Al-Qur'an Dokumen Rahasia yang Mengandung Ajaran Sufi
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 10:31 WIB
loading...
para teolog cenderung beranggapan bahwa interpretasi Al-Quran hanya bisa diterima jika sejalan dengan cara agama konvensional. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Nawab-Zada Sayyid Idries Shah al-Hasyimi atau Idries Shah mengatakan bagi para sufi klasik, Al-Qur'an merupakan dokumen rahasia yang mengandung ajaran-ajaran sufi.
Dalam bukunya "The Sufis" dan diterjemahkan oleh M Hidayatullah menjadi "Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi" (Risalah Gusti, 2000), Idries Shah menjelaskan bahwa para teolog cenderung beranggapan bahwa interpretasi Al-Qur'an hanya bisa diterima jika sejalan dengan cara agama konvensional.
Sementara para ahli sejarah cenderung mencari sastra atau sumber-sumber agama zaman dulu dalam Al-Qur'an; selain itu juga sebagai bukti peristiwa-peristiwa kontemporer yang direfleksikan dalam tiap-tiap halaman.
Baca juga: Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi
Bagi sufi, kata Idries Shah, Al-Qur'an merupakan suatu dokumen yang disampaikan melalui tradisi riwayat, ayat yang disampaikan memiliki makna yang sesuai dengan kapasitas pemahaman pembacanya.
Sikap terhadap Al-Qur'an seperti inilah yang memungkinkan orang dapat memahaminya, baik yang berlatar belakang Kristen, Pagan atau Yahudi --suatu pengertian yang tidak bisa diterima kalangan ortodoks. Oleh sebab itu, Al-Qur'an pada dasarnya adalah dokumen yang memiliki kandungan psikologis.
Idries Shah adalah Syaikh Besar (Syaikh al-Kabir) Sufi dan anak sulung Nawab asal Sardana, dekat Delhi di India. Keluarganya berasal dari keluarga Kerajaan Pagham di Hindu-Kush, yang nenek moyangnya memerintah sejak 1221.
Idries Shah dilahirkan di Simla-Himalaya dan menetap di London. Ia mengarang beberapa buku tentang mistik-tasawuf, di antaranya Mahkota Sufi (The Sufis) dan Jalan Sufi (The Way of the Sufi), kumpulan cerita sufi, serta karya-karya lainnya.
Baca juga: Kisah Sufi: Empat Syaikh Calon Hakim dan Noda Darah Sufi
Menurut Idries Shah, Surat al-Ikhlas h adalah contoh terbaik tentang kapasitas sintesis kitab ini:
Dalam bukunya "The Sufis" dan diterjemahkan oleh M Hidayatullah menjadi "Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi" (Risalah Gusti, 2000), Idries Shah menjelaskan bahwa para teolog cenderung beranggapan bahwa interpretasi Al-Qur'an hanya bisa diterima jika sejalan dengan cara agama konvensional.
Sementara para ahli sejarah cenderung mencari sastra atau sumber-sumber agama zaman dulu dalam Al-Qur'an; selain itu juga sebagai bukti peristiwa-peristiwa kontemporer yang direfleksikan dalam tiap-tiap halaman.
Baca juga: Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi
Bagi sufi, kata Idries Shah, Al-Qur'an merupakan suatu dokumen yang disampaikan melalui tradisi riwayat, ayat yang disampaikan memiliki makna yang sesuai dengan kapasitas pemahaman pembacanya.
Sikap terhadap Al-Qur'an seperti inilah yang memungkinkan orang dapat memahaminya, baik yang berlatar belakang Kristen, Pagan atau Yahudi --suatu pengertian yang tidak bisa diterima kalangan ortodoks. Oleh sebab itu, Al-Qur'an pada dasarnya adalah dokumen yang memiliki kandungan psikologis.
Idries Shah adalah Syaikh Besar (Syaikh al-Kabir) Sufi dan anak sulung Nawab asal Sardana, dekat Delhi di India. Keluarganya berasal dari keluarga Kerajaan Pagham di Hindu-Kush, yang nenek moyangnya memerintah sejak 1221.
Idries Shah dilahirkan di Simla-Himalaya dan menetap di London. Ia mengarang beberapa buku tentang mistik-tasawuf, di antaranya Mahkota Sufi (The Sufis) dan Jalan Sufi (The Way of the Sufi), kumpulan cerita sufi, serta karya-karya lainnya.
Baca juga: Kisah Sufi: Empat Syaikh Calon Hakim dan Noda Darah Sufi
Menurut Idries Shah, Surat al-Ikhlas h adalah contoh terbaik tentang kapasitas sintesis kitab ini:
Lihat Juga :