Kebohongan Paling Berbahaya Adalah Dusta pada Diri Sendiri, Istifti Qalbak!
Kamis, 04 Agustus 2022 - 21:56 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Tulisan yang sama pernah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu. Tapi mengingatkan "Adz-Dzikra" itu selalu bermanfaat bagi yang punya iman (lil-mikminin) maka saya angkat kembali. Maklum kebohongan yang paling berbahaya adalah ketika sudah terjadi kebohongan pada diri sendiri.
Kita sepenuhnya sadar jika sekeliling hidup manusia itu, selain banyak menipu dan sangat keras (hard), juga terkadang kejam (harsh). Saking menipu dan kerasnya seringkali warna warni kehidupan disulap terbolak balik.
Yang hitam bisa jadi putih. Yang putih bisa jadi hitam. Dan manusia begitu lemah mengekor kepada warna yang direkayasa sesuai kecenderungan hawa nafsunya.
Di sinilah Islam hadir memberikan solusi. Minimal ada tiga tingkatan solusi untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan menjadi korban kerasnya rekayasa warna hidup, yang kadang berujung pada tendensi kemunafikan itu.
Pertama, bersikap bagaikan pohon subur yang akarnya menghujam kuat ke dalam tanah. كشجرة طيبة اصلها ثابت. Sebuah ilustrasi bahwa orang beriman itu tidaklah mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Tidak saja kuat Tapi juga subur dan memberikan buah-buah segarnya.
Kedua, Islam mengajarkan istiqamah atau konsistensi dalam warna iman kita sendiri. Pujian dan janji Allah kepada orang yang beriman (قالوا ربنا الله) lalu istiqamah (ثم استقاموا) bahwa mereka akan mendapatkan ketenangan hidup dunia akhirat. Bahkan bacaan kita: اهدنا الصراط المستقيم (tunjuki kami ke jalan yang lurus) bermakna antara lain "kuatkan kami untuk istiqamah" atau konsisten di jalan kebenaran.
Ketiga, Islam tidak saja mengajarkan orang-orang beriman untuk solid dan konsisten dalam kebenaran. Tapi lebih dari itu memerintahkan mereka untuk menjadi agen perubahan. Ajaran "amar ma'ruf nahi mungkar" bermakna antara lain agar umat ini harus berjuang untuk membentuk keadaan dan jangan dibentuk oleh keadaan.
Tapi ada masa-masa di mana manusia lemah. Sering mengalami kegalauan akibat kerasnya alam sekitar. Apalagi di saat-saat ketika kecenderungan beragama itu mengikut arus emosi sesaat atau kepentingan sesaat. Terlebih lagi di saat kelemahan itu didukung oleh fitnah yang merajalela di mana-mana.
Di saat-saat seperti itulah kita diingatkan sebuah pesan Rasulullah SAW yang mengatakan: استفت قلبك (mintalah fatwa kepada hatimu).
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Tulisan yang sama pernah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu. Tapi mengingatkan "Adz-Dzikra" itu selalu bermanfaat bagi yang punya iman (lil-mikminin) maka saya angkat kembali. Maklum kebohongan yang paling berbahaya adalah ketika sudah terjadi kebohongan pada diri sendiri.
Kita sepenuhnya sadar jika sekeliling hidup manusia itu, selain banyak menipu dan sangat keras (hard), juga terkadang kejam (harsh). Saking menipu dan kerasnya seringkali warna warni kehidupan disulap terbolak balik.
Yang hitam bisa jadi putih. Yang putih bisa jadi hitam. Dan manusia begitu lemah mengekor kepada warna yang direkayasa sesuai kecenderungan hawa nafsunya.
Di sinilah Islam hadir memberikan solusi. Minimal ada tiga tingkatan solusi untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan menjadi korban kerasnya rekayasa warna hidup, yang kadang berujung pada tendensi kemunafikan itu.
Pertama, bersikap bagaikan pohon subur yang akarnya menghujam kuat ke dalam tanah. كشجرة طيبة اصلها ثابت. Sebuah ilustrasi bahwa orang beriman itu tidaklah mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Tidak saja kuat Tapi juga subur dan memberikan buah-buah segarnya.
Kedua, Islam mengajarkan istiqamah atau konsistensi dalam warna iman kita sendiri. Pujian dan janji Allah kepada orang yang beriman (قالوا ربنا الله) lalu istiqamah (ثم استقاموا) bahwa mereka akan mendapatkan ketenangan hidup dunia akhirat. Bahkan bacaan kita: اهدنا الصراط المستقيم (tunjuki kami ke jalan yang lurus) bermakna antara lain "kuatkan kami untuk istiqamah" atau konsisten di jalan kebenaran.
Ketiga, Islam tidak saja mengajarkan orang-orang beriman untuk solid dan konsisten dalam kebenaran. Tapi lebih dari itu memerintahkan mereka untuk menjadi agen perubahan. Ajaran "amar ma'ruf nahi mungkar" bermakna antara lain agar umat ini harus berjuang untuk membentuk keadaan dan jangan dibentuk oleh keadaan.
Tapi ada masa-masa di mana manusia lemah. Sering mengalami kegalauan akibat kerasnya alam sekitar. Apalagi di saat-saat ketika kecenderungan beragama itu mengikut arus emosi sesaat atau kepentingan sesaat. Terlebih lagi di saat kelemahan itu didukung oleh fitnah yang merajalela di mana-mana.
Di saat-saat seperti itulah kita diingatkan sebuah pesan Rasulullah SAW yang mengatakan: استفت قلبك (mintalah fatwa kepada hatimu).
Lihat Juga :