Abu Nawas Bikin Sensasi Agar Dipanggil Baginda
Minggu, 28 Juni 2020 - 12:35 WIB
loading...
A
A
A
“Gila benar engkau!” bentak khalifah makin meninggikan suaranya. (Baca juga: Urusan Pusar ke Bawah Sampai Cara Membagi Telur Gaya Abu Nawas )
“Jangan marah dulu wahai khalifah, dengarkan dulu keterangan saya,” kata Abu Nawas mencoba menguasai situasi.
“Keterangan apa yang ingin engkau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku membela dan bukan membenci perkara yang haq, kamu harus tahu itu!” ujar khalifah. (Baca juga: Abu Nawas, Abu Wardah, dan Seorang Pengemis )
Tak ayal, teriakan Abu Nawas membuat geger seisi pasar, yang memang penduduk muslim taat.
“Tuan, setiap ada orang yang membacakan talqin saya selalu mendengar bahwa mati itu haq dan neraka itu haq. Nah siapakah orangnya yang tak membenci mati dan neraka yang haq itu? Tidakkah khalifah juga membencinya seperti aku?” ujar Abu Nawas menjelaskan.
Khalifah terdiam. Ia analisa pelan-pelan apa yang diucapkan Abu Nawas. “Ya. Tentu saja. Kematian dan neraka adalah yang haq,” ujar khalifah mengangguk-angguk.
“Tapi, bagaimana dengan pernyataanmu yang menyukai fitnah?” tanya sang khalifah menyelidik.(Baca juga: Lapar Banget, Abu Nawas Membeli Semerbak Bau Masakan )
“Bukan hanya saya. Khalifah juga menyukai fitnah," jawab Abu Nawas. "Khalifah barangkali lupa bahwa di dalam Al-Qur'an disebutkan, bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal khalifah juga menyenangi harta dan anak-anak seperti halnya saya. Benar begitu khalifah?” lanjut Abu Nawas.
Sekali lagi Khalifah mengaggung-angguk. “Ya, memang begitu," ujarnya membernarkan.
"Lalu, mengapa kau mengatakan lebih kaya dibanding Allah yang Mahakaya?” desak khalifah Harun al-Rasyid kemadian.
“Jangan marah dulu wahai khalifah, dengarkan dulu keterangan saya,” kata Abu Nawas mencoba menguasai situasi.
“Keterangan apa yang ingin engkau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku membela dan bukan membenci perkara yang haq, kamu harus tahu itu!” ujar khalifah. (Baca juga: Abu Nawas, Abu Wardah, dan Seorang Pengemis )
Tak ayal, teriakan Abu Nawas membuat geger seisi pasar, yang memang penduduk muslim taat.
“Tuan, setiap ada orang yang membacakan talqin saya selalu mendengar bahwa mati itu haq dan neraka itu haq. Nah siapakah orangnya yang tak membenci mati dan neraka yang haq itu? Tidakkah khalifah juga membencinya seperti aku?” ujar Abu Nawas menjelaskan.
Khalifah terdiam. Ia analisa pelan-pelan apa yang diucapkan Abu Nawas. “Ya. Tentu saja. Kematian dan neraka adalah yang haq,” ujar khalifah mengangguk-angguk.
“Tapi, bagaimana dengan pernyataanmu yang menyukai fitnah?” tanya sang khalifah menyelidik.(Baca juga: Lapar Banget, Abu Nawas Membeli Semerbak Bau Masakan )
“Bukan hanya saya. Khalifah juga menyukai fitnah," jawab Abu Nawas. "Khalifah barangkali lupa bahwa di dalam Al-Qur'an disebutkan, bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal khalifah juga menyenangi harta dan anak-anak seperti halnya saya. Benar begitu khalifah?” lanjut Abu Nawas.
Sekali lagi Khalifah mengaggung-angguk. “Ya, memang begitu," ujarnya membernarkan.
"Lalu, mengapa kau mengatakan lebih kaya dibanding Allah yang Mahakaya?” desak khalifah Harun al-Rasyid kemadian.
Lihat Juga :