Al-Qur'an Dokumen Rahasia yang Mengandung Ajaran Sufi
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 10:31 WIB
loading...
A
A
A
Katakanlah, hai Rasul, kepada orang-orang itu,
"Allah itu Esa! Allah Mahakekal!
Tidak beranak dan tak diperanakkan,
dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya."
Bagi kalangan Muslim yang saleh, kata Idries Shah, ayat ini merupakan pernyataan dasar keimanan. Allah adalah Tuhan dan tiada yang menyerupai-Nya, Dia kekal abadi.
Para komentator kaum Kristiani beranggapan bahwa ayat tersebut menjadi serangan langsung atas doktrin ketuhanan agama Kristen, sehingga mereka menanggapi ayat tersebut dengan sangat sengit. "Ayat tersebut merupakan salah satu yang paling banyak dikutip oleh jutaan kaum Muslimin dalam bacaan sholat tiap hari," tulis Idries Shah.
Berdasarkan dari sudut pandang ini, ayat tersebut cenderung menggambarkan suatu garis pembatas antara orang-orang beriman dengan orang kafir.
Kaum muslim bisa menggunakan ayat tersebut untuk menentang kaum Kristiani yang dianggap telah menyelewengkan prinsip monotheisme.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan
Sedangkan kaum Kristiani beranggapan bahwa ayat tersebut menentang konsep Trinitas (keyakinan utamanya). Situasi yang demikian ini bagaimanapun hanya terjadi di suatu iklim psikologis tertentu --yakni suatu perbedaan antara dua kelompok yang selama Abad Pertengahan berupaya memperoleh kekuasaan dengan cara-cara pada waktu itu.
Bila kita menerima asumsi-asumsi ini, maka kita terlibat dalam konflik itu, dan menurut Sufi, kata Idries Shah, tidak ada harapan bagi orang-orang yang memilih suatu konflik dalam keadaan psikologis ini.
Interpretasi terhadap Surat al-Ikhlash tersebut tidak pernah diterima oleh para sufi. Di samping itu, sufi merasa mampu menafsirkan arti sebenarnya dari ayat itu, oleh karena itu kita menemukan suatu jembatan antara pemikiran biasa dan juga suatu maksud yang tepat dari ayat itu dengan merujuk pada pendapat al-Ghazali yang Agung.
Al-Ghazali menyatakan bahwa seperti semua surat dalam kitab Al-Qur'an, kitab ini tidak bisa direduksi seperti kitab-kitab yang lain dengan asumsi bahwa ia mempunyai makna tunggal dan sederhana bagi pemikir biasa. Keesaan itu tidak mempunyai makna sederhana, tunggal dan semata-mata superfisial. Dampaknya bergantung pada pemahaman dan pengalamannya, sebagaimana dampak ritme puisi.
"Allah itu Esa! Allah Mahakekal!
Tidak beranak dan tak diperanakkan,
dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya."
Bagi kalangan Muslim yang saleh, kata Idries Shah, ayat ini merupakan pernyataan dasar keimanan. Allah adalah Tuhan dan tiada yang menyerupai-Nya, Dia kekal abadi.
Para komentator kaum Kristiani beranggapan bahwa ayat tersebut menjadi serangan langsung atas doktrin ketuhanan agama Kristen, sehingga mereka menanggapi ayat tersebut dengan sangat sengit. "Ayat tersebut merupakan salah satu yang paling banyak dikutip oleh jutaan kaum Muslimin dalam bacaan sholat tiap hari," tulis Idries Shah.
Berdasarkan dari sudut pandang ini, ayat tersebut cenderung menggambarkan suatu garis pembatas antara orang-orang beriman dengan orang kafir.
Kaum muslim bisa menggunakan ayat tersebut untuk menentang kaum Kristiani yang dianggap telah menyelewengkan prinsip monotheisme.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan
Sedangkan kaum Kristiani beranggapan bahwa ayat tersebut menentang konsep Trinitas (keyakinan utamanya). Situasi yang demikian ini bagaimanapun hanya terjadi di suatu iklim psikologis tertentu --yakni suatu perbedaan antara dua kelompok yang selama Abad Pertengahan berupaya memperoleh kekuasaan dengan cara-cara pada waktu itu.
Bila kita menerima asumsi-asumsi ini, maka kita terlibat dalam konflik itu, dan menurut Sufi, kata Idries Shah, tidak ada harapan bagi orang-orang yang memilih suatu konflik dalam keadaan psikologis ini.
Interpretasi terhadap Surat al-Ikhlash tersebut tidak pernah diterima oleh para sufi. Di samping itu, sufi merasa mampu menafsirkan arti sebenarnya dari ayat itu, oleh karena itu kita menemukan suatu jembatan antara pemikiran biasa dan juga suatu maksud yang tepat dari ayat itu dengan merujuk pada pendapat al-Ghazali yang Agung.
Al-Ghazali menyatakan bahwa seperti semua surat dalam kitab Al-Qur'an, kitab ini tidak bisa direduksi seperti kitab-kitab yang lain dengan asumsi bahwa ia mempunyai makna tunggal dan sederhana bagi pemikir biasa. Keesaan itu tidak mempunyai makna sederhana, tunggal dan semata-mata superfisial. Dampaknya bergantung pada pemahaman dan pengalamannya, sebagaimana dampak ritme puisi.
Lihat Juga :