Dialog Mesra Orang Tua Rasulullah SAW di Malam Pertama
Rabu, 28 September 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Abdullah melanjutkan ceritanya kepada sang istri, bahwa wanita ketiga yaitu Laila al-Adawiyah juga ditanya sebab dia berpaling darinya. Dia menjawab, 'Aku bertemu denganmu kemarin dan kulihat di antara matamu ada ghurrah (sesuatu yang putih cemerlang, tanda keagungan dan kemuliaan), maka kuajak engkau, tetapi engkau menolakku, lalu engkau menikah dengan Aminah, maka dia memperolehnya.'
Kedua pasangan suami-istri itu terdiam, memikirkan peristiwa-peristiwa aneh itu. Lalu, tiba-tiba Aminah memecah kesunyian dengan meminta sang suami mengulangi lagi percakapannya dengan Raqiqah binti Naufal. “Mengapa binti Naufal secara khusus?” tanya Abdullah heran.
“Ceritakanlah dahulu, nanti engkau akan mengetahuinya,” jawab Aminah.
Abdullah memenuhi permintaan sang istri. Aminah terdiam beberapa saat, lalu berkata kepada sang suami, “Wahai putra pamanku, kupikir pasti ada sesuatu di balik semua ini. Wanita itu (Binti Naufal) adalah saudara perempuan Waraqah bin Naufal, sedang Waraqah sebagaimana kita ketahui, telah memeluk agama Nasrani, mempelajari kitab-kitab dan menyampaikan bahwa akan ada nabi untuk umat ini.”
Aminah melanjutkan ucapannya, “Rupanya aku nyaris lupa tentang Fatimah binti Murrah. Dia juga telah membaca kitab-kitab dan dia juga adalah peramal kaum Khasam.”
Mendengar hal tersebut, Abdullah menatap sang istri seraya berkata, “Engkau kira, wahai Aminah, kita ...!” Aminah tidak membiarkan sang suami, Abdullah, melanjutkan ucapannya. Dia tenggelam dalam pandangan yang penuh makna, mengembalikan pikiran dan khayalannya ke semua isu dan berita yang tersebar di Jazirah Arab menyangkut akan datangnya seorang nabi. Dan, cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah, kini berpindah ke Aminah. Padahal, cahaya itulah yang membuat para wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon istri Abdullah.
Malam itu Aminah tidur nyenyak. Menjelang Subuh dia terbangun. Dia menghampiri sang suami seraya berkata, “Aku melihat cahaya dari sinar yang amat terang, yang terpancar dari sumbernya yang mahahalus sehingga menerangi dunia dan sekelilingnya. Istana-istana kaisar di Syam bagaikan dapat terlihat dengan sinar itu. Aku mendengar suara menyatakan, “Wahai Aminah, sungguh engkau telah mengandung penghulu umat ini.”
Baca juga: Kisah Abdullah Ayah Rasulullah SAW yang akan Disembelih di Antara Berhala Isaf dan Na'ila
Membaca Masa Depan
Jauh sebelum itu, Sauda' binti Zahrah al-Kilabiyah, yang ketika ia lahir hampir saja dikubur hidup-hidup oleh ayahnya di daerah Hajun, seandainya sang ayah tidak mendengar suara berulang kali yang melarangnya dan ternyata ketika Sauda dewasa, ia menjadi wanita yang memiliki kemampuan membaca masa depan yang ulung. Kemampuan ini diberikan oleh Allah SWT.
Suatu ketika, Sauda' berkata kepada keluarga Zuhrah (keluarga Aminah): “Di antara kalian ada yang menjadi pemberi peringatan atau melahirkan pemberi peringatan.”
Lalu, ia meminta agar ditunjukkan kepadanya gadis-gadis, tetapi setiap datang gadis, ia selalu berkata, “Dia akan datang,” sampai akhirnya Aminah datang, maka Sauda berkata, “Inilah pemberi peringatan atau yang melahirkan pemberi peringatan.”
Abdullah dan Aminah, menurut para sejarawan, hidup bersama tidak lebih dari 10 atau 15 hari karena Abdullah harus segera berangkat bersama kafilah dagang suku Quraisy menuju Gaza dan Syam.
