Idries Shah: Praktik dan Pemikiran Sufi Mirip Peribadatan Zen Buddhist Jepang
Jum'at, 26 Agustus 2022 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Dr Suzuki, pakar terkemuka sastra Zen, agaknya benar ketika menyatakan bahwa Zen telah mengadaptasikan pikiran Timur Jauh. Akan tetapi gagasan-gagasan, kias-kias dan perumpamaan-perumpamaan yang mengandung ajaran Sufi telah berakar kuat sejak lama sebelum guru Zen.
Yengo (kira-kira 1566-1642) menulis surat untuk menjawab pertanyaan, "Apakah Zen itu?" Dalam buku "An Introduction to Zen Buddhism" Suzuki menukil:
Surat ini hanya dipersembahkan kepadamu, dan pada saat ini segala sesuatunya bergantung pada (pengertian)mu. Bagi orang yang berakal, satu kata sudah cukup untuk meyakinkannya tentang hakikat Zen, akan tetapi kemudian ada kesalahpahaman.
Zen telah begitu sering dituliskan dengan tinta, diungkapkan dengan kata-kata yang jelas dan dalil-dalil logika, namun kemudian semakin tak dapat dipahami olehmu.
Kebenaran Zen yang agung ada dalam diri setiap orang. Kenalilah dirimu sendiri, jangan mencari Zen melalui orang lain. Jiwamu sendiri adalah di atas segala-galanya. Jiwa itu bebas dan tentram. Jiwa itu sendiri mampu mengendalikan dirinya dengan indera keenam dan empat unsur dalam diri manusia.
Di dalam jiwa itu ada cahaya. Redamlah dualisme subyek dan obyek. Lupakanlah keduanya, jauhilah akal pikiran, hindarilah pemahaman dan masuklah secara langsung ke dalam jati diri jiwa Budha. Di luar semua itu engkau sama sekali tidak dapat mengenali realitas.
Idries Shah mengatakan agaknya naif apabila kita mengandalkan fakta-fakta yang menonjol tersebut sebagai suatu fakta transmisi sufisme dan derivasi Zen dari sumbernya. Namun menurut kepercayaan sufi, dasar ajaran Zen pasti ada di sana, berada di dalam jiwa manusia. Akan tetapi, hanya sentuhan Sufi yang telah membantu membangkitkan kesadaran batin terhadap realitas sejati satu-satunya.
Baca juga: Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi
Seorang Sufi China, Mr. H. L. Ma, dalam ceramahnya di sebuah pertemuan Hongkong Metaphysical Association satu dekade yang lalu, sebagaimana dikutip Idries Shah, memaparkan bagaimana cara menyampaikan gagasan-gagasan agar dapat diterima dalam lingkungan budaya yang berbeda-beda:
Kepada para Pencari Kebenaran, saya terpaksa mengatakan bahwa Sufi sulit untuk dipahami. Mengapa? Karena para pemerhati generasi baru mengharapkan serangkaian sistem menurut pola pikir mereka. Mereka tidak tahu bahwa pola pikir tersebut keliru.
Pada dasarnya Sufi ada dalam diri Anda. Anda merasakannya, namun tidak mengetahui apa itu. Bilamana Anda mengalami perasaan-perasaan tertentu seperti kebaikan, cinta, kebenaran, keinginan melakukan sesuatu dengan sepenuh jiwa --itulah Sufi.
Yengo (kira-kira 1566-1642) menulis surat untuk menjawab pertanyaan, "Apakah Zen itu?" Dalam buku "An Introduction to Zen Buddhism" Suzuki menukil:
Surat ini hanya dipersembahkan kepadamu, dan pada saat ini segala sesuatunya bergantung pada (pengertian)mu. Bagi orang yang berakal, satu kata sudah cukup untuk meyakinkannya tentang hakikat Zen, akan tetapi kemudian ada kesalahpahaman.
Zen telah begitu sering dituliskan dengan tinta, diungkapkan dengan kata-kata yang jelas dan dalil-dalil logika, namun kemudian semakin tak dapat dipahami olehmu.
Kebenaran Zen yang agung ada dalam diri setiap orang. Kenalilah dirimu sendiri, jangan mencari Zen melalui orang lain. Jiwamu sendiri adalah di atas segala-galanya. Jiwa itu bebas dan tentram. Jiwa itu sendiri mampu mengendalikan dirinya dengan indera keenam dan empat unsur dalam diri manusia.
Di dalam jiwa itu ada cahaya. Redamlah dualisme subyek dan obyek. Lupakanlah keduanya, jauhilah akal pikiran, hindarilah pemahaman dan masuklah secara langsung ke dalam jati diri jiwa Budha. Di luar semua itu engkau sama sekali tidak dapat mengenali realitas.
Idries Shah mengatakan agaknya naif apabila kita mengandalkan fakta-fakta yang menonjol tersebut sebagai suatu fakta transmisi sufisme dan derivasi Zen dari sumbernya. Namun menurut kepercayaan sufi, dasar ajaran Zen pasti ada di sana, berada di dalam jiwa manusia. Akan tetapi, hanya sentuhan Sufi yang telah membantu membangkitkan kesadaran batin terhadap realitas sejati satu-satunya.
Baca juga: Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi
Seorang Sufi China, Mr. H. L. Ma, dalam ceramahnya di sebuah pertemuan Hongkong Metaphysical Association satu dekade yang lalu, sebagaimana dikutip Idries Shah, memaparkan bagaimana cara menyampaikan gagasan-gagasan agar dapat diterima dalam lingkungan budaya yang berbeda-beda:
Kepada para Pencari Kebenaran, saya terpaksa mengatakan bahwa Sufi sulit untuk dipahami. Mengapa? Karena para pemerhati generasi baru mengharapkan serangkaian sistem menurut pola pikir mereka. Mereka tidak tahu bahwa pola pikir tersebut keliru.
Pada dasarnya Sufi ada dalam diri Anda. Anda merasakannya, namun tidak mengetahui apa itu. Bilamana Anda mengalami perasaan-perasaan tertentu seperti kebaikan, cinta, kebenaran, keinginan melakukan sesuatu dengan sepenuh jiwa --itulah Sufi.
Lihat Juga :