Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam
Kamis, 08 Desember 2022 - 17:21 WIB
loading...
A
A
A
Apabila Anda sangat takut pada perang nuklir, Anda harus mengambil langkah yang tegas. Jadi dia bersedia menanggung risiko untuk menghindari konfrontasi selanjutnya. Jika mereka dapat meyakinkan orang-orang Amerika bahwa ada bahaya yang sebenarnya, maka mereka dapat memanipulasi kita. Dan kita tidak bisa membayangkan skenario pasca-perang nuklir. [Sedang] mereka bisa.
Penasihat Nixon
Saya mempelajari orkestrasi pemikiran Amerika oleh Soviet, dan Richard Nixon membacanya di atas pesawat dari California ke New York. Dia memanggil saya segera setelah mendarat, pada Januari 1963, dan bertanya apakah saya bersedia menjadi penasihatnya untuk politik luar negeri.
Kami membagi dunia menjadi beberapa area dan pokok persoalan, lalu saya akan mempelajari majalah profesional untuk mendapatkan artikel-artikel terbaik pada setiap pokok persoalan. Kemudian saya secara teratur menggabungkan semua artikel itu menjadi buku ringkasan untuk dibacanya, sebab dia orang yang sangat gemar membaca.
Nixon tertarik untuk membaca tentang bermacam-macam agama. Dan dia ingin mengetahui tentang Islam. Saat itu saya telah membaca sedikit tentang Islam, sebab saya pikir Islam akan menjadi sekutu Amerika Serikat yang paling kuat dan tahan lama untuk melawan Komunisme --sebab kami berdua, saya dan Nixon, memandang Komunisme sebagai ancaman dunia.
Pada waktu itu, dari 1963 sampai 1966, saya mendesak Nixon untuk kembali memimpin. Saya juga menasihati Gerard Ford tentang berbagai majalah, dan saya juga menjadi penasihat untuk pemimpin-pemimpin besar partai Republik.
Setelah pemilihan pada 1966, terpilihlah 10 anggota kongres baru, timbul rasa kepercayaan pada Partai Republik. Saya diundang sebagai staf ahli pertahanan Partai Republik untuk memberikan pengarahan tentang masalah-masalah pertahanan kepada seluruh anggota baru kongres dari partai Republik. Kami mengadakan sesi pengarahan itu selama tiga hari.
Segera setelah itu saya pergi ke kantor Nixon. Di situ ada Pat Nixon yang sedang sibuk menuliskan alamat pada kartu-kartu Natal. Biasanya dia mengirimkan dua atau tiga ratus kartu, tetapi waktu itu kantornya penuh dengan ribuan kartu, dan saya berkata, "Ah, fantastic, boss akan mencalonkan diri lagi."
Pat berkata, "Ya, dan saya mendapat firasat yang mengerikan bahwa dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Saya berkata, "Hei, Anda pasti bergurau. Itu sama sekali tidak masuk akal."
Dia berkata, "Saya tahu, tetapi dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Dia begitu cemas dengan keinginan Nixon untuk mencalonkan diri. Kalau saya ingat-ingat kembali, saya pikir dia melihat dua kepribadian yang dimiliki Nixon: yang satu, kepribadiannya yang asli --Anda tidak akan dapat menemukan orang yang lebih baik dari Nixon; yang lain adalah kepribadiannya yang timbul jika dia sedang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan-- sebab dia berada di jalur yang salah, tapi ingin berhasil.
Itulah sebabnya dia menarik Henry Kissinger --untuk mendapatkan kredibilitas dengan apa yang saya rebut sebagai pemerintahan sekular. Itulah penyebab kasus Watergate: Kepribadiannya yang salah timbul.
Ketika sedang memperjuangkan kekuasaannya, dia menjadi seorang petarung jalanan, dan Nixon yang baik lenyap begitu saja; dan saya pikir itulah yang diketahui oleh Pat Nixon --bahwa hal ini akan terjadi, sebagaimana kenyataannya, ketika dia mencapai Gedung Putih.
Kissinger menyingkirkan saya selama kampanye 1968. Dia menugaskan saya untuk menulis lima makalah tentang lima pokok persoalan politik luar negeri. Saya mengerjakannya masing-masing lima puluh halaman.
Begitulah cara Kissinger menghindari lawan-lawannya. Dia akan membuat mereka sibuk. Kelima makalah tersebut saya jilid menjadi satu buku. Dan Gerard Ford menuliskan pendahuluan yang menarik.
Ford memanggil saya, dan berkata, "Engkau dapat mempublikasikan bukumu dengan pendahuluan saya, tetapi saya ingin memberi komentar: Dalam setiap ulasan dari masing-masing pokok persoalan besar (yang tertulis dalam buku) ini, engkau dan Kissinger sama sekali tidak sependapat. Demi kebaikanmu sendiri, jangan publikasikan buku ini. Lupakan saja opini-opinimu. Lanjutkanlah dan lakukan apa yang telah diperintahkan kepadamu."
Tetapi saya masih tetap mengatakan apa yang saya pikirkan.
