Kisah Muslimah Amerika Ketika Suami dan Dirinya Mengidap AIDS
Rabu, 21 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Orang memiliki sejuta cara untuk menangis, menjerit. Saya telah melanggar beberapa ketentuan stunnah. Misalnya, masalah hubungan antara pria dan wanita. Saya pergi mendatangi tempat tinggal rekan pria Muslim dan berkata, "Nah, istri pengganti Anda telah datang." Dan saya pergi belanja untuk mereka, dan saya bersahabat dengan mereka. Saya belanja dan masak untuk mereka.
Semua itu merupakan suatu petualangan. Saya telah berjumpa dengan orang-orang yang paling baik dan menyenangkan di planet ini. Dulu saya selalu berpikir bahwa semua orang adalah iblis yang menyamar menjadi manusia dan saya adalah sebuah pasak persegi yang tidak sesuai dengan lubang bulat, yang juga tidak berusaha untuk cocok dengan lubang bulat itu.
Saya duduk dengan sekelompok orang. Saya tidak menilai mereka: Oh, dia orang baik... orang ini lesbian, dan sebagainya. AIDS telah memisahkan manusia menjadi dua kelompok: Orang-orang yang tidak terkena AIDS dan orang-orang yang terkena AIDS.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya berpegang pada kehendak Allah, dan tidak akan melepaskannya. Saya tidak tahu kemana Dia akan membawa saya, tetapi saya tahu itu benar, kemana pun saya pergi. Dan Anda dapat merasakannya di sini [menepuk dadanya dengan kepalan tangan]. Anda tahu itu benar.
Saya tidak pernah berangan-angan menjadi penasihat AIDS, tetapi jika itu yang harus saya lakukan, saya akan melakukannya.
Segala sesuatu telah direncanakan dan dirancang untuk mengajar Anda. Itulah yang membentuk karakter Anda. Itulah yang mendefinisikan Anda. Keadaan selalu membuat Anda harus melakukan definisi ulang. Itulah yang membentuk Anda. Itulah gunanya kesengsaraan --untuk menguatkan karakter kita. Tanpa itu Anda tidak akan menjadi pribadi yang tegar.
Sodom dan Gomorah
Sebelum saya memulai jurnal itu, saya berhadapan dengan satu persoalan: bagaimana cara berjumpa dengan orang lain? Saya benar-benar tidak menyukai pilihan yang dihadapkan pada saya apalagi bertemu dengan orang lain yang juga terkena virus itu.
Saya membaca The Village Voice dan menilik rubrik pencari jodoh. Saya belum pernah melihat kolom itu selama hidup saya. Saya menandai beberapa iklan khusus untuk kaum pria. Mereka semuanya gay, mereka terkena virus itu, dan mereka mencari orang lain yang juga mengidap virus yang sama. Saya berkata, oh, ini ide yang bagus! Lalu saya mengirimkan sebuah iklan. Saya menulis sebagai berikut:
WANITA MUSLIM, HIV-POSITIF, UMUR 40-AN, SETEGAR KARANG, JUJUR. TIDAK UNTUK MAIN-MAIN, MENCARI SEORANG PRIA MUSLIM YANG SAMA. DI MANAKAH ANDA? MARI KITA PERGI.
Saya mendapatkan banyak jawaban. Saya juga mendapat balasan dari orang non-Muslim. Saya mengenal mereka semua sampai sekarang. Dan saya sangat akrab dengan mereka, tetapi saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup saya bersama salah satu dari mereka.
Saya mendapat teguran dari seorang rekan Muslim pria yang mengetahui bahwa saya begitu peduli tentang AIDS, tetapi tidak tahu saya terkena virus itu. Dia sangat marah. Iklan itu ditunjukkan kepadanya oleh salah seorang Muslim lain yang membacanya. Mereka berkumpul di Al-Farooq untuk suatu rapat kecil membahas iklan itu. Mereka tidak tahu yang menulis iklan tersebut adalah saya.
