Koreksi Syaikh Muhammad al-Ghazali terhadap Dakwah Islam
Rabu, 06 Juli 2022 - 16:49 WIB
loading...
Syaikh Muhammad al-Ghazali. (Foto/Ilustrasi/Ist)
A
A
A
Syaikh Muhammad al-Ghazali melemparkan sebuah pertanyaan retoris, apakah peranan yang dapat dimainkan oleh Islam pada diri para pemuda yang sangat kaku terhadap masyarakat Eropa dan Amerika?
Dalam bukunya yang berjudul "al-Da'wah al-Islamiyyah Tastaqbil Qarnaha al-Khamis 'Asyar", Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjawab sendiri pertanyaan itu. "Mereka mengenakan jubah putih, duduk di atas tanah, memakan makanan dengan tangan mereka kemudian membersihkan ujung jemari mereka dengan mulut," katanya.
Menurut pandangan mereka, begitulah petunjuk dari Rasulullah SAW yang mulia tentang cara makan, dan sunnah yang harus mereka lakukan sebagai upaya penentangan Islam terhadap orang-orang Barat.
Baca juga: Syaikh Muhammad al-Ghazali: Iman itu Ada 60 Macam Lebih atau 70 Cabang Lebih
Apakah itu tata cara makan yang diajarkan oleh Islam?
Syaikh Muhammad justru bertanya, ketika orang-orang Eropa melihat seorang lelaki yang hendak minum, mengambil gelas, kemudian dia duduk --sebelum itu dia berdiri-- untuk mengikuti tata cara minum, apakah pemandangan yang aneh ini yang menarik hati mereka untuk masuk Islam?
"Mengapa perkara-perkara yang remeh ini ditampilkan padahal perkara ini malah dapat menghalangi jalan Allah, dan menampilkan Islam dengan cara seperti itu akan lebih menggambarkan Islam berwajah garang?" ujarnya.
Sesungguhnya dakwah kepada Islam, menurutnya, tidak menerima perkara-perkara khilafiyah walaupun hal itu dianggap sangat penting oleh sebagian juru dakwah.
Syaikh Muhammad al-Ghazali berpendapat makan di atas tanah, atau makan dengan tangan merupakan masalah biasa dan bukan masalah ibadah. Itulah yang mereka tampilkan sebagai wajah Islam. Kemudian meletakkan tutup wajah di muka perempuan adalah perkara yang masih diterima dan ditolak, dan jangan dijadikan hal itu sebagai penampilan agama Allah kepada para hamba-Nya.
Baca juga: Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Dalam bukunya yang berjudul "al-Da'wah al-Islamiyyah Tastaqbil Qarnaha al-Khamis 'Asyar", Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjawab sendiri pertanyaan itu. "Mereka mengenakan jubah putih, duduk di atas tanah, memakan makanan dengan tangan mereka kemudian membersihkan ujung jemari mereka dengan mulut," katanya.
Menurut pandangan mereka, begitulah petunjuk dari Rasulullah SAW yang mulia tentang cara makan, dan sunnah yang harus mereka lakukan sebagai upaya penentangan Islam terhadap orang-orang Barat.
Baca juga: Syaikh Muhammad al-Ghazali: Iman itu Ada 60 Macam Lebih atau 70 Cabang Lebih
Apakah itu tata cara makan yang diajarkan oleh Islam?
Syaikh Muhammad justru bertanya, ketika orang-orang Eropa melihat seorang lelaki yang hendak minum, mengambil gelas, kemudian dia duduk --sebelum itu dia berdiri-- untuk mengikuti tata cara minum, apakah pemandangan yang aneh ini yang menarik hati mereka untuk masuk Islam?
"Mengapa perkara-perkara yang remeh ini ditampilkan padahal perkara ini malah dapat menghalangi jalan Allah, dan menampilkan Islam dengan cara seperti itu akan lebih menggambarkan Islam berwajah garang?" ujarnya.
Sesungguhnya dakwah kepada Islam, menurutnya, tidak menerima perkara-perkara khilafiyah walaupun hal itu dianggap sangat penting oleh sebagian juru dakwah.
Syaikh Muhammad al-Ghazali berpendapat makan di atas tanah, atau makan dengan tangan merupakan masalah biasa dan bukan masalah ibadah. Itulah yang mereka tampilkan sebagai wajah Islam. Kemudian meletakkan tutup wajah di muka perempuan adalah perkara yang masih diterima dan ditolak, dan jangan dijadikan hal itu sebagai penampilan agama Allah kepada para hamba-Nya.
Baca juga: Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Lihat Juga :