Kisah Perayaan Maulid Nabi untuk Tangkal Agresi Militer Genghis Khan
Rabu, 05 Oktober 2022 - 10:26 WIB
loading...
Shalahuddin Al Ayubi menghidupkan perayaan maulid untuk memompa semangat jihad umat Islam dalam Perang Salib (Foto/Ilustrasi: glenad)
A
A
A
Banyak versi tentang siapa yang pertama kali menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW . Salah satu versi menyebut tokoh yang paling mula menggelar perayaan adalah Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri pada tahun 630 H. Konon acara ini digelar untuk memompa fanatisme umat Islam dalam menghadapi agresi militer Genghis Khan (1167-1227 M) dari Mongol.
Sultan Abu Said adalah Gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Abdul Al-Rahman Al-Sayuthi dalam kitab "Husnu Al-Maqsub: Fi Amali Al-Maulid" menyebut kala itu ancaman Temujin atau Gengis Khan amat menakutkan.
Gengis Khan, seorang raja Mongol yang naik tahta ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan konfederasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Penyelenggaraan acara maulid secara besar-besaran diharapkan dapat memompa fanatisme umat Islam yang kala itu sedang terpuruk.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi: 3 Tujuan Utama Diterbitkannya Kitab Barzanji
Maulid perdana yang diadakan oleh Sultan Abu Said amat megah dan semarak. Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara Maulid selama 7 hari 7 malam. Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas.
Kemudian, dalam acara itu Sultan Abu Said mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin. Hasilnya, semangat heroisme Muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh Islam.
Perang Salib
Hal yang sama juga dilakukan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi untuk membangkitkan semangat juang umat Islam dalam Perang Salib, yakni pada saat negeri-negeri Islam mendapat serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris).
Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Baghdad, sebagai lambang persatuan spiritual.
Menurut Sultan Shalahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka.
Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.
Sultan Abu Said adalah Gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Abdul Al-Rahman Al-Sayuthi dalam kitab "Husnu Al-Maqsub: Fi Amali Al-Maulid" menyebut kala itu ancaman Temujin atau Gengis Khan amat menakutkan.
Gengis Khan, seorang raja Mongol yang naik tahta ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan konfederasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Penyelenggaraan acara maulid secara besar-besaran diharapkan dapat memompa fanatisme umat Islam yang kala itu sedang terpuruk.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi: 3 Tujuan Utama Diterbitkannya Kitab Barzanji
Maulid perdana yang diadakan oleh Sultan Abu Said amat megah dan semarak. Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara Maulid selama 7 hari 7 malam. Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas.
Kemudian, dalam acara itu Sultan Abu Said mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin. Hasilnya, semangat heroisme Muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh Islam.
Perang Salib
Hal yang sama juga dilakukan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi untuk membangkitkan semangat juang umat Islam dalam Perang Salib, yakni pada saat negeri-negeri Islam mendapat serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris).
Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Baghdad, sebagai lambang persatuan spiritual.
Menurut Sultan Shalahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka.
Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.
Lihat Juga :