Dia berkata, "Lihat? Seorang rekan wanita Muslimah mengirimkan iklan dalam koran Sodom dan Gomorah. Dia terjangkit AIDS dan dia mengiklankan mencari seorang suami!"
Saya berkata, "Hei, mengapa kalian membaca kolom pribadi jika kalian pikir itu sebuah kolom yang menjijikkan?"
"Tidak, tidak, tidak. Pesolek ini membawanya kepada kami dan berkata, 'Saya tidak tahu ada orang Muslim yang juga terjangkiti virus ini'."
Lalu saya jawab, "Nah, adakah di antara kalian yang HIV-positif?" itu.
"Tidak, tidak, tak seorang pun di antara kami terjangkiti virus"
Saya berkata, "Kalau ada, suruh dia menghubungi nomor kontak di koran itu."
Dia heran, "Apa maksudmu?"
"Itu iklan saya."
Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar apa pun dari dia. Tidak pernah. Saya membuat diri saya menjadi seorang musuh.
Cara kaum Muslim memberi salam, antar sesama pria atau wanita, adalah dengan berpelukan. Sebelum saya terkena AIDS, itu merupakan kebiasaan yang saya lakukan secara otomatis. Setelah saya terjangkiti virus itu, saya menghentikan kebiasaan tersebut.
Saya menghentikannya karena dua alasan. Pertama: Saya tidak tahu sebenarnya setakut apakah orang-orang itu. Mengapa saya membuat diri saya merasa begitu pedih menyaksikan orang-orang itu menarik diri? Saya pernah mengalami peristiwa itu. Tapi saya tetap melakukannya dengan orang-orang yang paham bahwa mereka tidak akan tertulari lewat cara itu. Untuk orang yang tidak mengerti, saya tidak ingin menakuti mereka, dan saya tidak ingin melukai perasaan mereka.
Saya menyaksikan peristiwa itu terjadi pada seorang rekan pria Muslim. Dia meninggal dunia dua tahun yang lalu. Dia tertular AIDS melalui transfusi darah. Dia seorang penderita hemophily, masih muda. Dia tidak pernah keluar untuk melihat dunia.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Saya ingat suatu saat saya sedang berada di rumahnya ketika bibinya bersama dua anaknya datang menjenguknya. Dia duduk di tepi tempat tidur, dan dia berkata pada kedua gadis kecil itu, "Kemarilah beri saya sebuah pelukan." Mereka gemetar ketakutan, dan saat itu saya menyadari apa yang sedang terjadi.
Saya pikir dia akan membiarkannya, tetapi ternyata tidak. Dan dia berkata lagi, "Kemarilah, kemari dan peluklah saya."
Anak yang lebih besar, berusia sekitar delapan tahun, berkata, "Mama bilang saya tidak boleh memelukmu karena engkau terserang AIDS."
Saya benar-benar terguncang. Bukan untuk diri saya sendiri --saya telah mengerti hal-hal semacam itu-- tetapi untuk efek yang akan timbul pada diri orang itu. Ada beberapa orang di ruangan itu. Saya meminta mereka untuk meninggalkan kami.
Dia menangis, hatinya hancur berkeping-keping. Saya berkata, "Sekarang dengarkan. Engkau tahu mereka menyayangimu, tidak semua orang dapat menerima hal ini. Beberapa orang masih merasa takut dan engkau harus memahaminya. Mereka prihatin, ya, tetapi mereka masih takut menyentuhmu. Begitulah kenyataannya. Sekarang, engkau harus membasuh wajahmu, dan jangan menempatkan dirimu dalam posisi seperti itu lagi. Jangan pernah begitu."
Dia berusia dua puluh dua tahun ketika meninggal. Dia berada di rumah sakit. Saya datang menjenguknya. Saya membawa minyak. Saya berkata, "Nah, istri penggantimu telah tiba." Saya sudah pernah melihat pantatnya dan semuanya. Saya membantunya ke kamar mandi jika dia memerlukannya. Dan saya memijitnya dan bercanda dengannya. Lalu dua orang laki-laki Muslim masuk, mereka memandang saya dan berkata: "Astaghfirullah, saudaraku! Dia bukan suamimu, engkau tidak boleh menyentuhnya!"
