Ramadan Diharapkan Jadi Momentum Rajut Kembali Persatuan
Jum'at, 26 Mei 2017 - 21:22 WIB
Ramadan Diharapkan Jadi Momentum Rajut Kembali Persatuan
A
A
A
JAKARTA - Ramadan tahun ini diharapkan menjadi momentum untuk merajut kembali jiwa persatuan antar umat dalam wadah Bhinneka Tunggal Ika. Pasalnya, Pilkada DKI Jakarta 2017 telah membuat masyarakat terbelah.
Direktur Studi Demokrasi Rakyat Hari Purwanto mengatakan, bahwa Pancasila dan kebhinekaan sudah final di Indonesia, sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi. Maka itu, bulan suci Ramadan menurutnya harus dijadikan momentum untuk merajut perpecahan yang terjadi saat ini.
"Jangan lupa Ramadan juga menjadi bagian dari sejarah bangsa ini karena kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi di bulan Ramadan," ujar Hari dalam diskusi kebangsaan yang diselenggarakan Aliansi Mahasiswa Republik Indonesia (AMRI) di Jakarta, Jumat (26/5/2017).
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Fikri KH Hadi Hadiatulloh berpendapat bahwa para santri dan anak didik sudah saatnya lebih diprioritaskan pada pemahaman isi Alquran, bukan penguatan aksi-aksi demo. "Agama jangan dibuat main-main dan dijadikan sebagai kendaraan berpolitik," kata Hadi dalam acara yang dihadiri mahasiswa lintas kampus di Jakarta.
Sedangkan Kordinator AMRI Agung Zulianto mengatakan, bahwa perpecahan yang terjadi saat ini didorong segelintir masyarakat yang mencoba mempersoalkan Pancasila dan azas Bhinneka Tunggal Ika, dengan ideologi lain yang dibawanya. "Andai kau tahu. Pancasila dibentuk dengan darah dan air mata, itu semua semata mata agar kalian tidak berkelahi anakku," ujar Agung mengutip ungkapan Bung Karno.
Direktur Studi Demokrasi Rakyat Hari Purwanto mengatakan, bahwa Pancasila dan kebhinekaan sudah final di Indonesia, sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi. Maka itu, bulan suci Ramadan menurutnya harus dijadikan momentum untuk merajut perpecahan yang terjadi saat ini.
"Jangan lupa Ramadan juga menjadi bagian dari sejarah bangsa ini karena kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi di bulan Ramadan," ujar Hari dalam diskusi kebangsaan yang diselenggarakan Aliansi Mahasiswa Republik Indonesia (AMRI) di Jakarta, Jumat (26/5/2017).
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Fikri KH Hadi Hadiatulloh berpendapat bahwa para santri dan anak didik sudah saatnya lebih diprioritaskan pada pemahaman isi Alquran, bukan penguatan aksi-aksi demo. "Agama jangan dibuat main-main dan dijadikan sebagai kendaraan berpolitik," kata Hadi dalam acara yang dihadiri mahasiswa lintas kampus di Jakarta.
Sedangkan Kordinator AMRI Agung Zulianto mengatakan, bahwa perpecahan yang terjadi saat ini didorong segelintir masyarakat yang mencoba mempersoalkan Pancasila dan azas Bhinneka Tunggal Ika, dengan ideologi lain yang dibawanya. "Andai kau tahu. Pancasila dibentuk dengan darah dan air mata, itu semua semata mata agar kalian tidak berkelahi anakku," ujar Agung mengutip ungkapan Bung Karno.
(kri)
Lihat Juga :