Raja Ingin Menjadi Dermawan dan Kisah Hatim Al-Taeei
Sabtu, 29 Oktober 2022 - 08:56 WIB
loading...
A
A
A
Ketika mereka sampai di istana, masing-masing orang dalam kelompok tadi mengaku dirinya sebagai penangkap Hatim. Bekas raja itu, yang membaca keraguan di wajah penggantinya, minta izin untuk berbicara, "Ketahuilah, wahai Raja, bahwa penjelasanku seharusnya juga didengarkan. Aku ditangkap oleh tukang kayu ini dan bukan oleh sekelompok orang itu. Karena itu, berilah kepada orang tua ini hadiahnya, dan lakukan apa yang kau mau atas aku ..."
Mendengar hal itu, si tukang kayu maju dan mengatakan kepada raja bahwa Hatim telah menyerahkan dirinya, bukan ditangkap; bahwa Hatim berkorban agar tukang kayu dan keluarganya memperoleh hadiah.
Raja baru itu sungguh takjub oleh cerita tersebut sehingga ia pun menarik mundur prajuritnya dan pulang ke negerinya sendiri. Tahta pun dikembalikan kepada Hatim.
Ketika mendengar kisah ini, Raja Iran, yang melupakan ancamannya atas sang Darwis, berkata, "Suatu kisah yang bagus sekali, darwis, dan bisa dipetik manfaatnya. Kau mungkin tak bisa, sebab telah melepaskan semua kenikmatan hidup dan tak berhasrat memiliki apa pun lagi. Tetapi, aku seorang raja. Dan aku sangat kaya. Raja-raja Arab itu, yang hidup pada borok kadal, tak mungkin bisa menandingi Raja Persia dalam hal kedermawanan sejati. Hmm, aku punya ide! Mari kita kerjakan!"
Didampingi oleh sang darwis, Raja Iran mengumpulkan para ahli bangunan yang terbaik di suatu tanah lapang yang sangat luas. Ia pun menyuruh mereka merancang dan membangun sebuah istana megah berikut aula besar dengan 40 jendela di atas tanah luas itu.
Raja juga memerintahkan agar alat-alat transportasi segera dibuat dan istana itu dipenuhi dengan keping-keping emas. Ketika istana itu selesai dibangun, keluarlah pengumuman, "Dengarkanlah! Raja atas segala raja, Sumber Kedermawanan, telah menitahkan agar dibangun sebuah istana megah dengan empat puluh jendela. Setiap hari, dari jendela-jendela itulah nanti raja sendiri akan mendermakan emas kepada orang-orang miskin."
Demikianlah, setiap hari kerumunan ramai orang miskin datang ke istana tersebut. Raja itu muncul setiap hari dari jendela yang berbeda dan memberikan satu keping emas kepada tiap orang. Kemudian, raja menyadari bahwa ada seorang darwis yang setiap hari datang, meminta sekeping emas dan pergi.
Mulanya raja berpikir, "Barangkali ia mengambil emas untuk diberikan kepada seorang yang membutuhkan."
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Lalu, ketika dilihatnya darwis itu lagi, ia membatin, "Barangkali ia sedang melaksanakan amal tersembunyi sebagai prinsip para darwis, dan membawakan emas untuk orang lain."
Dan setiap hari ketika dilihatnya Darwis itu, ia menepis prasangka buruknya. Tetapi pada hari keempat puluh, habislah kesabarannya. Raja menangkap tangan Darwis itu, lalu berkata, "Dasar orang celaka yang tak tahu pamrih, tak sekalipun kau bilang terima kasih atau penghargaan kepadaku. Kau tidak senyum, tidak pula membungkuk, tetapi kembali kemari setiap hari. Akan berapa lama seperti ini? Apa kau mengambil pemberianku untuk memperkaya dirimu, atau kau pinjamkan emas itu dengan riba? Kelakuanmu sungguh tercela, tak seharusnya dilakukan oleh mereka yang mengenakan jubah tambal sulam terhormat para Darwis."
Segera sesudah makian tersebut keluar dari mulut raja, sang Darwis membuang 40 keping emas yang telah diterimanya. Katanya kepada raja itu, "Ketahuilah, wahai Raja Iran, bahwa kedermawanan tidak mungkin ada tanpa tiga hal. Pertama, memberi tanpa perasaan ingin menjadi dermawan; kedua, kesabaran; ketiga, tidak menaruh prasangka."
