Syaikh Muhammad Abduh: Dinamakan Islam, Sebenarnya Bukan Islam
Senin, 29 Agustus 2022 - 17:43 WIB
loading...
Syaikh Muhammad Abduh mengatakan sebagian besar yang kita saksikan sekarang, yang dinamakan Islam, sebenarnya bukan Islam. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Syaikh Muhammad Abduh mengatakan sebagian besar yang kita saksikan sekarang, yang dinamakan Islam, sebenarnya bukan Islam. Hanya bentuknya saja yang masih dipelihara sebagai amalan-amalan Islam - sembahyang, puasa , naik haji, ditambah sedikit hafalan kata-kata-yang artinya sudah dibelokkan pula.
Dalam bukunya berjudul "Al-Islam wan-Nashrania", Syaikh Muhammad Abduh mengupas bagaimana kondisi Islam saat ini yang menurutnya sudah dibelokkan itu.
Muhammad Abduh menjelaskan Islam pada mulanya agama yang dianut orang Arab. Kemudian setelah berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang tadinya bercorak Yunani ilmu itu pun lalu bercorak Arab pula.
Baca juga: Tenggelamnya Jihad Laut di Masa Daulah Abbasiyah
Kemudian ada seorang khalifah yang salah dalam menjalankan politik. Keluasan Islam digunakannya untuk apa yang dikiranya akan membawa keuntungan untuk kepentingannya - dikiranya bahwa tentara yang terdiri dari orang-orang Arab itu mungkin saja akan jadi pendukung seorang khalifah golongan Ali, sebab golongan ini dekat sekali pertaliannya dengan keluarga Nabi SAW.
Oleh karena itu ia mau mempergunakan tentara dari luar, yang terdiri dari orang-orang Turki, Dailam, dan lain-lain yang dikiranya pula bahwa dengan kekuasaannya itu mereka ini akan dapat diperhamba, dapat dipergunakan untuk kepentingannya.
Suasana tidak akan membantu adanya pihak yang akan memberontak kepadanya atau menuntut kedudukannya sebagai penguasa, meskipun keluasan hukum Islam akan membenarkan ia melakukan itu. "Sejak itulah Islam jadi bercorak asing," tuturnya.
Ada seorang khalifah Banu Abbas - yang karena mengingat kepentingannya sendiri serta anak cucunya - ia ingin sebagian besar tentaranya itu diangkat dari orang-orang asing, demikian juga pembesar-pembesarnya.
Suatu tindakan yang buruk sekali, baik terhadap bangsanya atau pun terhadap agama. Tetapi tidak lama kemudian pembesar-pembesar militer ini pun telah pula dapat mengalahkan para khalifah itu. Dengan kekuasaan yang ada itu mereka telah dapat bertindak sewenang-wenang.
Sekarang kekuasaan negara berada di tangan mereka, dengan tiada persiapan pikiran seperti yang diajarkan Islam dan dengan hati yang sudah diisi oleh pendidikan agama. Bahkan sebaliknya, mereka datang menerima Islam dalam keadaan biadab dan bodoh, dengan membawa segala macam kekejaman.
Tubuh mereka mengenakan pakaian Islam, tapi ajarannya belum sampai menembusi hati mereka. Masih banyak di antara mereka itu yang membawa berhala untuk disembah dengan diam-diam. Kalau pun ada yang menjalankan sholat bersama-sama, itu hanya untuk memperkuat kekuasaannya.
"Kemudian datang lagi yang lain melanda Islam, seperti bangsa Tatar dan yang lain misalnya, malah persoalan agama juga di bawah kekuasaannya. Buat mereka musuh yang paling besar ialah ilmu pengetahuan," lanjutnya.
Baca juga: Konflik Politik Berdarah dan Tradisi Pembunuhan Khalifah Dinasti Abbasiyah
Dalam bukunya berjudul "Al-Islam wan-Nashrania", Syaikh Muhammad Abduh mengupas bagaimana kondisi Islam saat ini yang menurutnya sudah dibelokkan itu.
Muhammad Abduh menjelaskan Islam pada mulanya agama yang dianut orang Arab. Kemudian setelah berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang tadinya bercorak Yunani ilmu itu pun lalu bercorak Arab pula.
Baca juga: Tenggelamnya Jihad Laut di Masa Daulah Abbasiyah
Kemudian ada seorang khalifah yang salah dalam menjalankan politik. Keluasan Islam digunakannya untuk apa yang dikiranya akan membawa keuntungan untuk kepentingannya - dikiranya bahwa tentara yang terdiri dari orang-orang Arab itu mungkin saja akan jadi pendukung seorang khalifah golongan Ali, sebab golongan ini dekat sekali pertaliannya dengan keluarga Nabi SAW.
Oleh karena itu ia mau mempergunakan tentara dari luar, yang terdiri dari orang-orang Turki, Dailam, dan lain-lain yang dikiranya pula bahwa dengan kekuasaannya itu mereka ini akan dapat diperhamba, dapat dipergunakan untuk kepentingannya.
Suasana tidak akan membantu adanya pihak yang akan memberontak kepadanya atau menuntut kedudukannya sebagai penguasa, meskipun keluasan hukum Islam akan membenarkan ia melakukan itu. "Sejak itulah Islam jadi bercorak asing," tuturnya.
Ada seorang khalifah Banu Abbas - yang karena mengingat kepentingannya sendiri serta anak cucunya - ia ingin sebagian besar tentaranya itu diangkat dari orang-orang asing, demikian juga pembesar-pembesarnya.
Suatu tindakan yang buruk sekali, baik terhadap bangsanya atau pun terhadap agama. Tetapi tidak lama kemudian pembesar-pembesar militer ini pun telah pula dapat mengalahkan para khalifah itu. Dengan kekuasaan yang ada itu mereka telah dapat bertindak sewenang-wenang.
Sekarang kekuasaan negara berada di tangan mereka, dengan tiada persiapan pikiran seperti yang diajarkan Islam dan dengan hati yang sudah diisi oleh pendidikan agama. Bahkan sebaliknya, mereka datang menerima Islam dalam keadaan biadab dan bodoh, dengan membawa segala macam kekejaman.
Tubuh mereka mengenakan pakaian Islam, tapi ajarannya belum sampai menembusi hati mereka. Masih banyak di antara mereka itu yang membawa berhala untuk disembah dengan diam-diam. Kalau pun ada yang menjalankan sholat bersama-sama, itu hanya untuk memperkuat kekuasaannya.
"Kemudian datang lagi yang lain melanda Islam, seperti bangsa Tatar dan yang lain misalnya, malah persoalan agama juga di bawah kekuasaannya. Buat mereka musuh yang paling besar ialah ilmu pengetahuan," lanjutnya.
Baca juga: Konflik Politik Berdarah dan Tradisi Pembunuhan Khalifah Dinasti Abbasiyah
Lihat Juga :