Kisah Aminah Memberi Nama Bayinya Muhammad

loading...
Kisah Aminah Memberi Nama Bayinya Muhammad
Malaikat mendatangi Aminah dan Abdul Muthalib agar memberi nama bayi yang akan lahir tersebut dengan nama Muhammad. Foto/Ilustrasi: Ist
Aminah dan Abdul Muthalib sangat bahagia menyambut lahirnya bayi yang suci. Bayi itu diberi nama Muhammad . “Aku memberinya nama Muhammad, sebagaimana yang diperintahkan oleh pembawa suara misterius itu,” ujar Aminah kepada mertuanya, Abdul Muthalib.

Fuad Abdurahman dalam bukunya berjudul "Jalan Damai Rasulullah: Risalah Rahmat bagi Semua" menyebut saat hamil tua, ketika purnama memancarkan sinarnya dengan terang, Aminah mendengar suara berkata, “Tidak lama lagi kamu akan melahirkan tokoh umat ini. Kalau dia lahir, berdoalah memohon perlindungan untuknya kepada Yang Maha Esa dari semua yang iri hati. Namailah dia Muhammad.” Dan Aminah memberi nama sesuai dengan petunjuk suatu misterius itu.

Baca juga: Nabi Daniel Kabarkan Kedatangan Nabi Muhammad 1.200 Tahun sebelum Nabi Lahir

Pada Senin menjelang fajar, Aminah dengan didampingi pembantunya, Barakah Ummu Aiman, mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan.

Malam itu, 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan 29 Agustus 571 M, purnama hampir sempurna. Ia memancarkan cahaya begitu terang dan bersih, memendarkan cahaya terindahnya bagi penduduk Mekkah. Cuaca terasa sejuk malam itu. Itulah malam ke-50 dari kehancuran pasukan Abrahah.

Ummu Aiman memanggil bidan bernama asy-Syifa binti Auf untuk menemani Aminah ketika melahirkan bayinya. Beberapa saat kemudian, lahirlah putra Aminah. Wajah bayi itu memancarkan cahaya dan menyinari segala sesuatu di sekitarnya. Bayi itu diterima oleh asy-Syifa dengan bahagia, kemudian ia serahkan kepada Aminah. Dan, Aminah tentu lebih bahagia lagi menerimanya.

Aminah segera memerintahkan Ummu Aiman untuk mengabari Abdul Muthalib, mertuanya, tentang kelahiran bayinya. Abdul Muthalib yang menerima berita kelahiran bayi Aminah dari Ummu Aiman, segera bangkit meninggalkan Kakbah menuju rumah Aminah.

Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada.

Ia segera mengambil bayi suci itu dengan kehangatan seorang ayah dan kakek. Tentu saja, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena anugerah yang Allah berikan kepadanya. Bayangan sang anak, Abdullah, datang kembali kepadanya memenuhi pikirannya.

Baca juga: Silsilah Nabi Muhammad Sampai Nabi Adam Lengkap dengan Tabelnya

Aminah berkata kepada Abdul Muthalib, “Aku memberinya nama Muhammad, sebagaimana yang diperintahkan oleh pembawa suara misterius itu.”

Abdul Muthalib berkata, “Segala puji hanya milik Allah.”

“Pembawa suara misterius itu mengabarkan bahwa bayi ini akan menjadi pemimpin umat ini,” lanjut Aminah.

Namun riwayat lain menyebut, nama Muhammad diberikan oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib membenarkan apa yang dikatakan oleh Aminah, bahwa cucunya ini akan menjadi pemimpin kaumnya karena semua bukti memperkuat hal tersebur. Kemudian, ia menggendong cucu kesayangannya itu untuk tawaf di sekitar Kakbah seraya mendendangkan syair:

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi bayi ini kepadaku.
Bayi yang tampan dan lembut.
Dalam buaian ia telah memimpin bayi-bayi.
Aku melindunginya dengan rumah yang memiliki penyangga-penyangga (Kakbah).
Aku melindunginya dari semua orang yang punya niat buruk.
Dari semua orang yang dengki dan merasa terganggu.”

Usai melaksanakan tawaf, Abdul Muthalib kembali ke rumah Aminah sambil membawa sang cucu. Di tengah perjalanan, ia melihat sekelompok orang yang sedang mengerumuni seorang kakek Yahudi.

Si kakek itu berkara kepada mereka, “Wahai orang-orang Quraisy, demi kebenaran Taurat, tadi malam telah lahir seorang bayi yang merupakan nabi umat ini.”

Orang-orang terkejut mendengar ucapannya, tetapi tidak mengerti sepenuhnya apa maksud ucapan tersebut. Abdul Muthalib juga mendengar ucapan si kakek Yahudi itu. Ya, bayi yang digendong Abdul Muthalib itulah yang akan menjadi nabi umat ini.

Pada hari ketujuh kelahiran Muhammad, Abdul-Muthalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy.

Baca juga: 11 Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad
halaman ke-1
preload video