Puasa dan Pengendalian Diri

loading...
Puasa dan Pengendalian Diri
Puasa dan Pengendalian Diri
Islam sebagai agama penutup adalah agama paling ideal yang dilengkapi perangkat syari'at dengan 5 prinsip tujuan yang dikenal dengan maqoshid syari'ah (tujuan syari'at).

Yaitu : 1- hifzud din (menjaga agama), 2- hifzun nafs (menjaga jiwa), 3- hifzul aql (menjaga akal), 4- hifzun nasl (menjaga keturunan), dan 5- hifzul mal (menjaga harta).

5 prinsip pokok inilah yang membedakan syari'at Islam dengan syari'at agama-agama lainnya dengan 5 prinsip pokok ini harus diyakini bahwa setiap perintah agama pasti di dalamnya mengandung value (nilai), hikmah, atau tujuan.

Syari'at Islam adalah syari'at yang tidak sulit dikerjakan (عدم الحرج), tujuannya adalah untuk kemaslahatan manusia.

Oleh karenanya jika kita perhatikan, sesungguhnya perintah (hukum) Allah SWT selalu diiringi dengan penyebutan hikmah dalam Alqur'an, ketika Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan sholat

أتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ



(Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat…), maka Allah SWT juga menyebutkan hikmah dari ibadah salat tersebut

إنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

(Sesungguhnya salat mencegah perbuatan keji dan munkar). Ibadah zakat juga demikian, ketika aspek hukumnya disebut, خذ من أموالهم صدقة تطهرهم (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka…), aspek hikmahnya juga demikian تطهرهم وتزكيهم بها (dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…).

Ibadah haji juga demikian, ketika Allah SWT berfirman terkait perintah untuk menunaikan ibadah haji

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتيك من كل فج عميق...

(Dan serulah manusia untuk berhaji, mereka datang dengan berjalan kaki, dan sebagian lagi menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh…)

Allah SWT juga menyebutkan hikmahnya ليشهدوا منافع لهم... (supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…).

Puasa adalah ibadah yang sudah diwajibkan atas umat-umat sebelumnya dengan beberapa perbedaan baik dari sisi tata cara maupun waktunya.

Sebagai contoh, dalam satu riwayat disebutkan bahwa ada umat terdahulu yang puasanya hanya tidak makan makanan yang bernyawa, Nabi Musa AS dalam sebuah riwayat berpuasa 40 hari 40 malam tidak makan roti dan minum air.

Dalam Islam, seperti kita ketahui bahwa ibadah puasa baik puasa Ramadan maupun puasa-puasa lainnya yang wajib maupun sunnah dari sisi fikih memiliki pengertian “menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa baik makan, minum maupun berhubungan suami istri dari terbitnya fajar sampai dengan terbenanmnya matahari”

Ibadah puasa seperti halnya ibadah – ibadah pokok di atas, didalamnya pasti mengandung hikmah baik hikmah yang tersebut di dalam Alqur'an maupun hikmah-hikmah lain yang bisa digali baik dari aspek kesehatan, sosial maupun hikmah-hikmah lainnya.

Allah SWT telah menyebutkan hikmah tersebut dalam Ayat 183 Surat Al Baqaroh :

ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون...
halaman ke-1
cover top ayah
وَزَكَرِيَّاۤ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرۡنِىۡ فَرۡدًا وَّاَنۡتَ خَيۡرُ الۡوٰرِثِيۡنَ‌
Dan ingatlah kisah Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik."

(QS. Al-Anbiya:89)
cover bottom ayah
preload video