Kisah Khutbah Ali bin Abu Thalib yang Membuat Seorang Jamaah Pingsan
Selasa, 18 Oktober 2022 - 18:59 WIB
loading...
Khutbah ini disampikan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan penjelasan tentang sifat-sifat seorang yang bertakwa. Foto/Ilustrasi: Ist/mhy
A
A
A
Kisah khutbah Ali bin Abi Thalib yang membuat seorang jamaah pingsan terkait masalah takwa. Khutban Khalifah Ali itu sendiri dihimpun dalam kitab Nahj Al-Balaghah, yakni kitab yang berisi ucapan dan tulisan Ali bin Abi Thalib yang dikumpulkan oleh Sayid Radhi pada akhir abad ke-4 H.
Nah, dalam kitab ini antara lain berisi khutbah panjang khalifah yang bernama Khuthbah Al-Muttaqin. Khutbah ini disampikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan penjelasan tentang sifat-sifat seorang yang bertakwa .
Pada mulanya Ali bin Abi Thalib menghindar untuk memberi jawaban dan hanya memberi tiga atau empat kalimat jawaban. Namun, orang yang bernama Hammam bin Syarih itu tidak merasa puas dengan jawaban singkat beliau dan berkeras meminta keterangan selanjutnya.
Baca juga: Kisah Selimut Kumal dan Kesederhaaan Ali Bin Abu Thalib
Amirul Mukminin pun berbicara menyangkut karakterisitk spiritual, intelektual, moral dan tindak tanduk orang-orang yang bertakwa sampai lebih dari seratus sifat.
Ali bin Abi Thalib antara lain menjelaskan bahwa orang yang bertakwa mempunyai empat sifat utama. Pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, merasa takut kepada Allah SWT yang mempunyai sifat Maha Agung. Kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah SWT.
Ciri ketiga, Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah SWT, meskipun hanya sedikit. Keempat, Al-Isti`dadu li Yaumir-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah.
Para sejarawan menulis bahwa khutbah Amirul Mukminin berakhir bersamaan dengan jatuh pingsannya Hammam.
Definisi Takwa
Secara bahasa takwa berasal dari kata wiqayatun yang berarti waspada dan berhati-hati. Sedangkan secara istilah, para ulama dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya mendefinisikan takwa secara beragam.
Sementara itu, Prof HM Hasballah Thabib, dalam "La'allakum Tattaquun: Seratus Satu Jalan Menuju Taqwa yang Harus Dilatih Selama Bulan Ramadhan", mengatakan definisi takwa menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, adalah takut kepada Allah SWT yang Maha-Agung, beramal sesuai dengan Al-Qur'an dan sunnah, qanaah terhadap yang sedikit dan bersiap untuk hari akhir.
Definisi dari Sayyidina Ali ini dikutip dari kitab berjudul at-Taqwa fi Al-Quran al-Karim karya Muhammad Ibrahim Dabiisi.
Baca juga: Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Umar Haramkan Catur?
Di sisi lain, Abu Hurairah pernah ditanya oleh seseorang tentang makna takwa. Lalu, Abu Hurairah bertanya balik, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh onak dan duri?” Orang tersebut menjawab, “Ya, pernah.”
Nah, dalam kitab ini antara lain berisi khutbah panjang khalifah yang bernama Khuthbah Al-Muttaqin. Khutbah ini disampikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan penjelasan tentang sifat-sifat seorang yang bertakwa .
Pada mulanya Ali bin Abi Thalib menghindar untuk memberi jawaban dan hanya memberi tiga atau empat kalimat jawaban. Namun, orang yang bernama Hammam bin Syarih itu tidak merasa puas dengan jawaban singkat beliau dan berkeras meminta keterangan selanjutnya.
Baca juga: Kisah Selimut Kumal dan Kesederhaaan Ali Bin Abu Thalib
Amirul Mukminin pun berbicara menyangkut karakterisitk spiritual, intelektual, moral dan tindak tanduk orang-orang yang bertakwa sampai lebih dari seratus sifat.
Ali bin Abi Thalib antara lain menjelaskan bahwa orang yang bertakwa mempunyai empat sifat utama. Pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, merasa takut kepada Allah SWT yang mempunyai sifat Maha Agung. Kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah SWT.
Ciri ketiga, Ar-Ridha bil-Qalil, merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah SWT, meskipun hanya sedikit. Keempat, Al-Isti`dadu li Yaumir-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah.
Para sejarawan menulis bahwa khutbah Amirul Mukminin berakhir bersamaan dengan jatuh pingsannya Hammam.
Definisi Takwa
Secara bahasa takwa berasal dari kata wiqayatun yang berarti waspada dan berhati-hati. Sedangkan secara istilah, para ulama dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya mendefinisikan takwa secara beragam.
Sementara itu, Prof HM Hasballah Thabib, dalam "La'allakum Tattaquun: Seratus Satu Jalan Menuju Taqwa yang Harus Dilatih Selama Bulan Ramadhan", mengatakan definisi takwa menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, adalah takut kepada Allah SWT yang Maha-Agung, beramal sesuai dengan Al-Qur'an dan sunnah, qanaah terhadap yang sedikit dan bersiap untuk hari akhir.
Definisi dari Sayyidina Ali ini dikutip dari kitab berjudul at-Taqwa fi Al-Quran al-Karim karya Muhammad Ibrahim Dabiisi.
Baca juga: Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Umar Haramkan Catur?
Di sisi lain, Abu Hurairah pernah ditanya oleh seseorang tentang makna takwa. Lalu, Abu Hurairah bertanya balik, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh onak dan duri?” Orang tersebut menjawab, “Ya, pernah.”
Lihat Juga :