Kisah Sahabat Penghuni Surga karena Tak Punya Hasad dan Iri Hati
Jum'at, 02 September 2022 - 22:02 WIB
loading...
Kebanyakan sahabat Nabi mengangap bahwa orang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bersih hatinya dan paling sedikit gibahnya. Foto/ilustrasi
A
A
A
Semua orang ingin menjadi ahli surga dan tak sedikit yang mendambakan surga tertinggi. Berikut kisah sahabat Nabi penghuni surga yang layak kita jadikan pelajaran berharga.
Amalannya biasa saja, bukan ahli tahajud dan bukan pula ahli sedekah. Tetapi kesalehan batiniyahnya menjadikannya ahli surga sebagaimana disebut oleh Nabi Muhammad SAW.
Kisah ini cukup masyhur dan diketengahkan dalam Musnad Imam Ahmad, Al-Zawajir 'an Iqtiroful Kabair, Musnad Abdullah Bin Mubarok, dan Syarhus Sunnah Imam Baghowi.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau berkata:
يَطْلُعُ الْآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga."
Kemudian seorang laki-laki dari Anshar (penduduk Madinah) lewat di hadapan mereka dengan bekas air wudhu yang masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esoknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi: "Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga." Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Esoknya lagi Rasulullah bersabda: "Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!" Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki itu, lalu ia berkata kepadanya: "Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku dan berjanji tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan aku menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu."
Laki-laki Anshar itu menjawab: "Silahkan!"
Anas berkata bahwa Abdullah bin Amr setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki itu tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail. Hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang Subuh. Kemudian mengambil air wudhu.
Abdullah bin Amr juga mengatakan: "Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."
Amalannya biasa saja, bukan ahli tahajud dan bukan pula ahli sedekah. Tetapi kesalehan batiniyahnya menjadikannya ahli surga sebagaimana disebut oleh Nabi Muhammad SAW.
Kisah ini cukup masyhur dan diketengahkan dalam Musnad Imam Ahmad, Al-Zawajir 'an Iqtiroful Kabair, Musnad Abdullah Bin Mubarok, dan Syarhus Sunnah Imam Baghowi.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau berkata:
يَطْلُعُ الْآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga."
Kemudian seorang laki-laki dari Anshar (penduduk Madinah) lewat di hadapan mereka dengan bekas air wudhu yang masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esoknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi: "Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga." Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Esoknya lagi Rasulullah bersabda: "Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!" Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki itu, lalu ia berkata kepadanya: "Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku dan berjanji tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan aku menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu."
Laki-laki Anshar itu menjawab: "Silahkan!"
Anas berkata bahwa Abdullah bin Amr setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki itu tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail. Hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang Subuh. Kemudian mengambil air wudhu.
Abdullah bin Amr juga mengatakan: "Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."
Lihat Juga :