Itu sebuah kebodohan. Mereka menanggapinya dengan begitu buruk, sehingga saya mengambil sebotol minyak dan berkata, "Baiklah, kalau begitu, Andalah yang harus menggosoknya."
Tak seorang pun yang berani menyentuhnya.
Saya bilang pada mereka, "Bisa saya bicara sebentar dengan kalian di ruang duduk?"
Saya katakan pada mereka, "Betapa beraninya Anda bicara tanpa memikirkannya. Allah mengetahui niat saya. Jika yang saya lakukan itu hanya membatalkan wudhu saya, maka saya akan berwudhu lagi. Jika Anda tidak bisa membantu, jika Anda tidak mau memasukkan kaki Anda ke air yang keruh, maka jangan halangi saya."
Penderitaan karena alkohol, tuna wisma, penyiksaan istri, penyiksaan anak-anak, homoseksual --semuanya sama saja. Semua itu persoalan yang harus diselesaikan. Jika Anda menyembunyikannya setiap kali Anda menjumpainya, itu berarti Anda tidak menyelesaikan apa pun.
Ketika Malik terlibat penggunaan narkotika dan saya mengharapkan dukungan dari masyarakat Muslim, saya mendatangi mereka dan berkata, "Tolong saya, Tunjukkan pada saya ada yang harus saya lakukan. Katakan pada saya bagaimana saya harus menghadapinya. Saya tidak ingin dia menjadi begini. Saya tidak akan minta cerai. Anda seorang laki-laki, dia pun seorang laki-laki, bicaralah sebagai seorang laki-laki padanya. Bicaralah padanya dengan bahasa yang engkau lebih tahu dari saya." Mungkin dia akan mendengar sesuatu yang engkau katakan, yang saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Malik tidak mau datang kepada seorang penasihat dengan saya, jadi saya berusaha mengajak penasihat itu ke rumah. Saya mengharapkan pertolongan, saya mengharapkan pertolongan yang Islami.
Saya diberitahu sesuatu yang menarik, seperti, "Siapa? Abdul Malik terlibat obat-obatan? Dia selalu bekerja setiap hari." Dengan kata lain, "Saya tidak melihatnya melakukan apapun."
AIDS merajalela di sana. Saya ingin kaum Muslim yang tidak terjangkiti virus itu mengusahakan supaya pelayanan AIDS dapat diperoleh, dan saya ingin melihat mereka melakukannya secara Islami, bukan berdasar pada ada yang mereka rasakan.
Rekan-rekan pria yang selalu berkomunikasi dengan saya, tidak pernah menghubungi saya lagi. Saya telah menghubungi mereka, berkomunikasi dengan mereka mungkin selama setahun, dan mereka tidak mau memberitahu saya siapa mereka. Mereka tahu bahwa saya terjangkiti virus itu juga.
Ada seorang rekan yang telah berkorespondensi dengan saya selama tiga tahun. Dia tinggal di California. Dia menikah dengan seseorang yang tidak terkena virus tersebut. Dia mendapatkan dirinya terkena virus itu, dan untungnya istrinya tidak tertular. Istrinya mengetahui hal itu, mereka telah menikah selama enam belas tahun. Dia tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya. Hati saya trenyuh pada pria ini. Tak ada pelukan, tak ada ciuman, tak ada hubungan intim di antara mereka. Mereka hanya berhubungan tentang anak-anak. Dia memasakkan makan malam. Hanya itu. Menyedihkan sekali ketika akhirnya dia berkata betapa mudahnya dia melakukan perzinaan.
Sementara itu, dia mulai mengalami gangguan syaraf, karena tidak mempunyai seorang pun tempat mengadu. Dan itulah yang menyebabkan kematiannya. Dia tidak mati karena virus itu. Saya memahami ketakutan istrinya. Lepaskan dia. Atau biarkan dia menikahi wanita lain --seseorang yang akan mengurus kebutuhannya. Itu tidak bisa diabaikan. Kebutuhan itu tidak hilang begitu saja hanya karena Anda terjangkiti virus itu. Kini, komunikasi dan uluran tangan justru merupakan sesuatu yang sangat membantu. Keadaan tidak lagi sama.
