Perempuan Ini Mengaku Nabi Begitu Rasulullah SAW Wafat
Selasa, 01 November 2022 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Muhammad Husain Haekal, sebenarnya segala cerita tentang Sajah aneh semua. Segala yang diceritakan orang mengenai dirinya lebih menyerupai cerita-cerita rekaan.
Sajah bermaksud ke Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd. Desa tempat lahir dan tinggal nabi palsu lainnya bernama Musailamah.
Membagi Bumi
Setelah Sajah dan pasukannya sampai di Yamamah, Musailamah takut dan khawatir, bahwa bila ia sibuk menghadapinya, ia akan dikalahkan oleh pasukan Muslimin atau oleh kabilah-kabilah berdekatan. Karenanya ia memberikan hadiah kepada Sajah yang dikirimkan sebagai tanda meminta keamanan untuk dirinya sampai ia datang menemui perempuan itu.
Sajah dan pasukannya berhenti di sebuah mata air dan Musailamah diizinkan datang. Setelah datang dengan empat puluh orang dari Banu Hanifah, ia berbicara berdua dengan Sajah. Ia bercerita kepada Sajah, bahwa tadinya ia berpendapat bumi ini separuh untuk Quraisy, tetapi orang-orang Quraisy itu kejam. Oleh karena itu, biarlah separuh bumi ini untuk Sajah.
Musailamah membacakan sebuah sajak yang sangat menyenangkan hati perempuan itu. Dia pun membalasnya dengan sajak serupa. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang lama sekali. Ternyata Sajah sangat mengagumi Musailamah dan mengagumi tutur katanya yang serba manis. Rencananya mengenai kaumnya juga menarik perhatiannya, dan dengan begitu akhirnya ia mengakui keunggulannya.
Baca juga: Kisah Ayah dan Anak yang Sahid dalam Memerangi Nabi Palsu
Setelah Musailamah menawarkan agar kenabiannya digabung saja dengan kenabian Sajah dan mengadakan ikatan perkawinan antara keduanya, hatinya goyah. Lamaran itu pun diterima.
Sejak itu Sajah pindah ke kemah Musailamah dan tinggal bersama selama tiga hari. Setelah kembali kepada masyarakatnya sendiri, Sajah mengatakan bahwa ia melihat Musailamah benar, dan karenanya ia menikah dengan laki-laki itu.
Menurut Haekal, dua sembahyang dicabut untuk kaumnya sebagai mas kawin. Tetapi setelah kaumnya tahu perkawinan itu tanpa mas kawin, mereka berkata kepada Sajah: "Kembalilah kepadanya. Tidak baik orang seperti kau kawin tanpa maskawin."
Setelah Sajah kembali, Musailamah menutup pintu bentengnya dan hanya mengutus orang menanyakan apa maksudnya. Kemudian ia mencabut dua macam sembahyang demi menghormati Sajah, sembahyang malam dan sembahyang subuh. Dengan demikian persoalan mereka berdua selesai dengan ketentuan separuh penghasilan Yamamah akan dibawa oleh Sajah dan yang separuh lagi akan dikirim sesuai dengan isi persetujuan.
Sajah membawa penghasilan itu kemudian ia kembali ke Mesopotamia. Beberapa orang ditinggalkan di tempat itu untuk membawa yang separuh lagi. Tetapi orang-orang itu hanya sekadar menunggu kedatangan pasukan Muslimin yang kemudian menyerang Musailamah dan membunuhnya.
Selama itu Sajah tetap di Taglib hingga kemudian dipindahkan oleh Muawiyah ke Banu Tamim tatkala terjadi musim paceklik dan dia tinggal di sana sebagai seorang Muslimah yang baik hingga matinya.
Baca juga: Nabi Palsu yang Muncul Pada Masa Rasulullah SAW Masih Hidup
Sajah bermaksud ke Yamamah. Di sebuah desa yang sekarang ini disebut al-Jibliyah. Dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah wilayah Nejd. Desa tempat lahir dan tinggal nabi palsu lainnya bernama Musailamah.
Membagi Bumi
Setelah Sajah dan pasukannya sampai di Yamamah, Musailamah takut dan khawatir, bahwa bila ia sibuk menghadapinya, ia akan dikalahkan oleh pasukan Muslimin atau oleh kabilah-kabilah berdekatan. Karenanya ia memberikan hadiah kepada Sajah yang dikirimkan sebagai tanda meminta keamanan untuk dirinya sampai ia datang menemui perempuan itu.
Sajah dan pasukannya berhenti di sebuah mata air dan Musailamah diizinkan datang. Setelah datang dengan empat puluh orang dari Banu Hanifah, ia berbicara berdua dengan Sajah. Ia bercerita kepada Sajah, bahwa tadinya ia berpendapat bumi ini separuh untuk Quraisy, tetapi orang-orang Quraisy itu kejam. Oleh karena itu, biarlah separuh bumi ini untuk Sajah.
Musailamah membacakan sebuah sajak yang sangat menyenangkan hati perempuan itu. Dia pun membalasnya dengan sajak serupa. Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang lama sekali. Ternyata Sajah sangat mengagumi Musailamah dan mengagumi tutur katanya yang serba manis. Rencananya mengenai kaumnya juga menarik perhatiannya, dan dengan begitu akhirnya ia mengakui keunggulannya.
Baca juga: Kisah Ayah dan Anak yang Sahid dalam Memerangi Nabi Palsu
Setelah Musailamah menawarkan agar kenabiannya digabung saja dengan kenabian Sajah dan mengadakan ikatan perkawinan antara keduanya, hatinya goyah. Lamaran itu pun diterima.
Sejak itu Sajah pindah ke kemah Musailamah dan tinggal bersama selama tiga hari. Setelah kembali kepada masyarakatnya sendiri, Sajah mengatakan bahwa ia melihat Musailamah benar, dan karenanya ia menikah dengan laki-laki itu.
Menurut Haekal, dua sembahyang dicabut untuk kaumnya sebagai mas kawin. Tetapi setelah kaumnya tahu perkawinan itu tanpa mas kawin, mereka berkata kepada Sajah: "Kembalilah kepadanya. Tidak baik orang seperti kau kawin tanpa maskawin."
Setelah Sajah kembali, Musailamah menutup pintu bentengnya dan hanya mengutus orang menanyakan apa maksudnya. Kemudian ia mencabut dua macam sembahyang demi menghormati Sajah, sembahyang malam dan sembahyang subuh. Dengan demikian persoalan mereka berdua selesai dengan ketentuan separuh penghasilan Yamamah akan dibawa oleh Sajah dan yang separuh lagi akan dikirim sesuai dengan isi persetujuan.
Sajah membawa penghasilan itu kemudian ia kembali ke Mesopotamia. Beberapa orang ditinggalkan di tempat itu untuk membawa yang separuh lagi. Tetapi orang-orang itu hanya sekadar menunggu kedatangan pasukan Muslimin yang kemudian menyerang Musailamah dan membunuhnya.
Selama itu Sajah tetap di Taglib hingga kemudian dipindahkan oleh Muawiyah ke Banu Tamim tatkala terjadi musim paceklik dan dia tinggal di sana sebagai seorang Muslimah yang baik hingga matinya.
Baca juga: Nabi Palsu yang Muncul Pada Masa Rasulullah SAW Masih Hidup
(mhy)
Lihat Juga :