Kisah Tazim Jaffer Pengikut Ajaran Aga Khan yang Selalu Merindukan Masjid
Sabtu, 17 Desember 2022 - 09:17 WIB
loading...
A
A
A
Jika dia seorang pemuda Isma'ili, itu merupakan pilihan pertama saya; tetapi jika bukan, saya tidak berkeberatan. Saya kira kelompok keturunan akan semakin besar. Saya juga berpikir mungkin ini salah satu cara untuk mengatasi problema perdamaian dunia. Sebab jika seorang Yahudi menikahi seorang Muslim, dan seorang Katolik Irlandia menikahi seorang Protestan, saya pikir kita dapat mengatasi beberapa masalah kita.
Pendapat saya sangat liberal, tetapi untuk beberapa hal saya sangat konservatif.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Davud Abdul Hakim, Belajar Banyak Agama Sebelum Masuk Islam
Apakah Anda lebih menyukai perkawinan yang dijodohkan?
Saya tidak akan mengiklankannya di koran, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang India, tetapi saya akan melakukannya dengan kata-kata. Saya mengatakan ini pada kakak-kakak perempuan saya. Salah seorang dari mereka berkata, "Wah, jangan katakan pada orang-orang bahwa kamu mencari seorang pemuda!"
Akhir-akhir ini di Youngstown mereka membangun sebuah masjid. Di masjid tersebut ada segala jenis Muslim yang berbeda-beda. Sebagian besar tata cara ibadah mereka, sholat dan doa mereka, dan etika mereka berbeda dari yang saya lakukan.
Masjid itu lebih bersifat Internasional. Di sana terdapat orang-orang Muslim dari Timur Tengah, Pakistan, India. Jika kami pergi ke masjid, kami duduk di lantai, tapi kaum wanita Isma'ili tidak perlu menutup kepala mereka. Tapi di Pakistan mereka barus menutup kepala mereka, itu karena adanya perbedaan kode etik untuk wanita.
Ketika saya pergi ke masjid di sini, saya membawa kerudung saya di bahu. Saya pergi ke sana untuk suatu kegiatan sosial. Sholat diadakan di ruang sholat di lantai atas. Kami di lantai bawah sedang makan dan saya masih menyandang kerudung saya di bahu. Rambut saya kelihatan dan saya kira hal itu tidak dapat diterima.
Salah satu dari lelaki di sana berdiri dan membuat pengumuman, "Ada beberapa wanita yang sangat tidak menghormati dan mereka tidak menutup kepala mereka."
Saya menutup kepala saya dan saya mulai mengomel pada orang di samping saya, "Saya pikir ini ruangan umum, bukan ruang sholat."
Setiap orang menanggapinya dengan berbeda-beda.
Tetapi saya masih sering pergi ke sana, sebab saya rindu jika tidak pergi ke masjid.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Mengapa Anda tidak menutup kepala dan kaki Anda?
Aliran Aga khan berusaha untuk mengikuti zaman, dan menjaga tradisi secara tidak berlebihan serta tidak menonjolkannya. Dia menerjemahkan Al-Quran dan dia dapat mengubahnya menurut waktu dan tempat. Isma'ili di Pakistan mempunyai aturan yang berbeda dengan Isma'ili, katakanlah, di Inggris, dan Isma'ili di Afganistan mempunyai estetika kultural yang sangat berbeda.
Saya pikir saya telah terbiasa diperlakukan seperti ini di mana-mana. Tetapi saya tetap merindukan masjid. Ada waktu dan tempat ketika Anda menginginkan makanan Anda sendiri, selera Anda sendiri. Kerinduan itu tidak akan hilang. Anda dapat kehilangan segalanya tetapi ada beberapa hal tertentu yang tetap Anda rindukan.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Pendapat saya sangat liberal, tetapi untuk beberapa hal saya sangat konservatif.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Davud Abdul Hakim, Belajar Banyak Agama Sebelum Masuk Islam
Apakah Anda lebih menyukai perkawinan yang dijodohkan?
Saya tidak akan mengiklankannya di koran, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang India, tetapi saya akan melakukannya dengan kata-kata. Saya mengatakan ini pada kakak-kakak perempuan saya. Salah seorang dari mereka berkata, "Wah, jangan katakan pada orang-orang bahwa kamu mencari seorang pemuda!"
Akhir-akhir ini di Youngstown mereka membangun sebuah masjid. Di masjid tersebut ada segala jenis Muslim yang berbeda-beda. Sebagian besar tata cara ibadah mereka, sholat dan doa mereka, dan etika mereka berbeda dari yang saya lakukan.
Masjid itu lebih bersifat Internasional. Di sana terdapat orang-orang Muslim dari Timur Tengah, Pakistan, India. Jika kami pergi ke masjid, kami duduk di lantai, tapi kaum wanita Isma'ili tidak perlu menutup kepala mereka. Tapi di Pakistan mereka barus menutup kepala mereka, itu karena adanya perbedaan kode etik untuk wanita.
Ketika saya pergi ke masjid di sini, saya membawa kerudung saya di bahu. Saya pergi ke sana untuk suatu kegiatan sosial. Sholat diadakan di ruang sholat di lantai atas. Kami di lantai bawah sedang makan dan saya masih menyandang kerudung saya di bahu. Rambut saya kelihatan dan saya kira hal itu tidak dapat diterima.
Salah satu dari lelaki di sana berdiri dan membuat pengumuman, "Ada beberapa wanita yang sangat tidak menghormati dan mereka tidak menutup kepala mereka."
Saya menutup kepala saya dan saya mulai mengomel pada orang di samping saya, "Saya pikir ini ruangan umum, bukan ruang sholat."
Setiap orang menanggapinya dengan berbeda-beda.
Tetapi saya masih sering pergi ke sana, sebab saya rindu jika tidak pergi ke masjid.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Raphael Narbaez Jr, Pendeta Saksi Yehova yang Memeluk Islam
Mengapa Anda tidak menutup kepala dan kaki Anda?
Aliran Aga khan berusaha untuk mengikuti zaman, dan menjaga tradisi secara tidak berlebihan serta tidak menonjolkannya. Dia menerjemahkan Al-Quran dan dia dapat mengubahnya menurut waktu dan tempat. Isma'ili di Pakistan mempunyai aturan yang berbeda dengan Isma'ili, katakanlah, di Inggris, dan Isma'ili di Afganistan mempunyai estetika kultural yang sangat berbeda.
Saya pikir saya telah terbiasa diperlakukan seperti ini di mana-mana. Tetapi saya tetap merindukan masjid. Ada waktu dan tempat ketika Anda menginginkan makanan Anda sendiri, selera Anda sendiri. Kerinduan itu tidak akan hilang. Anda dapat kehilangan segalanya tetapi ada beberapa hal tertentu yang tetap Anda rindukan.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
(mhy)
Lihat Juga :