Saya ingat suatu ketika saya sedang duduk di kereta api dan ada seorang wanita tua duduk di samping saya. Dia tertidur, dan bersandar pada saya. Saya pikir betapa indahnya hal itu. Saya mendapat kehangatan darinya. Saya begitu menikmati kehadirannya dengan perasaan yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.
Ini membuat saya mengerti apa yang dibicarakan pria itu.
Tetapi juga memahami apa yang dibicarakan istrinya.
Saya menikah lagi untuk waktu yang sangat singkat, empat bulan, dengan seorang pria yang telah saya kenal selama lima belas tahun. Dia tahu saya mengidap virus itu; selama empat tahun dia meminta saya untuk menikah dengannya, dan saya menolak karena dia tidak terkena virus itu.
Akhirnya saya mengatakan ya, tetapi saya merasa tidak nyaman selama perkawinan itu. Tentu saja kami menggunakan alat pelindung. Tetapi saya selalu khawatir kalau-kalau alat itu robek. Pikiran saya selalu penuh kecurigaan. Saya ingin mencium. Tapi saya tidak akan menciumnya. Karena saya selalu merasa khawatir. Saya tidak pernah mendapatkan perasaan apa-apa dari hubungan intim kami karena saya tidak bisa santai. Saya tidak ingin bertanggung jawab karena menyakiti seseorang dengan cara seperti itu. Maka saya memutuskan orang yang terkena virus harus bersama dengan orang yang juga terjangkiti virus itu. Saya tidak dapat menghadapi hal itu lagi. Seseorang yang mengidap virus itu lebih membutuhkan saya daripada yang tidak.
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Perjuangan yang sebenarnya bukan mengenai virus AIDS. Tetapi mengenali fakta bahwa Allahlah yang berkuasa. Persoalannya begitu sederhana. Manusialah yang mempersulit semuanya. Manusia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya ketika dia menghendakinya. Kenyataan tidaklah seperti itu.
Saya tahu kepada siapa saya harus pergi. Saya mengucapkan syahadat. Saya memasuki perjanjian dengan Allah. Saya merasa seperti menemukan sebelanga emas di ujung pelangi. Rasanya saya dapat merasakan segala sesuatu. AIDS membuat saya mengerti siapa Allah.
Bagaimana saya memandang AIDS saat ini? Saya memandangnya seolah-olah Allah memberi kita kesempatan hebat untuk menggalang aksi spiritual kami bersama-sama. Tetapi saya tidak dapat berdiri dengan tombak dan perisai saya dan muncul dari pusat Amazon sambil berkata, "Sekarang lihatlah! Kalian semua harus bangkit dan melakukan hal ini!" Saya harus mengatakannya dengan kalimat yang lebih halus, "Lindungi kami. Dukunglah kami ketika kami melintasi dinding-dinding bata ini. Banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, walaupun tugas itu tidak menyenangkan. Kami harus melindungi kepentingan kami di sini."
Anak-anak saya sangat cantik. Semua anak saya mengetahui saya mengidap virus itu, kecuali yang paling kecil. Umurnya delapan tahun. Sekarang saya masih membiarkannya bermain dengan boneka Barbienya. Mengapa saya harus membuatnya takut?
Anak saya yang paling besar tampaknya begitu penasaran dengan dunia luar. Dia sedikit nakal. Saya melihat dia mulai aktif secara seksual, lalu saya berkata kepadanya, "Saya mendapat AIDS dan saya telah menikah. Kamu harus sangat hati-hati, kamu juga tidak terlepas dari kemungkinan itu, mengerti?"
Saya memeriksakan mereka. Mereka mengira kami pergi untuk kunjungan rutin kepada dokter anak-anak. Segalanya berjalan dengan baik. Tak satu pun dari anak-anak itu HIV-positif. Saya sangat bersyukur bahwa anak-anak saya tidak terjangkiti virus itu, saya tidak berhenti memekikkan Allahu Akbar!
