Hadis Tawakkal Burung Mencari Rezeki, Begini Penjelasannya
Rabu, 11 Januari 2023 - 22:30 WIB
loading...
Tawakkal burung mengajarkan kita mencari rezeki tanpa mengabaikan ikhtiar (usaha). Karena burung mendapatkan rezeki dengan usahanya keluar dari sarangnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Hadis tentang tawakkal burung mencari rezeki menarik untuk kita ulas. Di antara kaum muslim mungkin ada yang beranggapan bahwa cukup tawakkal saja kepada Allah, maka rezeki akan datang sebagaimana burung pulang ke sarangnya dalam keadaan kenyang.
Jika membaca Hadis ini tanpa penjelasan dari ulama, bisa jadi yang muncul adalah keengganan untuk ikhtiar atau berusaha. Padahal hakikat tawakkal tidaklah demikian.
Pengasuh Ma'had Subuluna Bontang Kalimantan Timur KH Ahmad Syahrin Thoriq mengatakan, Hadis tentang tawakkal burung ini dinyatakan sahih oleh para ulama hadits. Disebutkan dalam beberapa kitab yakni Musnad Imam Ahmad (1/438) dan Ibnu Majah (2/1394), al-Mustadrak 'ala shahihain (4/354):
Artinya: "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang."
Kata Kiyai Ahmad Syahrin, jika hadis ini dimaknai tak perlu bekerja atau berusaha, sungguh dia telah keliru memaknai tawakkal. Karena konsep tawakal dalam Islam sama sekali tidak bertentangan dengan usaha.
Pengertian Tawakkal
Tawakkal secara bahasa artinya menunjukkan ketidakberdayaan serta bersandar pada orang lain. Sedangkan tawakkal kepada Allah bermakna menyerahkan urusan kepada-Nya dan percaya kepada keputusan-Nya. [Al Mausu'ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah (14/185)]
Sedangkan secara istilah, Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan tawakkal adalah menyerahkan dan menyandarkan diri kepada Allah setelah melakukan usaha dengan mengharap pertolongan. [Ihya al Ulumuddin (2/65)]
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: "Tawakkal yang hakiki adalah penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah dalam meraih berbagai kebaikan dan menghindari semua bahaya, dalam urusan dunia maupun Akhirat, menyerahkan semua urusan kepadanya dan benar-benar meyakini bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat kecuali Allah." [Jami'ul 'ulumi wal Hikam (2/497)]
Hubungan Tawakkal dan Usaha
Tidak ada pertentangan antara perintah untuk bertawakkal, yakni menyerahkan urusan hanya kepada Allah dengan berusaha yang juga diperintahkan dalam agama.
Justru mempertentangkan keduanya semisal dengan keengganan melakukan usaha dengan dalih tawakkal, akan menyebabkan rusaknya tawakkal itu sendiri. Imam Al-Ghazali berkata: "Tawakkal dalam Islam bukan suatu pelarian bagi orang-orang yang tidak mau berusaha atau gagal usahanya, tetapi tawakkal itu ialah tempat kembalinya segala usaha. Tawakkal bukan menanti nasib sambil berpangku tangan, tetapi berusaha sekuat tenaga dan setelah itu baru berserah diri kepada Allah. Allah-lah yang nanti akan menentukan hasilnya."
Jika membaca Hadis ini tanpa penjelasan dari ulama, bisa jadi yang muncul adalah keengganan untuk ikhtiar atau berusaha. Padahal hakikat tawakkal tidaklah demikian.
Pengasuh Ma'had Subuluna Bontang Kalimantan Timur KH Ahmad Syahrin Thoriq mengatakan, Hadis tentang tawakkal burung ini dinyatakan sahih oleh para ulama hadits. Disebutkan dalam beberapa kitab yakni Musnad Imam Ahmad (1/438) dan Ibnu Majah (2/1394), al-Mustadrak 'ala shahihain (4/354):
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya: "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang."
Kata Kiyai Ahmad Syahrin, jika hadis ini dimaknai tak perlu bekerja atau berusaha, sungguh dia telah keliru memaknai tawakkal. Karena konsep tawakal dalam Islam sama sekali tidak bertentangan dengan usaha.
Pengertian Tawakkal
Tawakkal secara bahasa artinya menunjukkan ketidakberdayaan serta bersandar pada orang lain. Sedangkan tawakkal kepada Allah bermakna menyerahkan urusan kepada-Nya dan percaya kepada keputusan-Nya. [Al Mausu'ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah (14/185)]
Sedangkan secara istilah, Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan tawakkal adalah menyerahkan dan menyandarkan diri kepada Allah setelah melakukan usaha dengan mengharap pertolongan. [Ihya al Ulumuddin (2/65)]
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: "Tawakkal yang hakiki adalah penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah dalam meraih berbagai kebaikan dan menghindari semua bahaya, dalam urusan dunia maupun Akhirat, menyerahkan semua urusan kepadanya dan benar-benar meyakini bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat kecuali Allah." [Jami'ul 'ulumi wal Hikam (2/497)]
Hubungan Tawakkal dan Usaha
Tidak ada pertentangan antara perintah untuk bertawakkal, yakni menyerahkan urusan hanya kepada Allah dengan berusaha yang juga diperintahkan dalam agama.
Justru mempertentangkan keduanya semisal dengan keengganan melakukan usaha dengan dalih tawakkal, akan menyebabkan rusaknya tawakkal itu sendiri. Imam Al-Ghazali berkata: "Tawakkal dalam Islam bukan suatu pelarian bagi orang-orang yang tidak mau berusaha atau gagal usahanya, tetapi tawakkal itu ialah tempat kembalinya segala usaha. Tawakkal bukan menanti nasib sambil berpangku tangan, tetapi berusaha sekuat tenaga dan setelah itu baru berserah diri kepada Allah. Allah-lah yang nanti akan menentukan hasilnya."
Lihat Juga :