Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi
Senin, 07 November 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi saya tidak terlalu dilindungi. Saya banyak melihat hal yang sebenarnya tidak seharusnya saya lihat pada usia lima, enam atau tujuh tahun.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Saya selalu ingin tahu ketika masih kecil. Saya ingin tahu segala sesuatu yang terjadi, dan melihat segala sesuatu yang seharusnya tidak saya lihat. Maksud saya, dunia seolah berada di rumah saya.
Saya melihat artis penipu meminta uang, para wanita membenci ibu saya, berusaha mengerling ayah saya. Saya melihat semuanya. Pada usia muda saya sudah melihat bagaimana orang dapat begitu manipulatif.
Jika saya melihat seorang wanita mendekati ayah lalu dia memberikan tanda tangannya dan sebuah ciuman di pipi serta beramah-tamah dengannya, saya akan berkata, "Saya akan bilang pada sang Utusan!" Sebab sebesar apa pun cinta saya pada ayah saya, saya tahu siapa bossnya, dan itu adalah Elijah Muhammad. Dia begitu setia pada sang utusan tersebut.
Apakah menurut Anda menjadi putri Muhammad Ali membantu Anda mendapatkan sebuah persetujuan rekaman?
Tidak, hal itu tidak membantu. Bisnis ini sangat berat, memakan waktu. Anda akan melihat banyak orang dalam bisnis ini harus menunggu selama 10 tahun untuk mendapatkan sebuah persetujuan rekaman. Ada juga orang yang tidak mempunyai ayah yang terkenal yang hanya menunggu satu tahun.
Dengan menjadi putri Ali, secara otomatis kaum muda akan mengenal saya. Kesan pertama yang mereka dapatkan adalah --Saya ragu, jangan-jangan dia dimanja.
Saya khawatir jangan-jangan dia telah memiliki segalanya. Itulah hal pertama yang dipikirkan kawan sebaya saya --sampai mereka merasa harus mengenal saya.
Jadi saya pikir sulit sekali bagi saya untuk membuktikan keberadaan saya di musik rap. Sulit sekali, karena orang-orang hanya menunggu saya untuk mencari-cari hal yang tidak mereka sukai.
Saya harus meyakinkan bahwa segala sesuatunya telah sempurna. Saya merasa harus menjelaskan latar belakang saya --bahwa saya tidak dibesarkan sebagai orang kaya. Satu-satunya jalan agar mereka mau membeli kaset Anda adalah dengan membuat mereka menyukai Anda.
Baca juga: Ngaku Kalah, Mike Tyson: Muhammad Ali yang Terhebat
Mengapa memilih musik rap? Latar belakang Anda sebenarnya tidak mendukung Anda menjadi seorang penyanyi rap.
Itu sangat mendukung. Ada dua alasan: Kedua orang tua saya adalah entertainer. Ibu saya seorang fotografer. Ayah saya seorang penghibur. Dia seorang atlet. Ketika saya masih kecil, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penghibur.
Ayah saya memegang teguh agamanya dan berjuang lewat tinju. Dia seperti seseorang yang senantiasa menyampaikan sebuah pesan. Saya banyak mewarisi sifat ayah saya. Medium saya adalah musik rap.
Karena berada di dunia hiburan, ayah tahu pengaruh-pengaruh negatif dan kesalahan yang diperbuatnya pada masa kejayaannya. Dia tidak ingin kesalahan itu terjadi pada saya, dia hanya merasa tidak yakin. Tetapi dia tidak pernah memarahi saya.
Sebuah syair lagu saya mengatakan, "Belajarlah dari seorang rekan Muslimah..." Saya membiarkan orang-orang tahu bahwa saya seorang Muslim, dan saya menyampaikan itu pada semua orang. Semua anak muda sekarang mendengarkan musik rap, itulah yang menjadi motivasi saya.