Kepergian Abdullah berniaga merupakan konsekuensi dari penegakan disiplin yang menjadi salah satu ciri keluarga besar Rasulullah SAW. Ia patuh kepada orangtuanya, seperti patuhnya ia ketika akan dikurbankan kala itu.
Kedua pasangan suami-istri itu terdiam, memikirkan peristiwa-peristiwa aneh itu. Lalu, tiba-tiba Aminah memecah kesunyian dengan meminta sang suami mengulangi lagi percakapannya dengan Raqiqah binti Naufal. “Mengapa binti Naufal secara khusus?” tanya Abdullah heran.
“Ceritakanlah dahulu, nanti engkau akan mengetahuinya,” jawab Aminah.
Abdullah memenuhi permintaan sang istri. Aminah terdiam beberapa saat, lalu berkata kepada sang suami, “Wahai putra pamanku, kupikir pasti ada sesuatu di balik semua ini. Wanita itu (Binti Naufal) adalah saudara perempuan Waraqah bin Naufal, sedang Waraqah sebagaimana kita ketahui, telah memeluk agama Nasrani, mempelajari kitab-kitab dan menyampaikan bahwa akan ada nabi untuk umat ini.”
Aminah melanjutkan ucapannya, “Rupanya aku nyaris lupa tentang Fatimah binti Murrah. Dia juga telah membaca kitab-kitab dan dia juga adalah peramal kaum Khasam.”
Mendengar hal tersebut, Abdullah menatap sang istri seraya berkata, “Engkau kira, wahai Aminah, kita ...!” Aminah tidak membiarkan sang suami, Abdullah, melanjutkan ucapannya. Dia tenggelam dalam pandangan yang penuh makna, mengembalikan pikiran dan khayalannya ke semua isu dan berita yang tersebar di Jazirah Arab menyangkut akan datangnya seorang nabi. Dan, cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah, kini berpindah ke Aminah. Padahal, cahaya itulah yang membuat para wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon istri Abdullah.
Malam itu Aminah tidur nyenyak. Menjelang Subuh dia terbangun. Dia menghampiri sang suami seraya berkata, “Aku melihat cahaya dari sinar yang amat terang, yang terpancar dari sumbernya yang mahahalus sehingga menerangi dunia dan sekelilingnya. Istana-istana kaisar di Syam bagaikan dapat terlihat dengan sinar itu. Aku mendengar suara menyatakan, “Wahai Aminah, sungguh engkau telah mengandung penghulu umat ini.”
Baca juga: Kisah Abdullah Ayah Rasulullah SAW yang akan Disembelih di Antara Berhala Isaf dan Na'ila
Membaca Masa Depan
Jauh sebelum itu, Sauda' binti Zahrah al-Kilabiyah, yang ketika ia lahir hampir saja dikubur hidup-hidup oleh ayahnya di daerah Hajun, seandainya sang ayah tidak mendengar suara berulang kali yang melarangnya dan ternyata ketika Sauda dewasa, ia menjadi wanita yang memiliki kemampuan membaca masa depan yang ulung. Kemampuan ini diberikan oleh Allah SWT.
Suatu ketika, Sauda' berkata kepada keluarga Zuhrah (keluarga Aminah): “Di antara kalian ada yang menjadi pemberi peringatan atau melahirkan pemberi peringatan.”
Lalu, ia meminta agar ditunjukkan kepadanya gadis-gadis, tetapi setiap datang gadis, ia selalu berkata, “Dia akan datang,” sampai akhirnya Aminah datang, maka Sauda berkata, “Inilah pemberi peringatan atau yang melahirkan pemberi peringatan.”
Abdullah dan Aminah, menurut para sejarawan, hidup bersama tidak lebih dari 10 atau 15 hari karena Abdullah harus segera berangkat bersama kafilah dagang suku Quraisy menuju Gaza dan Syam.
Kepergian Abdullah berniaga merupakan konsekuensi dari penegakan disiplin yang menjadi salah satu ciri keluarga besar Rasulullah SAW. Ia patuh kepada orangtuanya, seperti patuhnya ia ketika akan dikurbankan kala itu.
Lihat Juga :