Begini Tradisi Muslim Jawa dalam Membaca Kitab Maulid
Selasa, 04 Oktober 2022 - 18:41 WIB
loading...
A
A
A
"Walaupun hal ini merupakan sesuatu yang tidak atau sulit diterima pemikiran logis, namun bagi kalangan pengikut pembacaan dipegang secara kuat," ujar Kiai Muhammad Sholikhin.
Tradisi Bangsa Indonesia
Mahallu al-qiyam adalah berdiri ketika membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, terutama pada tempat-tempat tertentu dalam prosesi pembacaan kitab-kitab maulid, misalnya kitab maulid al Barzanji, kitab maulid al-Diba' atau kitab maulid Simtu al-Durar.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi: 3 Tujuan Utama Diterbitkannya Kitab Barzanji
Kiai Muhammad Sholikhin mengatakan berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. "Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormat bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa," katanya.
Maka demikian pula dengan berdiri ketika membaca sholawat, dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terindah dan teragung kepada Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling mulia.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Kitab Populer
Martin Van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia" menyebut bahwa Kitab Barzanji adalah teks keagamaan yang paling populer di seluruh Nusantara, yang mana hanya kalah populer setelah Al-Quran.
Menurut Van Bruinessen, barangkali tidak ada seorang pun penganut Islam di Indonesia yang tidak pernah menghadiri pembacaan Barzanji, paling tidak beberapa kali sepanjang hidupnya. Sebabnya adalah kitab ini memang banyak sekali dibacakan dalam berbagai tradisi di Indonesia.
Pada umumnya Barzanji dibacakan dalam acara peringatan Maulid Nabi. Namun pada kenyataannya Barzanji jauh lebih dalam menembus ke berbagai tradisi di Indonesia, ia juga dibacakan dalam momen-momen seperti Akikah, Khitanan, Tasyakuran, Hadrah-An, Midodareni, Rebo Wekasan, Wiridan, Ulih-Ulihan, Walimahan, dan bahkan Debus.
Baca juga: Keutamaan Maulid Nabi Muhammad yang Jarang Diketahui Orang
Tradisi Bangsa Indonesia
Mahallu al-qiyam adalah berdiri ketika membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, terutama pada tempat-tempat tertentu dalam prosesi pembacaan kitab-kitab maulid, misalnya kitab maulid al Barzanji, kitab maulid al-Diba' atau kitab maulid Simtu al-Durar.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi: 3 Tujuan Utama Diterbitkannya Kitab Barzanji
Kiai Muhammad Sholikhin mengatakan berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. "Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormat bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa," katanya.
Maka demikian pula dengan berdiri ketika membaca sholawat, dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terindah dan teragung kepada Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling mulia.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Kitab Populer
Martin Van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia" menyebut bahwa Kitab Barzanji adalah teks keagamaan yang paling populer di seluruh Nusantara, yang mana hanya kalah populer setelah Al-Quran.
Menurut Van Bruinessen, barangkali tidak ada seorang pun penganut Islam di Indonesia yang tidak pernah menghadiri pembacaan Barzanji, paling tidak beberapa kali sepanjang hidupnya. Sebabnya adalah kitab ini memang banyak sekali dibacakan dalam berbagai tradisi di Indonesia.
Pada umumnya Barzanji dibacakan dalam acara peringatan Maulid Nabi. Namun pada kenyataannya Barzanji jauh lebih dalam menembus ke berbagai tradisi di Indonesia, ia juga dibacakan dalam momen-momen seperti Akikah, Khitanan, Tasyakuran, Hadrah-An, Midodareni, Rebo Wekasan, Wiridan, Ulih-Ulihan, Walimahan, dan bahkan Debus.
Baca juga: Keutamaan Maulid Nabi Muhammad yang Jarang Diketahui Orang
(mhy)
Lihat Juga :