Album solo saya yang pertama berjudul Life's a Test. Sebenarnya, ketika saya sedang membaca Al-Quran dan melihat catatan kakinya, saya memahami bahwa hidup adalah sebuah ujian dan saya berkata, wah, ini judul yang bagus! Paragraf pertamanya berbunyi:
This life ia a test
I must confess
'Cause I've learnt from the very best
Qur'anic verses say you must live to give
Step right up
I'm gonna tell you how it is...
Setiap orang mempunyai idola atau seseorang yang benar-benar mereka sukai. Dan setiap tahun, saya bertemu seseorang yang saya hormati, saya kagumi atau saya lihat berita yang mengagumi ayah saya.
Siapa pun dia, mereka mencintai ayah saya. Orang awam tidak pernah mengalami perhatian semacam itu dari seseorang yang merendahkan diri mereka kepada ayah Anda. Di satu pihak hal itu seperti tertuju kepada Anda. Saya mendapat semangat dari keadaan itu. Saya pikir ini sungguh menggembirakan.
Tidak seperti kebanyakan anak lain, saya ingat karir ayah saya dan banyak menghabiskan waktu bersamanya selama karirnya. Saya ingat ketika dia berlatih untuk beberapa pertarungan.
Saya melihatnya di Deer Lake bersama Larry Holmes sebagai mitra tandingnya. Orang-orang berdatangan, dan mereka memadati sasana tersebut.
Saya ingat Don King selalu berada di jajaran para kru. Ayah sering kali mengancam akan memotong rambutnya. Suasana di sana selalu menyenangkan. Melihat dedikasinya, betapa berat dia bekerja. Saya jadi mengerti kita tidak akan menjadi yang terbaik di suatu bidang jika tidak bekerja ekstra keras.
Baca juga: Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath
Adakah suatu pertandingan di mana Anda mengharapkan dia kalah sehingga dia akan berhenti bertinju?
Trevor Berbick. Pertarungan yang paling menyakitkan bagi saya untuk ditonton adalah pertandingannya melawan Larry Holmes. Saya tidak berada di sana. Saya menyaksikannya di televisi bersama sekelompok orang asing di pusat kota Chicago. Mereka tidak mengetahui putri petinju itu ada di antara mereka, duduk di bagian belakang.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Saya selalu ingin tahu ketika masih kecil. Saya ingin tahu segala sesuatu yang terjadi, dan melihat segala sesuatu yang seharusnya tidak saya lihat. Maksud saya, dunia seolah berada di rumah saya.
Saya melihat artis penipu meminta uang, para wanita membenci ibu saya, berusaha mengerling ayah saya. Saya melihat semuanya. Pada usia muda saya sudah melihat bagaimana orang dapat begitu manipulatif.
Jika saya melihat seorang wanita mendekati ayah lalu dia memberikan tanda tangannya dan sebuah ciuman di pipi serta beramah-tamah dengannya, saya akan berkata, "Saya akan bilang pada sang Utusan!" Sebab sebesar apa pun cinta saya pada ayah saya, saya tahu siapa bossnya, dan itu adalah Elijah Muhammad. Dia begitu setia pada sang utusan tersebut.
Apakah menurut Anda menjadi putri Muhammad Ali membantu Anda mendapatkan sebuah persetujuan rekaman?
Tidak, hal itu tidak membantu. Bisnis ini sangat berat, memakan waktu. Anda akan melihat banyak orang dalam bisnis ini harus menunggu selama 10 tahun untuk mendapatkan sebuah persetujuan rekaman. Ada juga orang yang tidak mempunyai ayah yang terkenal yang hanya menunggu satu tahun.
Dengan menjadi putri Ali, secara otomatis kaum muda akan mengenal saya. Kesan pertama yang mereka dapatkan adalah --Saya ragu, jangan-jangan dia dimanja.
Saya khawatir jangan-jangan dia telah memiliki segalanya. Itulah hal pertama yang dipikirkan kawan sebaya saya --sampai mereka merasa harus mengenal saya.
Jadi saya pikir sulit sekali bagi saya untuk membuktikan keberadaan saya di musik rap. Sulit sekali, karena orang-orang hanya menunggu saya untuk mencari-cari hal yang tidak mereka sukai.