Baca juga: Jadi Mualaf, Clarence Seedorf: Saya Tidak Mengubah Nama
Semua itu merupakan suatu petualangan. Saya telah berjumpa dengan orang-orang yang paling baik dan menyenangkan di planet ini. Dulu saya selalu berpikir bahwa semua orang adalah iblis yang menyamar menjadi manusia dan saya adalah sebuah pasak persegi yang tidak sesuai dengan lubang bulat, yang juga tidak berusaha untuk cocok dengan lubang bulat itu.
Saya duduk dengan sekelompok orang. Saya tidak menilai mereka: Oh, dia orang baik... orang ini lesbian, dan sebagainya. AIDS telah memisahkan manusia menjadi dua kelompok: Orang-orang yang tidak terkena AIDS dan orang-orang yang terkena AIDS.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Saya berpegang pada kehendak Allah, dan tidak akan melepaskannya. Saya tidak tahu kemana Dia akan membawa saya, tetapi saya tahu itu benar, kemana pun saya pergi. Dan Anda dapat merasakannya di sini [menepuk dadanya dengan kepalan tangan]. Anda tahu itu benar.
Saya tidak pernah berangan-angan menjadi penasihat AIDS, tetapi jika itu yang harus saya lakukan, saya akan melakukannya.
Segala sesuatu telah direncanakan dan dirancang untuk mengajar Anda. Itulah yang membentuk karakter Anda. Itulah yang mendefinisikan Anda. Keadaan selalu membuat Anda harus melakukan definisi ulang. Itulah yang membentuk Anda. Itulah gunanya kesengsaraan --untuk menguatkan karakter kita. Tanpa itu Anda tidak akan menjadi pribadi yang tegar.
Sodom dan Gomorah
Sebelum saya memulai jurnal itu, saya berhadapan dengan satu persoalan: bagaimana cara berjumpa dengan orang lain? Saya benar-benar tidak menyukai pilihan yang dihadapkan pada saya apalagi bertemu dengan orang lain yang juga terkena virus itu.
Saya membaca The Village Voice dan menilik rubrik pencari jodoh. Saya belum pernah melihat kolom itu selama hidup saya. Saya menandai beberapa iklan khusus untuk kaum pria. Mereka semuanya gay, mereka terkena virus itu, dan mereka mencari orang lain yang juga mengidap virus yang sama. Saya berkata, oh, ini ide yang bagus! Lalu saya mengirimkan sebuah iklan. Saya menulis sebagai berikut:
WANITA MUSLIM, HIV-POSITIF, UMUR 40-AN, SETEGAR KARANG, JUJUR. TIDAK UNTUK MAIN-MAIN, MENCARI SEORANG PRIA MUSLIM YANG SAMA. DI MANAKAH ANDA? MARI KITA PERGI.
Saya mendapatkan banyak jawaban. Saya juga mendapat balasan dari orang non-Muslim. Saya mengenal mereka semua sampai sekarang. Dan saya sangat akrab dengan mereka, tetapi saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup saya bersama salah satu dari mereka.
Saya mendapat teguran dari seorang rekan Muslim pria yang mengetahui bahwa saya begitu peduli tentang AIDS, tetapi tidak tahu saya terkena virus itu. Dia sangat marah. Iklan itu ditunjukkan kepadanya oleh salah seorang Muslim lain yang membacanya. Mereka berkumpul di Al-Farooq untuk suatu rapat kecil membahas iklan itu. Mereka tidak tahu yang menulis iklan tersebut adalah saya.
Dia berkata, "Lihat? Seorang rekan wanita Muslimah mengirimkan iklan dalam koran Sodom dan Gomorah. Dia terjangkit AIDS dan dia mengiklankan mencari seorang suami!"
Saya berkata, "Hei, mengapa kalian membaca kolom pribadi jika kalian pikir itu sebuah kolom yang menjijikkan?"
