Orang yang Beruntung Menerima Buku Catatan Amal pada Hari Kiamat
Kamis, 11 Agustus 2022 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian Allah menyerahkan selembar kertas kepada si hamba. Kemudian ia membacanya. Dan Allah berkata: "Apa yang sedang kamu lihat?"
"Aku sedang melihat catatan kebaikan-kebaikan yang banyak," jawab si hamba. "Apakah kamu mengetahui catatan kebaikan-kebaikan itu," tanya Allah. "Tidak," jawab si hamba.
Allah berkata padanya: "Catatan itu merupakan kebaikan-kebaikan dari orang-orang yang menganiayamu, menyakitimu, dan mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu."
Kisah Ibrahim bin Adham
Berkaitan dengan Hadis di atas, ada satu kisah hikmah dialami seorang ulama besar kelahiran Khurasan Syaikh Ibrahim bin Adham (718-782 M). Dulunya ia memiliki budak. Ketika Syaikh Ibrahim bertaubat dan kembali kepada Allah, ia pun memerdekakan semua budaknya.
Pada satu hari, seorang budak yang dimerdekakannya mabuk berat karena minum khamr. Budak pemabuk itu (sambil naik kuda) bertemu dengannya dan berkata: "Hai Fulan! Tuntun aku menuju rumahku!"
"Baiklah," jawab Ibrahim. Kemudian Ibrahim menuntun si pemabuk ke salah satu kuburan. Ketika si pemabuk melihat kuburan-kuburan, ia langsung memukul keras Ibrahim dan berkata: "Aku tadi mengatakan, "Tuntun aku menuju rumahku!" Mengapa kamu menuntunku ke kuburan?"
"Hai orang ceroboh! Hai orang yang sedikit akalnya! Kuburan adalah rumah sebenarnya, sedangkan rumah-rumah lain adalah rumah yang tidak sebenarnya," jawab Ibrahim.
Si pemabuk itu kembali memukul Syaikh Ibrahim. Ia memukulnya dengan cambuk. "Semoga Allah mengampunimu," kata Ibrahim. Ketika keduanya dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba seorang laki-laki berkata: "Hai Fulan! Apa yang kamu lakukan? Kamu itu memukuli tuan yang telah memerdekakanmu," kata si laki-laki.
Pemabuk itu tidak menyadari kalau yang ia pukul adalah Syaikh Ibrahim bin Adham yang telah memerdekakannya. "Siapa orang ini?" tanya si pemabuk.
Laki-laki itu menjawab: "laki-laki ini adalah tuanmu yang memerdekakanmu, yaitu Ibrahim bin Adham."
"Aku sedang melihat catatan kebaikan-kebaikan yang banyak," jawab si hamba. "Apakah kamu mengetahui catatan kebaikan-kebaikan itu," tanya Allah. "Tidak," jawab si hamba.
Allah berkata padanya: "Catatan itu merupakan kebaikan-kebaikan dari orang-orang yang menganiayamu, menyakitimu, dan mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu."
Kisah Ibrahim bin Adham
Berkaitan dengan Hadis di atas, ada satu kisah hikmah dialami seorang ulama besar kelahiran Khurasan Syaikh Ibrahim bin Adham (718-782 M). Dulunya ia memiliki budak. Ketika Syaikh Ibrahim bertaubat dan kembali kepada Allah, ia pun memerdekakan semua budaknya.
Pada satu hari, seorang budak yang dimerdekakannya mabuk berat karena minum khamr. Budak pemabuk itu (sambil naik kuda) bertemu dengannya dan berkata: "Hai Fulan! Tuntun aku menuju rumahku!"
"Baiklah," jawab Ibrahim. Kemudian Ibrahim menuntun si pemabuk ke salah satu kuburan. Ketika si pemabuk melihat kuburan-kuburan, ia langsung memukul keras Ibrahim dan berkata: "Aku tadi mengatakan, "Tuntun aku menuju rumahku!" Mengapa kamu menuntunku ke kuburan?"
"Hai orang ceroboh! Hai orang yang sedikit akalnya! Kuburan adalah rumah sebenarnya, sedangkan rumah-rumah lain adalah rumah yang tidak sebenarnya," jawab Ibrahim.
Si pemabuk itu kembali memukul Syaikh Ibrahim. Ia memukulnya dengan cambuk. "Semoga Allah mengampunimu," kata Ibrahim. Ketika keduanya dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba seorang laki-laki berkata: "Hai Fulan! Apa yang kamu lakukan? Kamu itu memukuli tuan yang telah memerdekakanmu," kata si laki-laki.
Pemabuk itu tidak menyadari kalau yang ia pukul adalah Syaikh Ibrahim bin Adham yang telah memerdekakannya. "Siapa orang ini?" tanya si pemabuk.
Laki-laki itu menjawab: "laki-laki ini adalah tuanmu yang memerdekakanmu, yaitu Ibrahim bin Adham."
Lihat Juga :