Kisah Sahabat Nabi

Kisah Ayah dan Anak yang Sahid dalam Memerangi Nabi Palsu

loading...
Kisah Ayah dan Anak yang Sahid dalam Memerangi Nabi Palsu
Pasukan Islam. Foto/Ilustrasi/Ist
THUFAIL bin Amr adalah bangsawan Arab yang terpandang. Pada masa jahiliyah dia adalah kepala kabilah Daus. Dia termasuk pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku.

Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu. Dia senang memberi makan orang yang kelaparan, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia adalah pujangga yang pintar dan cerdas. Penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap yang manis dan yang pahit. Karyanya memesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya Tihamah,’ menuju Makkah . Waktu itu konfrontasi antara Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam (SAW) dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasulullah SAW hanya berdo’a kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang dibawanya.

Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengajanya, karena kedatangannya ke Makkah bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraiys belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Pada suatu ketika kedatangan Thufail ke Makkah disambut agak luar biasa, berbeda dari hari-hari sebelumnya. "Aku ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuiku," ujar Thufail berkisah.

Orang-orang Quraisy yang menemuinya berkata, "Hal Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut."

Thufail belum paham apa yang dimaksud dengan kemelut itu. "Orang yang menda’wahkan diri menjadi Nabi itu ternyata telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah persatuan kita semua," tutur mereka. "Kami kuatir dia akan mempengaruhi Anda pula," lanjutnya.

Mereka juga menyatakan khawatir Nabi Muhammad mempengruhi dirinya, sehingga juga akan mempengaruhi Kabilah Daus.
halaman ke-1
cover top ayah
وَذَرُوۡا ظَاهِرَ الۡاِثۡمِ وَبَاطِنَهٗ‌ؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ یَکْسِبُوۡنَ الۡاِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُوۡا يَقۡتَرِفُوۡنَ
Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

(QS. Al-An’am:120)
cover bottom ayah
preload video