"Tidak, tidak, tidak. Pesolek ini membawanya kepada kami dan berkata, 'Saya tidak tahu ada orang Muslim yang juga terjangkiti virus ini'."
Lalu saya jawab, "Nah, adakah di antara kalian yang HIV-positif?" itu.
"Tidak, tidak, tak seorang pun di antara kami terjangkiti virus"
Saya berkata, "Kalau ada, suruh dia menghubungi nomor kontak di koran itu."
Dia heran, "Apa maksudmu?"
"Itu iklan saya."
Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar apa pun dari dia. Tidak pernah. Saya membuat diri saya menjadi seorang musuh.
Cara kaum Muslim memberi salam, antar sesama pria atau wanita, adalah dengan berpelukan. Sebelum saya terkena AIDS, itu merupakan kebiasaan yang saya lakukan secara otomatis. Setelah saya terjangkiti virus itu, saya menghentikan kebiasaan tersebut.
Saya menghentikannya karena dua alasan. Pertama: Saya tidak tahu sebenarnya setakut apakah orang-orang itu. Mengapa saya membuat diri saya merasa begitu pedih menyaksikan orang-orang itu menarik diri? Saya pernah mengalami peristiwa itu. Tapi saya tetap melakukannya dengan orang-orang yang paham bahwa mereka tidak akan tertulari lewat cara itu. Untuk orang yang tidak mengerti, saya tidak ingin menakuti mereka, dan saya tidak ingin melukai perasaan mereka.
Saya menyaksikan peristiwa itu terjadi pada seorang rekan pria Muslim. Dia meninggal dunia dua tahun yang lalu. Dia tertular AIDS melalui transfusi darah. Dia seorang penderita hemophily, masih muda. Dia tidak pernah keluar untuk melihat dunia.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Saya ingat suatu saat saya sedang berada di rumahnya ketika bibinya bersama dua anaknya datang menjenguknya. Dia duduk di tepi tempat tidur, dan dia berkata pada kedua gadis kecil itu, "Kemarilah beri saya sebuah pelukan." Mereka gemetar ketakutan, dan saat itu saya menyadari apa yang sedang terjadi.
Saya pikir dia akan membiarkannya, tetapi ternyata tidak. Dan dia berkata lagi, "Kemarilah, kemari dan peluklah saya."
Anak yang lebih besar, berusia sekitar delapan tahun, berkata, "Mama bilang saya tidak boleh memelukmu karena engkau terserang AIDS."
Saya benar-benar terguncang. Bukan untuk diri saya sendiri --saya telah mengerti hal-hal semacam itu-- tetapi untuk efek yang akan timbul pada diri orang itu. Ada beberapa orang di ruangan itu. Saya meminta mereka untuk meninggalkan kami.
Dia menangis, hatinya hancur berkeping-keping. Saya berkata, "Sekarang dengarkan. Engkau tahu mereka menyayangimu, tidak semua orang dapat menerima hal ini. Beberapa orang masih merasa takut dan engkau harus memahaminya. Mereka prihatin, ya, tetapi mereka masih takut menyentuhmu. Begitulah kenyataannya. Sekarang, engkau harus membasuh wajahmu, dan jangan menempatkan dirimu dalam posisi seperti itu lagi. Jangan pernah begitu."
Dia berusia dua puluh dua tahun ketika meninggal. Dia berada di rumah sakit. Saya datang menjenguknya. Saya membawa minyak. Saya berkata, "Nah, istri penggantimu telah tiba." Saya sudah pernah melihat pantatnya dan semuanya. Saya membantunya ke kamar mandi jika dia memerlukannya. Dan saya memijitnya dan bercanda dengannya. Lalu dua orang laki-laki Muslim masuk, mereka memandang saya dan berkata: "Astaghfirullah, saudaraku! Dia bukan suamimu, engkau tidak boleh menyentuhnya!"
Itu sebuah kebodohan. Mereka menanggapinya dengan begitu buruk, sehingga saya mengambil sebotol minyak dan berkata, "Baiklah, kalau begitu, Andalah yang harus menggosoknya."
