Raja Ingin Menjadi Dermawan dan Kisah Hatim Al-Taeei
Sabtu, 29 Oktober 2022 - 08:56 WIB
loading...
A
A
A
Yang lain tetap diam, sebab tak yakin apa yang mesti dipercayai hingga mereka memperoleh sejumlah pertimbangan untuk menyusun pikirannya.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Dan demikianlah raja lalim itu, beserta ribuan prajurit, merebut negeri Hatim. Raja itu tidak memungut pajak lebih tinggi dari pada yang dipungut Hatim. Tetapi, ada satu hal yang mengganggunya, yaitu bisik-bisik orang banyak bahwa negeri yang baru dimilikinya itu merupakan buah dari kemurahan hati Hatim yang menyerahkan negeri itu kepadanya.
"Aku tidak dapat menjadi raja sejati atas negeri ini," pikir raja lalim itu, "sebelum aku menangkap Hatim. Selama ia masih hidup, sebagian rakyat masih akan setia kepadanya. Mereka tidak akan sepenuhnya tunduk kepadaku, meskipun mulut mereka berkata begitu."
Raja itu pun mengumumkan bahwa barangsiapa yang menyerahkan Hatim akan mendapat hadiah 5000 keping emas. Hatim tidak mengetahui perihal maklumat tersebut sampai suatu hari ketika ia duduk di mulut gua dan mendengar percakapan antara tukang kayu dan istrinya.
Tukang kayu berkata, "Istriku sayang, sekarang aku sudah tua dan kau masih sangat muda. Kita memiliki anak yang masih kecil, dan dalam urutan alamiah peristiwa-peristiwa, sudah sewajarnya aku akan mati lebih dahulu darimu sementara anak kita masih belia. Seandainya kita bisa menemukan Hatim dan menangkapnya, untuk memperoleh hadiah lima ribu keping emas dari raja, masa depan kalian tentu akan terjamin."
"Yang kau katakan itu memalukan!" sergah istrinya, "Lebih baik kau mati, dan aku serta anak kita kelaparan, dari pada tangan kita bernodakan darah orang yang paling murah hati sepanjang masa, yang mengorbankan segalanya bagi kebaikan kita."
"Begitu ya," kata orang tua itu, "Tetapi seorang lelaki harus memikirkan kepentingannya sendiri. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab. Lagipula, dari hari ke hari semakin banyak orang yang menganggap Hatim itu pengecut. Hanya masalah waktu saja sebelum mereka mencari ke semua tempat persembunyian dan menangkapnya."
"Anggapan bahwa Hatim pengecut dilandasi oleh hasrat mendapat emas. Lebih banyak lagi pembicaraan serupa ini dan Hatim akan hidup sia-sia."
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Pada saat itu Hatim berdiri dan menemui pasangan itu. "Aku adalah Hatim," katanya, "serahkanlah aku pada raja baru itu dan ambil uang hadiahmu."
Tukang kayu itu merasa malu, dan air matanya tumpah. "Tidak, Hatim yang Agung," katanya, "aku tidak mungkin tega menyerahkanmu."
Sementara mereka berbicara, sekelompok orang yang mencari raja dalam pelarian dan akan menangkapnya berada di dekat sana.
"Kalau kau tidak mau menyerahkanku," kata Hatim, "aku akan menyerahkan diriku pada raja dan mengaku bahwa kau telah membantuku bersembunyi. Dengan begitu, kau akan dihukum karena berkhianat."
Sekelompok orang tadi, yang mengenali Hatim, segera menangkapnya dan membawanya kepada raja lalim itu. Tukang kayu itu mengikuti dengan sedih di belakang.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Dan demikianlah raja lalim itu, beserta ribuan prajurit, merebut negeri Hatim. Raja itu tidak memungut pajak lebih tinggi dari pada yang dipungut Hatim. Tetapi, ada satu hal yang mengganggunya, yaitu bisik-bisik orang banyak bahwa negeri yang baru dimilikinya itu merupakan buah dari kemurahan hati Hatim yang menyerahkan negeri itu kepadanya.
"Aku tidak dapat menjadi raja sejati atas negeri ini," pikir raja lalim itu, "sebelum aku menangkap Hatim. Selama ia masih hidup, sebagian rakyat masih akan setia kepadanya. Mereka tidak akan sepenuhnya tunduk kepadaku, meskipun mulut mereka berkata begitu."
Raja itu pun mengumumkan bahwa barangsiapa yang menyerahkan Hatim akan mendapat hadiah 5000 keping emas. Hatim tidak mengetahui perihal maklumat tersebut sampai suatu hari ketika ia duduk di mulut gua dan mendengar percakapan antara tukang kayu dan istrinya.
Tukang kayu berkata, "Istriku sayang, sekarang aku sudah tua dan kau masih sangat muda. Kita memiliki anak yang masih kecil, dan dalam urutan alamiah peristiwa-peristiwa, sudah sewajarnya aku akan mati lebih dahulu darimu sementara anak kita masih belia. Seandainya kita bisa menemukan Hatim dan menangkapnya, untuk memperoleh hadiah lima ribu keping emas dari raja, masa depan kalian tentu akan terjamin."
"Yang kau katakan itu memalukan!" sergah istrinya, "Lebih baik kau mati, dan aku serta anak kita kelaparan, dari pada tangan kita bernodakan darah orang yang paling murah hati sepanjang masa, yang mengorbankan segalanya bagi kebaikan kita."
"Begitu ya," kata orang tua itu, "Tetapi seorang lelaki harus memikirkan kepentingannya sendiri. Bagaimanapun aku punya tanggung jawab. Lagipula, dari hari ke hari semakin banyak orang yang menganggap Hatim itu pengecut. Hanya masalah waktu saja sebelum mereka mencari ke semua tempat persembunyian dan menangkapnya."
"Anggapan bahwa Hatim pengecut dilandasi oleh hasrat mendapat emas. Lebih banyak lagi pembicaraan serupa ini dan Hatim akan hidup sia-sia."
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Pada saat itu Hatim berdiri dan menemui pasangan itu. "Aku adalah Hatim," katanya, "serahkanlah aku pada raja baru itu dan ambil uang hadiahmu."
Tukang kayu itu merasa malu, dan air matanya tumpah. "Tidak, Hatim yang Agung," katanya, "aku tidak mungkin tega menyerahkanmu."
Sementara mereka berbicara, sekelompok orang yang mencari raja dalam pelarian dan akan menangkapnya berada di dekat sana.
"Kalau kau tidak mau menyerahkanku," kata Hatim, "aku akan menyerahkan diriku pada raja dan mengaku bahwa kau telah membantuku bersembunyi. Dengan begitu, kau akan dihukum karena berkhianat."
Sekelompok orang tadi, yang mengenali Hatim, segera menangkapnya dan membawanya kepada raja lalim itu. Tukang kayu itu mengikuti dengan sedih di belakang.
Lihat Juga :