Tetapi, raja itu tak pernah memahami. Baginya, kedermawanan ditentukan oleh pikiran orang lain tentang dirinya, dan oleh perasaannya tentang menjadi 'dermawan'.
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
Mendengar hal itu, si tukang kayu maju dan mengatakan kepada raja bahwa Hatim telah menyerahkan dirinya, bukan ditangkap; bahwa Hatim berkorban agar tukang kayu dan keluarganya memperoleh hadiah.
Raja baru itu sungguh takjub oleh cerita tersebut sehingga ia pun menarik mundur prajuritnya dan pulang ke negerinya sendiri. Tahta pun dikembalikan kepada Hatim.
Ketika mendengar kisah ini, Raja Iran, yang melupakan ancamannya atas sang Darwis, berkata, "Suatu kisah yang bagus sekali, darwis, dan bisa dipetik manfaatnya. Kau mungkin tak bisa, sebab telah melepaskan semua kenikmatan hidup dan tak berhasrat memiliki apa pun lagi. Tetapi, aku seorang raja. Dan aku sangat kaya. Raja-raja Arab itu, yang hidup pada borok kadal, tak mungkin bisa menandingi Raja Persia dalam hal kedermawanan sejati. Hmm, aku punya ide! Mari kita kerjakan!"
Didampingi oleh sang darwis, Raja Iran mengumpulkan para ahli bangunan yang terbaik di suatu tanah lapang yang sangat luas. Ia pun menyuruh mereka merancang dan membangun sebuah istana megah berikut aula besar dengan 40 jendela di atas tanah luas itu.
Raja juga memerintahkan agar alat-alat transportasi segera dibuat dan istana itu dipenuhi dengan keping-keping emas. Ketika istana itu selesai dibangun, keluarlah pengumuman, "Dengarkanlah! Raja atas segala raja, Sumber Kedermawanan, telah menitahkan agar dibangun sebuah istana megah dengan empat puluh jendela. Setiap hari, dari jendela-jendela itulah nanti raja sendiri akan mendermakan emas kepada orang-orang miskin."
Demikianlah, setiap hari kerumunan ramai orang miskin datang ke istana tersebut. Raja itu muncul setiap hari dari jendela yang berbeda dan memberikan satu keping emas kepada tiap orang. Kemudian, raja menyadari bahwa ada seorang darwis yang setiap hari datang, meminta sekeping emas dan pergi.
Mulanya raja berpikir, "Barangkali ia mengambil emas untuk diberikan kepada seorang yang membutuhkan."
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Lalu, ketika dilihatnya darwis itu lagi, ia membatin, "Barangkali ia sedang melaksanakan amal tersembunyi sebagai prinsip para darwis, dan membawakan emas untuk orang lain."
Dan setiap hari ketika dilihatnya Darwis itu, ia menepis prasangka buruknya. Tetapi pada hari keempat puluh, habislah kesabarannya. Raja menangkap tangan Darwis itu, lalu berkata, "Dasar orang celaka yang tak tahu pamrih, tak sekalipun kau bilang terima kasih atau penghargaan kepadaku. Kau tidak senyum, tidak pula membungkuk, tetapi kembali kemari setiap hari. Akan berapa lama seperti ini? Apa kau mengambil pemberianku untuk memperkaya dirimu, atau kau pinjamkan emas itu dengan riba? Kelakuanmu sungguh tercela, tak seharusnya dilakukan oleh mereka yang mengenakan jubah tambal sulam terhormat para Darwis."
Segera sesudah makian tersebut keluar dari mulut raja, sang Darwis membuang 40 keping emas yang telah diterimanya. Katanya kepada raja itu, "Ketahuilah, wahai Raja Iran, bahwa kedermawanan tidak mungkin ada tanpa tiga hal. Pertama, memberi tanpa perasaan ingin menjadi dermawan; kedua, kesabaran; ketiga, tidak menaruh prasangka."
Tetapi, raja itu tak pernah memahami. Baginya, kedermawanan ditentukan oleh pikiran orang lain tentang dirinya, dan oleh perasaannya tentang menjadi 'dermawan'.
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
(mhy)
Lihat Juga :