Kebohongan Paling Berbahaya Adalah Dusta pada Diri Sendiri, Istifti Qalbak!
Kamis, 04 Agustus 2022 - 21:56 WIB
loading...
A
A
A
Tentu Fatwa di sini bukan meminta sebuah keputusan hukum dalam agama. Tapi dalam bahasa yang sederhana dapat diartikan "nasehat, arahan, petunjuk, bimbingan" dan yang semakna.
Di saat fitnah merajalela, trust (kepercayaan) kepada umara bahkan ulama menurun, bahkan seringkali membingungkan. Saat seperti itulah yang harus menjadi rujukan terakhir untuk menjadi pertimbangan dalam menyikapi dan/atau mengambil sebuah keputusan hidup adalah hati.
Pesan Rasul ini secara khusus menekankan hati sebagai bukti bahwa hati itu selama masih "hidup" harusnya bersifat suci (fitrah). Dengan kata lain, hati itu bersih, bening, berkarakter suci. Dengan kata lain karakter dasar dari hati adalah bersih, tidak kotor dan bukan dusta dan kepura-puraan.
Esensi pesan Rasul ini ada pada penekanan akan kejujuran hati. Karena memang karakter aslinya yang fitri. Sebuah karakter yang tidak akan berubah (لاتبديل لخلق الله).
Realita ini dalam bahasa sederhana biasa diungkapkan dengan kata hati atau bisikan nurani. Sekaligus realita ini pula yang mengantar kepada kesimpulan bahwa kebohongan yang paling buruk adalah kebohongan pada diri sendiri. Karena dalam diri yang didustai itu ada kejujuran yang tak tertutupi atau fitrah manusia yang identik dengan "kesucian ilahi" (fitratullah).
Kedustaan pada diri dan kejujuran hati menjadi dua situasi yang paradoks dalam diri seseorang. Suasana yang paradoks (kontra) ini yang menjadikan seseorang itu selalu merasa terburu (being hunted). Bahkan ada perasaan tertekan yang dalam. Tidak akan merasakan kedamaian walau kadang nampak/berpura-pura tersenyum.
Jujurlah pada Hati Nuranimu
Dalam sebuah hadits Rasulullah mengekspos realita ini. "Al-itsmu maa haaqa fii sodrikayang artinya dosa itu adalah sesuatu yang selalu menghantui di dadamu". Kebohongan pada orang lain hanya akan menjadi hantu (hunting) di dada orang yang berdusta.
Dan karenanya dalam menyikapi hidup yang penuh tipuan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, baiknya hati selalu menjadi rujukan. Mungkin jika ingin saya bahasakan secara sederhana: "Jangan dustai dirimu". Atau "jujurlah kepada hati nuranimu".
Jangankan dalam urusan dunia, politik sebagai misal yang seringkali penuh dengan intrik dan kebohongan. Politisi tidak saja memakai baju koko dan songkok yang biasa dianggap sebagai simbol kesalehan. Bahkan sebagian mengekspos diri dengan ragam ritual. Ada yang tiba-tiba diberitakan rajin sholat dhuha, puasa sunnah, bahkan puasa Daud (setiap hari lagi).
Bahkan sebagian pula karena merasa kaya memaksakan diri mengadakan tempat ibadah untuk membangun imej hebat sekaligus tokoh (perjuangan) agama. Padahal jika jujur dengan kata hatinya akan mengakui: "Ada baiknya saya belajar dulu membaca Al-Qur'an yang benar."
Di saat fitnah merajalela, trust (kepercayaan) kepada umara bahkan ulama menurun, bahkan seringkali membingungkan. Saat seperti itulah yang harus menjadi rujukan terakhir untuk menjadi pertimbangan dalam menyikapi dan/atau mengambil sebuah keputusan hidup adalah hati.
Pesan Rasul ini secara khusus menekankan hati sebagai bukti bahwa hati itu selama masih "hidup" harusnya bersifat suci (fitrah). Dengan kata lain, hati itu bersih, bening, berkarakter suci. Dengan kata lain karakter dasar dari hati adalah bersih, tidak kotor dan bukan dusta dan kepura-puraan.
Esensi pesan Rasul ini ada pada penekanan akan kejujuran hati. Karena memang karakter aslinya yang fitri. Sebuah karakter yang tidak akan berubah (لاتبديل لخلق الله).
Realita ini dalam bahasa sederhana biasa diungkapkan dengan kata hati atau bisikan nurani. Sekaligus realita ini pula yang mengantar kepada kesimpulan bahwa kebohongan yang paling buruk adalah kebohongan pada diri sendiri. Karena dalam diri yang didustai itu ada kejujuran yang tak tertutupi atau fitrah manusia yang identik dengan "kesucian ilahi" (fitratullah).
Kedustaan pada diri dan kejujuran hati menjadi dua situasi yang paradoks dalam diri seseorang. Suasana yang paradoks (kontra) ini yang menjadikan seseorang itu selalu merasa terburu (being hunted). Bahkan ada perasaan tertekan yang dalam. Tidak akan merasakan kedamaian walau kadang nampak/berpura-pura tersenyum.
Jujurlah pada Hati Nuranimu
Dalam sebuah hadits Rasulullah mengekspos realita ini. "Al-itsmu maa haaqa fii sodrikayang artinya dosa itu adalah sesuatu yang selalu menghantui di dadamu". Kebohongan pada orang lain hanya akan menjadi hantu (hunting) di dada orang yang berdusta.
Dan karenanya dalam menyikapi hidup yang penuh tipuan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, baiknya hati selalu menjadi rujukan. Mungkin jika ingin saya bahasakan secara sederhana: "Jangan dustai dirimu". Atau "jujurlah kepada hati nuranimu".
Jangankan dalam urusan dunia, politik sebagai misal yang seringkali penuh dengan intrik dan kebohongan. Politisi tidak saja memakai baju koko dan songkok yang biasa dianggap sebagai simbol kesalehan. Bahkan sebagian mengekspos diri dengan ragam ritual. Ada yang tiba-tiba diberitakan rajin sholat dhuha, puasa sunnah, bahkan puasa Daud (setiap hari lagi).
Bahkan sebagian pula karena merasa kaya memaksakan diri mengadakan tempat ibadah untuk membangun imej hebat sekaligus tokoh (perjuangan) agama. Padahal jika jujur dengan kata hatinya akan mengakui: "Ada baiknya saya belajar dulu membaca Al-Qur'an yang benar."
Lihat Juga :