Tak seorang pun yang berani menyentuhnya.
Saya bilang pada mereka, "Bisa saya bicara sebentar dengan kalian di ruang duduk?"
Saya katakan pada mereka, "Betapa beraninya Anda bicara tanpa memikirkannya. Allah mengetahui niat saya. Jika yang saya lakukan itu hanya membatalkan wudhu saya, maka saya akan berwudhu lagi. Jika Anda tidak bisa membantu, jika Anda tidak mau memasukkan kaki Anda ke air yang keruh, maka jangan halangi saya."
Penderitaan karena alkohol, tuna wisma, penyiksaan istri, penyiksaan anak-anak, homoseksual --semuanya sama saja. Semua itu persoalan yang harus diselesaikan. Jika Anda menyembunyikannya setiap kali Anda menjumpainya, itu berarti Anda tidak menyelesaikan apa pun.
Ketika Malik terlibat penggunaan narkotika dan saya mengharapkan dukungan dari masyarakat Muslim, saya mendatangi mereka dan berkata, "Tolong saya, Tunjukkan pada saya ada yang harus saya lakukan. Katakan pada saya bagaimana saya harus menghadapinya. Saya tidak ingin dia menjadi begini. Saya tidak akan minta cerai. Anda seorang laki-laki, dia pun seorang laki-laki, bicaralah sebagai seorang laki-laki padanya. Bicaralah padanya dengan bahasa yang engkau lebih tahu dari saya." Mungkin dia akan mendengar sesuatu yang engkau katakan, yang saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Malik tidak mau datang kepada seorang penasihat dengan saya, jadi saya berusaha mengajak penasihat itu ke rumah. Saya mengharapkan pertolongan, saya mengharapkan pertolongan yang Islami.
Saya diberitahu sesuatu yang menarik, seperti, "Siapa? Abdul Malik terlibat obat-obatan? Dia selalu bekerja setiap hari." Dengan kata lain, "Saya tidak melihatnya melakukan apapun."
AIDS merajalela di sana. Saya ingin kaum Muslim yang tidak terjangkiti virus itu mengusahakan supaya pelayanan AIDS dapat diperoleh, dan saya ingin melihat mereka melakukannya secara Islami, bukan berdasar pada ada yang mereka rasakan.
Rekan-rekan pria yang selalu berkomunikasi dengan saya, tidak pernah menghubungi saya lagi. Saya telah menghubungi mereka, berkomunikasi dengan mereka mungkin selama setahun, dan mereka tidak mau memberitahu saya siapa mereka. Mereka tahu bahwa saya terjangkiti virus itu juga.
Ada seorang rekan yang telah berkorespondensi dengan saya selama tiga tahun. Dia tinggal di California. Dia menikah dengan seseorang yang tidak terkena virus tersebut. Dia mendapatkan dirinya terkena virus itu, dan untungnya istrinya tidak tertular. Istrinya mengetahui hal itu, mereka telah menikah selama enam belas tahun. Dia tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya. Hati saya trenyuh pada pria ini. Tak ada pelukan, tak ada ciuman, tak ada hubungan intim di antara mereka. Mereka hanya berhubungan tentang anak-anak. Dia memasakkan makan malam. Hanya itu. Menyedihkan sekali ketika akhirnya dia berkata betapa mudahnya dia melakukan perzinaan.
Sementara itu, dia mulai mengalami gangguan syaraf, karena tidak mempunyai seorang pun tempat mengadu. Dan itulah yang menyebabkan kematiannya. Dia tidak mati karena virus itu. Saya memahami ketakutan istrinya. Lepaskan dia. Atau biarkan dia menikahi wanita lain --seseorang yang akan mengurus kebutuhannya. Itu tidak bisa diabaikan. Kebutuhan itu tidak hilang begitu saja hanya karena Anda terjangkiti virus itu. Kini, komunikasi dan uluran tangan justru merupakan sesuatu yang sangat membantu. Keadaan tidak lagi sama.
Saya ingat suatu ketika saya sedang duduk di kereta api dan ada seorang wanita tua duduk di samping saya. Dia tertidur, dan bersandar pada saya. Saya pikir betapa indahnya hal itu. Saya mendapat kehangatan darinya. Saya begitu menikmati kehadirannya dengan perasaan yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.
Ini membuat saya mengerti apa yang dibicarakan pria itu.
Tetapi juga memahami apa yang dibicarakan istrinya.
Saya menikah lagi untuk waktu yang sangat singkat, empat bulan, dengan seorang pria yang telah saya kenal selama lima belas tahun. Dia tahu saya mengidap virus itu; selama empat tahun dia meminta saya untuk menikah dengannya, dan saya menolak karena dia tidak terkena virus itu.
Akhirnya saya mengatakan ya, tetapi saya merasa tidak nyaman selama perkawinan itu. Tentu saja kami menggunakan alat pelindung. Tetapi saya selalu khawatir kalau-kalau alat itu robek. Pikiran saya selalu penuh kecurigaan. Saya ingin mencium. Tapi saya tidak akan menciumnya. Karena saya selalu merasa khawatir. Saya tidak pernah mendapatkan perasaan apa-apa dari hubungan intim kami karena saya tidak bisa santai. Saya tidak ingin bertanggung jawab karena menyakiti seseorang dengan cara seperti itu. Maka saya memutuskan orang yang terkena virus harus bersama dengan orang yang juga terjangkiti virus itu. Saya tidak dapat menghadapi hal itu lagi. Seseorang yang mengidap virus itu lebih membutuhkan saya daripada yang tidak.
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Perjuangan yang sebenarnya bukan mengenai virus AIDS. Tetapi mengenali fakta bahwa Allahlah yang berkuasa. Persoalannya begitu sederhana. Manusialah yang mempersulit semuanya. Manusia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya ketika dia menghendakinya. Kenyataan tidaklah seperti itu.
Saya tahu kepada siapa saya harus pergi. Saya mengucapkan syahadat. Saya memasuki perjanjian dengan Allah. Saya merasa seperti menemukan sebelanga emas di ujung pelangi. Rasanya saya dapat merasakan segala sesuatu. AIDS membuat saya mengerti siapa Allah.
Bagaimana saya memandang AIDS saat ini? Saya memandangnya seolah-olah Allah memberi kita kesempatan hebat untuk menggalang aksi spiritual kami bersama-sama. Tetapi saya tidak dapat berdiri dengan tombak dan perisai saya dan muncul dari pusat Amazon sambil berkata, "Sekarang lihatlah! Kalian semua harus bangkit dan melakukan hal ini!" Saya harus mengatakannya dengan kalimat yang lebih halus, "Lindungi kami. Dukunglah kami ketika kami melintasi dinding-dinding bata ini. Banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, walaupun tugas itu tidak menyenangkan. Kami harus melindungi kepentingan kami di sini."
Anak-anak saya sangat cantik. Semua anak saya mengetahui saya mengidap virus itu, kecuali yang paling kecil. Umurnya delapan tahun. Sekarang saya masih membiarkannya bermain dengan boneka Barbienya. Mengapa saya harus membuatnya takut?
Anak saya yang paling besar tampaknya begitu penasaran dengan dunia luar. Dia sedikit nakal. Saya melihat dia mulai aktif secara seksual, lalu saya berkata kepadanya, "Saya mendapat AIDS dan saya telah menikah. Kamu harus sangat hati-hati, kamu juga tidak terlepas dari kemungkinan itu, mengerti?"
Saya memeriksakan mereka. Mereka mengira kami pergi untuk kunjungan rutin kepada dokter anak-anak. Segalanya berjalan dengan baik. Tak satu pun dari anak-anak itu HIV-positif. Saya sangat bersyukur bahwa anak-anak saya tidak terjangkiti virus itu, saya tidak berhenti memekikkan Allahu Akbar!
Baca juga: Jadi Mualaf, Clarence Seedorf: Saya Tidak Mengubah Nama
(mhy)
Lihat Juga :