Nixon menunjuk saya menjadi wakil direktur perencanaan untuk Dewan Keamanan Nasional. Tetapi Direkturnya adalah Kissinger. Lalu saya datang untuk bekerja, mereka menunjukkan pada saya di mana posisi saya dalam jajaran staf.
Pada hari berikutnya, saya datang lagi tapi ternyata saya telah disingkirkan. Saya dipecat oleh Kissinger setelah bekerja satu hari. Kissinger tidak punya pilihan. Anda harus bekerja dengan orang-orang yang akan mendukung Anda. Maka dia memecat saya.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Agama yang Menjijikkan
Saya tidak pernah berhasrat mempelajari agama Islam. Agama ini sangat primitif. Dan saya menasihati Nixon untuk menggunakan Islam sebagai sekutu untuk melawan Komunis. Saya pikir Islam adalah agama yang menjijikkan, tetapi paling tidak, dapat digunakan untuk melawan Komunisme.
Tetapi kemudian pada musim panas tahun 1977, saya sedang berada di Bahrain, suhu jauh di atas 100 derajat. Istri saya ingin melihat Al-Muharraq, yang merupakan kota dagang tertua, yang hanya terdiri dari lorong-lorong sempit, seperti sebuah jaringan jalan yang semrawut dan sengaja dibuat untuk menjauhkan para pembajak agar tidak menyerbu.
Kami ingin melihat istana-istana pangeran dagang di tengah kota Al-Muharraq. Kami tersesat di tengah keramaian itu, dan saya merasa akan pingsan. Saya mungkin tidak sadarkan diri selama dua atau tiga menit.
Ada orang tua lewat dan dia tahu saya dalam kesulitan. Dia mengajak kami ke rumahnya yang terletak di seberang jalan. Kami menghabiskan sisa hari itu di sana. Kami ngobrol sembari makan-makan. Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia seorang Muslim.
Saya sungguh terpesona karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak pernah membicarakan tentang Islam. Kami berbincang tentang apa-apa yang baik di dunia, tentang hal-hal yang buruk di dunia, dan tentang apa yang penting di dunia. Juga tentang peran Tuhan di dunia, tetapi tidak mengenai agama Islam.
Saya pikir, ini sungguh aneh. Orang ini membicarakan segala sesuatu yang saya percaya. Tetapi dia bilang dia seorang Muslim. Pasti ada sesuatu yang salah. Saya menyimpulkan sebaiknya saya mulai mempelajari agama Islam. Nyatalah bahwa saya telah dicuci otak.
Saya mempelajari agama itu, dan menyadari bahwa segala sesuatu dalam Islam adalah benar-benar apa yang selama ini selalu saya yakini. Tetapi saya tidak menyukai aturan untuk membungkuk (ruku'). Bagi saya hal itu menjijikkan. Anda hanya membungkuk pada seorang raja atau seseorang yang terhormat, dan saya tidak akan membungkuk kepada siapa pun.
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Penasihat Nixon
Saya mempelajari orkestrasi pemikiran Amerika oleh Soviet, dan Richard Nixon membacanya di atas pesawat dari California ke New York. Dia memanggil saya segera setelah mendarat, pada Januari 1963, dan bertanya apakah saya bersedia menjadi penasihatnya untuk politik luar negeri.
Kami membagi dunia menjadi beberapa area dan pokok persoalan, lalu saya akan mempelajari majalah profesional untuk mendapatkan artikel-artikel terbaik pada setiap pokok persoalan. Kemudian saya secara teratur menggabungkan semua artikel itu menjadi buku ringkasan untuk dibacanya, sebab dia orang yang sangat gemar membaca.
Nixon tertarik untuk membaca tentang bermacam-macam agama. Dan dia ingin mengetahui tentang Islam. Saat itu saya telah membaca sedikit tentang Islam, sebab saya pikir Islam akan menjadi sekutu Amerika Serikat yang paling kuat dan tahan lama untuk melawan Komunisme --sebab kami berdua, saya dan Nixon, memandang Komunisme sebagai ancaman dunia.
Pada waktu itu, dari 1963 sampai 1966, saya mendesak Nixon untuk kembali memimpin. Saya juga menasihati Gerard Ford tentang berbagai majalah, dan saya juga menjadi penasihat untuk pemimpin-pemimpin besar partai Republik.
Setelah pemilihan pada 1966, terpilihlah 10 anggota kongres baru, timbul rasa kepercayaan pada Partai Republik. Saya diundang sebagai staf ahli pertahanan Partai Republik untuk memberikan pengarahan tentang masalah-masalah pertahanan kepada seluruh anggota baru kongres dari partai Republik. Kami mengadakan sesi pengarahan itu selama tiga hari.
Segera setelah itu saya pergi ke kantor Nixon. Di situ ada Pat Nixon yang sedang sibuk menuliskan alamat pada kartu-kartu Natal. Biasanya dia mengirimkan dua atau tiga ratus kartu, tetapi waktu itu kantornya penuh dengan ribuan kartu, dan saya berkata, "Ah, fantastic, boss akan mencalonkan diri lagi."
Pat berkata, "Ya, dan saya mendapat firasat yang mengerikan bahwa dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Saya berkata, "Hei, Anda pasti bergurau. Itu sama sekali tidak masuk akal."
