Begini Tradisi Muslim Jawa dalam Membaca Kitab Maulid

loading...
Begini Tradisi Muslim Jawa dalam Membaca Kitab Maulid
Acara pembacaan kitab Barzanji yang sudah mentradisi di Jawa. Foto/Ilustrasi: NUonline
Muslim Jawa memiliki ciri khas dalam mempraktikkan pembacaan kitab-kitab maulid . Kiai Muhammad Sholikhin mengatakan pembacaan kitab-kitab maulid dilaksanakan dalam suasana yang dikondisikan secara khusus, terutama pada hari-hari dan momentum yang dipilih.

"Misalnya sebagai wirid rutin, dipilihlah malam Senin yang dipercaya sebagai malam hari kelahiran Rasulullah SAW , atau malam Jum'at sebagai hari agung ummat Islam," ujar Kiai Muhammad Sholikhin dalam bukunya berjudul "Ritual dan Tradisi Islam Jawa" .

Baca juga: Kontroversi Kitab Barzanji: Nur Muhammad yang Picu Perdebatan

Demikian pula, pembacaan dilaksanakan secara terus menerus selama bulan Rabi' al Awwal sebagai bulan kelahiran Rasulullah SAW, terutama pada tanggal 1 sampai 12 pada bulan tersebut. Selain itu, kitab maulid dibacakan saat kelahiran bayi, serta segala upacara yang berhubungan dengan siklus kemanusiaan.

Kesakralan suasana terbangun oleh alunan pelantun dan pembaca prosa lirik maulid dan kekhusyukan para peserta, yang untuk beberapa daerah sering pula memberikan senggakan berupa lafadz “Allah” setiap satu kalimat selesai dibaca.

Di samping itu, sakralitas pembacaan maulid juga terjadi pada lagu-lagu pujian (sholawat) terhadap Rasulullah SAW yang dinyanyikan berkali kali.

Pada kelompok masyarakat tertentu, ujar Kiai Muhammad Sholikhin, sering pula disertai dengan iringan musik serta tarian, yang menambah kekhusyukan peserta.

Baca juga: Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an

Menurutnya, hal-hal yang mendatangkan kekhusyukan itulah yang sering mendatangkan kerinduan pada peserta, untuk tetap merengkuh pembacaan kitab maulid sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi keagamaannya.

Hal yang juga tidak kalah menarik adalah fenomena saat srokalan (ma hal al-qiyam). Suasana yang terbangun sangat sakral. Pada saat berdiri untuk menyanyikan sholawat asyraqal badru, setelah imam atau orang yang membaca prosa lirik sampai pada cerita kelahiran Nabi, suasananya sangat khusyuk. Hal ini merupakan ekspresi kegembiraan yang luar biasa atas kelahiran Nabi.

"Walaupun hal ini merupakan sesuatu yang tidak atau sulit diterima pemikiran logis, namun bagi kalangan pengikut pembacaan dipegang secara kuat," ujar Kiai Muhammad Sholikhin.

Tradisi Bangsa Indonesia
Mahallu al-qiyam adalah berdiri ketika membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, terutama pada tempat-tempat tertentu dalam prosesi pembacaan kitab-kitab maulid, misalnya kitab maulid al Barzanji, kitab maulid al-Diba' atau kitab maulid Simtu al-Durar.

Baca juga: Sejarah Maulid Nabi: 3 Tujuan Utama Diterbitkannya Kitab Barzanji

Kiai Muhammad Sholikhin mengatakan berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. "Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormat bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa," katanya.

Maka demikian pula dengan berdiri ketika membaca sholawat, dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terindah dan teragung kepada Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling mulia.

Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi

Kitab Populer
Martin Van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia" menyebut bahwa Kitab Barzanji adalah teks keagamaan yang paling populer di seluruh Nusantara, yang mana hanya kalah populer setelah Al-Quran.

Menurut Van Bruinessen, barangkali tidak ada seorang pun penganut Islam di Indonesia yang tidak pernah menghadiri pembacaan Barzanji, paling tidak beberapa kali sepanjang hidupnya. Sebabnya adalah kitab ini memang banyak sekali dibacakan dalam berbagai tradisi di Indonesia.

Pada umumnya Barzanji dibacakan dalam acara peringatan Maulid Nabi. Namun pada kenyataannya Barzanji jauh lebih dalam menembus ke berbagai tradisi di Indonesia, ia juga dibacakan dalam momen-momen seperti Akikah, Khitanan, Tasyakuran, Hadrah-An, Midodareni, Rebo Wekasan, Wiridan, Ulih-Ulihan, Walimahan, dan bahkan Debus.

Baca juga: Keutamaan Maulid Nabi Muhammad yang Jarang Diketahui Orang
(mhy)
cover top ayah
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اِنۡ كُنۡـتُمۡ فِىۡ رَيۡبٍ مِّنَ الۡبَـعۡثِ فَاِنَّـا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمۡ‌ ؕ وَنُقِرُّ فِى الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّكُمۡ ‌ۚ وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّتَوَفّٰى وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَتَرَى الۡاَرۡضَ هَامِدَةً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡهَا الۡمَآءَ اهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَاَنۡۢبَـتَتۡ مِنۡ كُلِّ زَوۡجٍۢ بَهِيۡجٍ
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

(QS. Al-Hajj Ayat 5)
cover bottom ayah
preload video