Unsur Utama Taubat adalah Pengetahuan, Begini Penjelasan Syaikh Yusuf al-Qardhawi
Rabu, 08 Juni 2022 - 18:10 WIB
loading...
Imam Al-Ghazali menyebut ada tiga unsur taubat nasuha. Salah satunya adalah unsur pengetahuan dalam taubat. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Hakikat taubat yang diperintahkan Allah SWT bagi seluruh kaum mukminin agar mereka beruntung, serta memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha , terdiri dari beberapa unsur. Dan Imam Al Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" menyebut tiga unsur, yakni unsur pengetahuan dalam taubat, unsur hati dan keinginan, serta unsur sisi praktis dalam taubat.
Baca juga: Istighfar dan Doa Sayidul Istighfar Sesuai Sunnah Rasul
Pada ini kali kita bahas tentang unsur pengetahuan dalam taubat. Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "at Taubat Ila Allah" menjelaskan bahwa yang tampak dalam pengetahuan manusia akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya. Matanya terbuka sehingga ia dapat melihat kesalahannya itu. Melepaskan sumbatan dari telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam setiap kesempatan kembalinya diri kepada fitrahnya.
Saat itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan dirinya, mengapa ia mengikuti syetan, serta kerugiannya yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan mengikuti perilaku iblis dan tentaranya.
Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya, menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya ke mana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah kematiannya, tentang nikmat Allah yang demikian besar baginya, sikapnya terhadap nikmat-nikmat itu, tentang nikmat Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan dilaporkan kepada Allah.
Baca juga: Sayyidah Rabiah al-Adawiyah: Istighfar Kita Butuh Istighfar Lagi
Allah SWT akan menghidupkan cintanya dengan memberikan nikmat kepadaanya walaupun Allah SWT tidak butuh kepadanya.
Ia mendorong kemarahan Allah dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil mereka:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". ( QS az-Zumar : 53)
Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal, kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa itu.
Baca juga: Istighfar dan Doa Sayidul Istighfar Sesuai Sunnah Rasul
Pada ini kali kita bahas tentang unsur pengetahuan dalam taubat. Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "at Taubat Ila Allah" menjelaskan bahwa yang tampak dalam pengetahuan manusia akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya. Matanya terbuka sehingga ia dapat melihat kesalahannya itu. Melepaskan sumbatan dari telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam setiap kesempatan kembalinya diri kepada fitrahnya.
Saat itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan dirinya, mengapa ia mengikuti syetan, serta kerugiannya yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan mengikuti perilaku iblis dan tentaranya.
Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya, menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya ke mana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah kematiannya, tentang nikmat Allah yang demikian besar baginya, sikapnya terhadap nikmat-nikmat itu, tentang nikmat Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan dilaporkan kepada Allah.
Baca juga: Sayyidah Rabiah al-Adawiyah: Istighfar Kita Butuh Istighfar Lagi
Allah SWT akan menghidupkan cintanya dengan memberikan nikmat kepadaanya walaupun Allah SWT tidak butuh kepadanya.
Ia mendorong kemarahan Allah dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil mereka:
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". ( QS az-Zumar : 53)
Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal, kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa itu.
Lihat Juga :