Saya harus meyakinkan bahwa segala sesuatunya telah sempurna. Saya merasa harus menjelaskan latar belakang saya --bahwa saya tidak dibesarkan sebagai orang kaya. Satu-satunya jalan agar mereka mau membeli kaset Anda adalah dengan membuat mereka menyukai Anda.
Baca juga: Ngaku Kalah, Mike Tyson: Muhammad Ali yang Terhebat
Mengapa memilih musik rap? Latar belakang Anda sebenarnya tidak mendukung Anda menjadi seorang penyanyi rap.
Itu sangat mendukung. Ada dua alasan: Kedua orang tua saya adalah entertainer. Ibu saya seorang fotografer. Ayah saya seorang penghibur. Dia seorang atlet. Ketika saya masih kecil, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penghibur.
Ayah saya memegang teguh agamanya dan berjuang lewat tinju. Dia seperti seseorang yang senantiasa menyampaikan sebuah pesan. Saya banyak mewarisi sifat ayah saya. Medium saya adalah musik rap.
Karena berada di dunia hiburan, ayah tahu pengaruh-pengaruh negatif dan kesalahan yang diperbuatnya pada masa kejayaannya. Dia tidak ingin kesalahan itu terjadi pada saya, dia hanya merasa tidak yakin. Tetapi dia tidak pernah memarahi saya.
Sebuah syair lagu saya mengatakan, "Belajarlah dari seorang rekan Muslimah..." Saya membiarkan orang-orang tahu bahwa saya seorang Muslim, dan saya menyampaikan itu pada semua orang. Semua anak muda sekarang mendengarkan musik rap, itulah yang menjadi motivasi saya.
Album solo saya yang pertama berjudul Life's a Test. Sebenarnya, ketika saya sedang membaca Al-Quran dan melihat catatan kakinya, saya memahami bahwa hidup adalah sebuah ujian dan saya berkata, wah, ini judul yang bagus! Paragraf pertamanya berbunyi:
This life ia a test
I must confess
'Cause I've learnt from the very best
Qur'anic verses say you must live to give
Step right up
I'm gonna tell you how it is...
Setiap orang mempunyai idola atau seseorang yang benar-benar mereka sukai. Dan setiap tahun, saya bertemu seseorang yang saya hormati, saya kagumi atau saya lihat berita yang mengagumi ayah saya.
Siapa pun dia, mereka mencintai ayah saya. Orang awam tidak pernah mengalami perhatian semacam itu dari seseorang yang merendahkan diri mereka kepada ayah Anda. Di satu pihak hal itu seperti tertuju kepada Anda. Saya mendapat semangat dari keadaan itu. Saya pikir ini sungguh menggembirakan.
Tidak seperti kebanyakan anak lain, saya ingat karir ayah saya dan banyak menghabiskan waktu bersamanya selama karirnya. Saya ingat ketika dia berlatih untuk beberapa pertarungan.
Saya melihatnya di Deer Lake bersama Larry Holmes sebagai mitra tandingnya. Orang-orang berdatangan, dan mereka memadati sasana tersebut.
Saya ingat Don King selalu berada di jajaran para kru. Ayah sering kali mengancam akan memotong rambutnya. Suasana di sana selalu menyenangkan. Melihat dedikasinya, betapa berat dia bekerja. Saya jadi mengerti kita tidak akan menjadi yang terbaik di suatu bidang jika tidak bekerja ekstra keras.
Baca juga: Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath
Adakah suatu pertandingan di mana Anda mengharapkan dia kalah sehingga dia akan berhenti bertinju?
Trevor Berbick. Pertarungan yang paling menyakitkan bagi saya untuk ditonton adalah pertandingannya melawan Larry Holmes. Saya tidak berada di sana. Saya menyaksikannya di televisi bersama sekelompok orang asing di pusat kota Chicago. Mereka tidak mengetahui putri petinju itu ada di antara mereka, duduk di bagian belakang.
Lihat Juga :