Kisah Cinta karena Allah, Dipisahkan Syahid di Medan Perang

loading...
Kisah Cinta karena Allah, Dipisahkan Syahid di Medan Perang
Saling mencintai sesama manusia memang sangat dianjurkan. Namun, jangan sampai rasa cinta kita terhadap manusia melebihi kecintaan kita sebagai hamba kepada Allah SWT. Foto ilustrasi/ist
Satu kisah kehidupan para shahabiyah (sahabat perempuan Rasulullah) yang sarat dengan hikmah adalah tentang sososk Atikah binti Zaid bin Amar bin Nufail. Kisahnya bermula saat dirinya harus kehilangan suami pertamanya, yang biasanya dinilai sebagai musibah dan malapetaka yang dihadapi istri. Namun, dalam menghadapi musibah tersebut, seorang istri hendaknya bersabar dan tetap meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT . Kesabaran inilah yang ditunjukan Atikah binti Zaid radhiyallahu'anha ini.

Atikah lahir dari garis keturunan yang mulia. Ayahnya, Zaid bin Amr merupakan sosok yang dijamin masuk surga. Hal tersebut karena Zaid taat pada ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Baca juga: Inilah Shahabiyah Nabi yang Ikut Berjuang di Medan Perang

Di balik julukannya tersebut,sebenarnya Atikah merupakan seorang perempuan yang cantik. Ia juga seorang yang pandai lagi santun akhlaknya. Gambaran kesempuraan seorang perempuan yang membuat tiap pria pada masa itu ingin menikahi Atikah. Setidaknya ada empat pria yang pernah mempersunting Atikah. Abdullah bin Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah yang pertama. Ibnu Hajar dalam 'Al Ishobah' memaparkan tentang kisah Atikah dan Abdullah , sepasang sejoli yang saling mencintai. Abdullah adalah putra Abu Bakar As Shidiq, sahabat terdekat Rasulullah.

Rumah tangga keduanya merupakan gambaran rumah tangga yang hampir sempurna. Atikah dan Abdullah senantiasa diliputi afeksi dan rasa cinta satu sama lain. Saking cintanya, keduanya digambarkan bak surat dan perangko yang saling menempel dan sulit dipisahkan.

Memang, keduanya menjalani hubungan pernikahan yang bahagia. Namun ternyata ada sisi buruk dari jalinan kasih antara Atikah dan Abdullah. Kecintaan Abdullah kepada istrinya tersebut membuatnya lebih disibukkan dengan urusan rumah tangga, perniagaan, hingga urusan duniawi lain. Kesibukannya tersebut tak jarang membuat Abdullah tertinggal berjamaah dan tak ikut berjihad di medan perang. Pernah suatu ketika Abu Bakar hendak salat berjamaah dengan ditemani oleh Abdullah. Ia pun mendatangi rumah Abdullah yang ternyata yang ternyata masih bermesraan dengan Atikah. Melihat anaknya itu, Abu Bakkar mengurungkan niat dan pergi salat berjamaah tanpa Abdullah. Usai salat, ternyat Abdullah masih bermesraan dengan Atikah.

Perilaku Abdullah ini kemudian membuat sang ayah, Abu Bakar resah. Putranya itu mulai lalai dalam beribadah dan lebih mementingkan istrinya. Maka Abu Bakkar langsung mengambil langkah. Ia hendak meminta Abdullah untuk menceraikan Atikah dengan niat agar Abdullah kembali taat beribadah lagi. Tentu saja setelah menceraikan Atikah, Abdullah diliputi susah hati. Abdullah mengungkapkan rasa sedihnya tersebut dengan membaca sebuah syair.

“Belum pernah aku melihat seorang suami sepertiku yang menceraikan istri seperti dirinya pada hari ini. Tidak pula wanita seperti dirinya diceraikan tanpa kesalahan dan dosa.” Bahkan rasa pilu Abdullah berujung pada sakit. Karena tak tega melihat anaknya jatuh sakit, Abu Bakkar akhirnya memutuskan untuk menikahkan lagi Abdullah dengan Atikah. Namun, dengan syarat pernikahan keduanya tidak lagi membuat Abdullah lalai dari ibadah.

Abdullah setuju dan pernikahan kembali dilangsungkan. Usai kembali ke istri yang sangat dicintainya, semangat jihad Abdullah semakin membara. Ketika Abdullah ikut dalam perang Thaif, suami Atikah tersebut gugur dalam syahid. Sebuah panah meleset ke arahnya dan langsung mengenainya. Tatkala kabar gugurnya Abdullah sampai pada Atikah, perempuan mulia tersebut kemudian membacakan sebuah syair. “Aku telah dilindungi oleh sebaik-baik manusia setelah Nabi mereka. Dan setelah Abu Bakar, dan ia tak pernah mengabaikanku. Dan saya bersumpah mata ini tak kan pernah berhenti dari kesedihan atas dirimu. Dan kulit ini akan senantiasa usang. Duhai kiranya ada mata yang menyaksikan pemuda seperti dirinya. Dia menyerang dan melindungi dalam perang yang berkobar dipenuhi kesabaran.”

Demikianlah kisah cinta Atikah binti Zaid dan Abdullah bin Abu Bakar. Saling mencintai sesama manusia memang sangat dianjurkan. Namun, jangan sampai rasa cinta kita terhadap manusia melebihi kecintaan kita sebagai hamba kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dalam lindungan Allah.

Baca juga: Hukum Darah Istihadhah yang Penting Diketahui Kaum Muslimah

Wallahu ‘alam.
(wid)
preload video