Kisah Rasulullah SAW Menyaksikan Cinta Mughits yang Bertepuk Sebelah Tangan
Minggu, 11 September 2022 - 11:58 WIB
loading...
Perempuan berhak untuk menentukan jodohnya sendiri. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah cinta Mughits yang bertepuk sebelah tangan ini termaktub dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab "Thalak" dan Imam Muslim dalam kitab "Memerdekakan budak". Dikisahkan, pasangan Mughit dan Barirah bercerai begitu Barirah dibebaskan dari perbudakan.
"Mengenai Barirah terdapat tiga sunnah (hukum). Pertama, setelah dia dimerdekakan, lalu dia bebas memilih suaminya ..." (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini disampaikan Aisyah ra , istri Nabi Muhammad SAW .
Baca juga: 10 Keutamaan Sholat Fajar Menurut Fiqih
Selanjutnya, Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa suami Barirah adalah seorang hamba/budak yang bernama Mughits. "Aku seolah-olah melihat Mughits bertawaf di belakang Barirah sambil menangis dan air matanya mengalir sampai ke jenggotnya," ujar Ibnu Abbas.
Lalu Nabi SAW berkata kepada Abbas: "Wahai Abbas, tidakkah kamu heran melihat kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?"
Selanjutnya Nabi SAW berkata kepada Barirah: "Bagaimana kalau kamu ruju' padanya?"
"Wahai Rasulullah, apakah ini perintah buatku?" jawab Barirah.
Nabi Muhammad SAW menjawab: "Aku sekadar memberi syafaat (untuk suamimu)."
Barirah berkata: "Aku sudah tidak butuh lagi padanya." (HR Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan dari kata-kata Barirah: 'Apakah ini perintah untukku,' dapat disimpulkan bahwa Barirah tahu bahwa Nabi SAW itu wajib dituruti. Karena itulah ketika Nabi menyampaikan tawaran tadi kepada Barirah, Barirah minta kejelasan apakah tawaran Nabi SAW itu perintah sehingga harus ditururi, atau cuma masukan pendapat yang bisa dia pilih."
"Mengenai Barirah terdapat tiga sunnah (hukum). Pertama, setelah dia dimerdekakan, lalu dia bebas memilih suaminya ..." (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini disampaikan Aisyah ra , istri Nabi Muhammad SAW .
Baca juga: 10 Keutamaan Sholat Fajar Menurut Fiqih
Selanjutnya, Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa suami Barirah adalah seorang hamba/budak yang bernama Mughits. "Aku seolah-olah melihat Mughits bertawaf di belakang Barirah sambil menangis dan air matanya mengalir sampai ke jenggotnya," ujar Ibnu Abbas.
Lalu Nabi SAW berkata kepada Abbas: "Wahai Abbas, tidakkah kamu heran melihat kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?"
Selanjutnya Nabi SAW berkata kepada Barirah: "Bagaimana kalau kamu ruju' padanya?"
"Wahai Rasulullah, apakah ini perintah buatku?" jawab Barirah.
Nabi Muhammad SAW menjawab: "Aku sekadar memberi syafaat (untuk suamimu)."
Barirah berkata: "Aku sudah tidak butuh lagi padanya." (HR Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan dari kata-kata Barirah: 'Apakah ini perintah untukku,' dapat disimpulkan bahwa Barirah tahu bahwa Nabi SAW itu wajib dituruti. Karena itulah ketika Nabi menyampaikan tawaran tadi kepada Barirah, Barirah minta kejelasan apakah tawaran Nabi SAW itu perintah sehingga harus ditururi, atau cuma masukan pendapat yang bisa dia pilih."
Lihat Juga :