Tafsir Idries Shah atas 2 Kisah Sufi Mullah Nashruddin
Selasa, 23 Agustus 2022 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
"Siapa saja yang memasuki kota, pertama-tama harus menjawab benar pertanyaan yang akan dikemukakan kepadanya oleh kapten pengawal."
Nashruddin, yang tengah menunggu di luar, maju pertama.
Kapten tersebut berkata, "Mau ke mana engkau? Jawab dengan jujur -- alternatifnya adalah hukuman mati dengan digantung."
"Aku akan," jawab Nashruddin, "digantung di atas tiang gantungan itu."
"Aku tidak mempercayaimu."
"Jika demikian, baiklah. Jika aku berdusta, gantung aku."
"Tetapi hal itu akan menjadikannya (kebohongan) sebagai kebenaran."
"Tepat," ucap Nashruddin, "kebenaranmu."
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
Idries Shah mengatakan calon sufi juga harus memahami bahwa tolok ukur kebaikan dan keburukan didasarkan pada ukuran individu atau kelompok, bukan atas dasar fakta obyektif. Sampai ia mengalami hal ini secara internal dan juga menerimanya secara intelektual, ia tidak akan mampu mencapai pemahaman yang lebih dalam (batin). Skala pengubahan ini digambarkan oleh cerita tentang perburuan:
Nashruddin, yang tengah menunggu di luar, maju pertama.
Kapten tersebut berkata, "Mau ke mana engkau? Jawab dengan jujur -- alternatifnya adalah hukuman mati dengan digantung."
"Aku akan," jawab Nashruddin, "digantung di atas tiang gantungan itu."
"Aku tidak mempercayaimu."
"Jika demikian, baiklah. Jika aku berdusta, gantung aku."
"Tetapi hal itu akan menjadikannya (kebohongan) sebagai kebenaran."
"Tepat," ucap Nashruddin, "kebenaranmu."
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
Idries Shah mengatakan calon sufi juga harus memahami bahwa tolok ukur kebaikan dan keburukan didasarkan pada ukuran individu atau kelompok, bukan atas dasar fakta obyektif. Sampai ia mengalami hal ini secara internal dan juga menerimanya secara intelektual, ia tidak akan mampu mencapai pemahaman yang lebih dalam (batin). Skala pengubahan ini digambarkan oleh cerita tentang perburuan:
Lihat Juga :