persamaan" yang disyaratkan di dalam sabda Nabi: "Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya sendiri."
Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali
Dan oleh karenanya, cinta ini merupakan jenis cinta yang lebih tak berpamrih.
Allah berfirman kepada Nabi Daud, "Abdi-Ku yang paling cinta kepada-Ku adalah yang tidak mencariku karena takut untuk dihukum atau berharap mendapatkan pahala, tetapi hanya demi membayar utangnya kepada Ketuhanan-Ku."
Di dalam Injil tertulis: "Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang menyembah-Ku karena takut neraka atau mengharapkan surga? Jika tidak Kuciptakan semuanya itu, tidak akan pantaskah Aku untuk disembah?"
Sebab keempat dari kecintaan ini adalah "persamaan" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri."
Lebih jauh lagi Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan lidahnya."
Juga Allah berfirman kepada Musa as: "Aku pernah sakit tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya berarti engkau telah mengunjungiKu."
Baca juga: 6 Hal yang Harus Dikerjakan dalam Perkawinan Menurut Imam Ghazali
Imam al-Ghazali menyadari ini adalah suatu masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini berada di balik pemahaman orang-orang awam.
Seseorang yang cerdas sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
Meskipun demikian, "persamaan" yang maujud di antara manusia dan Allah menghilangkan keberatan para ahli Ilmu Kalam yang telah disebutkan di atas itu, yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa mencintai suatu wujud yang bukan dari spesiesnya sendiri.
Betapa pun jauh jarak yang memisahkan mereka, manusia bisa mencintai Allah karena "persamaan" yang disyaratkan di dalam sabda Nabi: "Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya sendiri."
Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :