Kisah Sufi: Orang yang Murah Hati dan Sulitnya Memahami Anugerah

Selasa, 10 Januari 2023 - 14:51 WIB
loading...
Kisah Sufi: Orang yang Murah Hati dan Sulitnya Memahami Anugerah
Kisah ini yang diambil dari Buku Keempat dari Mathnawi karya Rumi, sudah jelas dengan sendirinya. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Kisah berikut ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi". Berikut kisah tersebut:

Ada seorang kaya dan murah hati yang tinggal di Bokhara. Karena ia memiliki pangkat tinggi dalam hierarki yang tidak kelihatan, ia dikenal sebagai Pemimpin Dunia. Ia membuat satu syarat untuk hadiah yang diberikannya. Setiap hari diberikannya emas kepada sekelompok masyarakat yang sakit, yang janda, dan selanjutnya. Tetapi tak diberikannya apa pun kepada yang membuka mulut.

Tidak semua orang bisa tahan berdiam diri.

Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan

Pada suatu hari, tibalah giliran para ahli hukum menerima bagian hadiah. Salah seorang di antara mereka itu tidak dapat menahan diri mengajukan permohonan selengkap dan sebaik-baiknya.

Tak sesuatu pun diberikan padanya.

Tetapi, ia belum berhenti berusaha. Hari berikutnya, orang-orang cacat diberi hadiah, dan ia pun berpura-pura anggota badannya patah.

Tetapi, Sang Pemimpin mengenalinya, dan ia pun tak mendapatkan apa-apa.

Hari berikutnya lagi, ia kembali menyamar, menutupi wajahnya, bergabung dengan kelompok masyarakat yang berbeda. Kali ini pun ia dikenali dan diusir.

Lagi dan lagi ia mencoba, bahkan juga pernah menyamar sebagai wanita: namun tetap saja gagal.

Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh

Akhirnya, ahli hukum itu bertemu dengan seorang yang mengurus pemakaman dan memintanya untuk membungkus dirinya dengan kain kafan. "Kalau Sang Pemimpin lewat, ia nanti mungkin mengiraku mayat. Ia mungkin melemparkan sejumlah uang untuk pemakamanku dan kau akan kuberi bagian."

Hal itu pun dilaksanakan. Sekeping uang emas dilemparkan Pemimpin ke balutan kafan itu. Ahli hukum itu pun meraihnya, takut didahului oleh pengurus jenazah itu. Lalu, ia berkata kepada dermawan itu, "Kau mengingkari hadiah untukku. Lihat, bagaimana aku telah mendapatkannya!"

"Tak ada yang bisa kau dapatkan dariku," jawab orang murah hari itu, "sampai kau mati. Inilah makna ungkapan tersamar 'orang harus mati sebelum ia mati'. Hadiah itu datang setelah 'kematian', dan bukan sebelumnya. Dan bahkan, 'kematian' ini pun tak mungkin ada tanpa pertolongan."

Menurut Idries Shah, kisah ini yang diambil dari Buku Keempat dari Mathnawi karya Rumi, sudah jelas dengan sendirinya.

Para Darwis mempergunakannya untuk menekankan bahwa, walaupun anugerah bisa 'direnggut' oleh orang cerdik, kemampuan ('emas') yang diambil secara benar dari seorang guru seperti Si Pemurah dari Bokhara itu memiliki kekuatan yang melampaui apa yang kasat mata. Inilah sifat yang sulit dipahami dari anugerah.

Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
(mhy)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2765 seconds (11.252#12.26)