Dia berkata, "Saya tahu, tetapi dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Dia begitu cemas dengan keinginan Nixon untuk mencalonkan diri. Kalau saya ingat-ingat kembali, saya pikir dia melihat dua kepribadian yang dimiliki Nixon: yang satu, kepribadiannya yang asli --Anda tidak akan dapat menemukan orang yang lebih baik dari Nixon; yang lain adalah kepribadiannya yang timbul jika dia sedang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan-- sebab dia berada di jalur yang salah, tapi ingin berhasil.
Itulah sebabnya dia menarik Henry Kissinger --untuk mendapatkan kredibilitas dengan apa yang saya rebut sebagai pemerintahan sekular. Itulah penyebab kasus Watergate: Kepribadiannya yang salah timbul.
Ketika sedang memperjuangkan kekuasaannya, dia menjadi seorang petarung jalanan, dan Nixon yang baik lenyap begitu saja; dan saya pikir itulah yang diketahui oleh Pat Nixon --bahwa hal ini akan terjadi, sebagaimana kenyataannya, ketika dia mencapai Gedung Putih.
Kissinger menyingkirkan saya selama kampanye 1968. Dia menugaskan saya untuk menulis lima makalah tentang lima pokok persoalan politik luar negeri. Saya mengerjakannya masing-masing lima puluh halaman.
Begitulah cara Kissinger menghindari lawan-lawannya. Dia akan membuat mereka sibuk. Kelima makalah tersebut saya jilid menjadi satu buku. Dan Gerard Ford menuliskan pendahuluan yang menarik.
Ford memanggil saya, dan berkata, "Engkau dapat mempublikasikan bukumu dengan pendahuluan saya, tetapi saya ingin memberi komentar: Dalam setiap ulasan dari masing-masing pokok persoalan besar (yang tertulis dalam buku) ini, engkau dan Kissinger sama sekali tidak sependapat. Demi kebaikanmu sendiri, jangan publikasikan buku ini. Lupakan saja opini-opinimu. Lanjutkanlah dan lakukan apa yang telah diperintahkan kepadamu."
Tetapi saya masih tetap mengatakan apa yang saya pikirkan.
Nixon menunjuk saya menjadi wakil direktur perencanaan untuk Dewan Keamanan Nasional. Tetapi Direkturnya adalah Kissinger. Lalu saya datang untuk bekerja, mereka menunjukkan pada saya di mana posisi saya dalam jajaran staf.
Pada hari berikutnya, saya datang lagi tapi ternyata saya telah disingkirkan. Saya dipecat oleh Kissinger setelah bekerja satu hari. Kissinger tidak punya pilihan. Anda harus bekerja dengan orang-orang yang akan mendukung Anda. Maka dia memecat saya.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Agama yang Menjijikkan
Saya tidak pernah berhasrat mempelajari agama Islam. Agama ini sangat primitif. Dan saya menasihati Nixon untuk menggunakan Islam sebagai sekutu untuk melawan Komunis. Saya pikir Islam adalah agama yang menjijikkan, tetapi paling tidak, dapat digunakan untuk melawan Komunisme.
Tetapi kemudian pada musim panas tahun 1977, saya sedang berada di Bahrain, suhu jauh di atas 100 derajat. Istri saya ingin melihat Al-Muharraq, yang merupakan kota dagang tertua, yang hanya terdiri dari lorong-lorong sempit, seperti sebuah jaringan jalan yang semrawut dan sengaja dibuat untuk menjauhkan para pembajak agar tidak menyerbu.
Kami ingin melihat istana-istana pangeran dagang di tengah kota Al-Muharraq. Kami tersesat di tengah keramaian itu, dan saya merasa akan pingsan. Saya mungkin tidak sadarkan diri selama dua atau tiga menit.
Ada orang tua lewat dan dia tahu saya dalam kesulitan. Dia mengajak kami ke rumahnya yang terletak di seberang jalan. Kami menghabiskan sisa hari itu di sana. Kami ngobrol sembari makan-makan. Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia seorang Muslim.
Saya sungguh terpesona karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak pernah membicarakan tentang Islam. Kami berbincang tentang apa-apa yang baik di dunia, tentang hal-hal yang buruk di dunia, dan tentang apa yang penting di dunia. Juga tentang peran Tuhan di dunia, tetapi tidak mengenai agama Islam.
Saya pikir, ini sungguh aneh. Orang ini membicarakan segala sesuatu yang saya percaya. Tetapi dia bilang dia seorang Muslim. Pasti ada sesuatu yang salah. Saya menyimpulkan sebaiknya saya mulai mempelajari agama Islam. Nyatalah bahwa saya telah dicuci otak.
Saya mempelajari agama itu, dan menyadari bahwa segala sesuatu dalam Islam adalah benar-benar apa yang selama ini selalu saya yakini. Tetapi saya tidak menyukai aturan untuk membungkuk (ruku'). Bagi saya hal itu menjijikkan. Anda hanya membungkuk pada seorang raja atau seseorang yang terhormat, dan saya tidak akan membungkuk kepada siapa pun.
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Lihat Juga :