Welcoming Ramadan!

Selasa, 08 Mei 2018 - 14:34 WIB
Welcoming Ramadan!
Welcoming Ramadan!
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation

MELAKUKAN ibadah dalam Islam, kemungkinan ada beberapa dorongan atau motivasinya. Ada yang karena mengikut kepada kebiasaan, baik kebiasaan orang tua atau juga karena itulah kebiasaan masyarakat di mana dia hidup.

Boleh juga karena memang sebuah kesadaran jika hal itu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Atau juga karena didorong oleh kesadaran bahwa amalan agama itu adalah sebuah kebutuhan dalam hidupnya.

Dari semua motivasi yang ada dalam melaksanakan perintah agama itu, ada satu hal yang paling mendasar dan sesungguhnya menjadi motivasi tertinggi. Ketika amalan ibadah itu telah dilihat sebagai sebuah kenikmatan. Bahwa ibadah-ibadah yang ada dalam agama ini bukan sekadar kewajiban, apalagi tradisi semata. Bahkan bukan juga sekadar sebuah kebutuhan.

Tapi yang terpenting karena sebuah kenikmatan yang harus disyukuri. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika ditanya oleh isteri tercinta perihal ibadah-ibadahnya. “Tidakkah seharusnya saya menjadi hamba yang bersyukur?”.

Oleh karena itu menyambut bulan Ramadan ini harusnya dibangun kesadaran “syukur”. Bahwa Ramadan akan tiba bukan sekadar karena kita yang membutuhkan. Tapi karena sebuah kenikmatan besar dari Pencipta langit dan bumi yang harus disyukuri.

Broken Religiosity
Menyambut bulan Ramadan ini ada banyak hal yang bisa menghambat terbangunnya ibadah yang bernilai positif. Salah satu yang terpenting adalah apa yang saya sebut sebagai “broken religiosity” atau keberagamaan yang pecah atau rusak.

Keberagamaan yang pecah itu adalah ketika agama dipecah menjadi keping-keping yang tiada bersentuhan. Agama dibagi-bagi ke dalam ruang-ruang (compartment) yang berbeda. Ada bahagian yang dianggap agama. Ada pula yang dianggap urusan diri sendiri.

Religiositas pecah seperti inilah yang menumbuhkan personalitas yang juga terbelah (split personality). Sebuah kepribadian yang tidak punya posisi jelas. Di suatu waktu atau tempat sangat beragama. Tiba-tiba di waktu atau tempat lain menampakkan kepribadian yang kontra agama.

Di depan multazam di Masjidilharam dia teseduh-seduh bercucuran airmata karena merasa dekat dengan Tuhan. Atau menangis karena meminta sesuatu kepada-Nya. Bahkan tidak mustahil memang menangis meminta ampunan-Nya.

Hal itu tidaklah salah. Yang menjadi masalah kemudian adalah cara beragama yang terpecah atau terbelah. Sebuah paham agama yang terbagi-bagi. Mekkah atau Masjidilharam adalah rumah Tuhan dan karenanya harus jujur. Tapi di negara atau kantor sendiri Tuhan tidak lagi punya otoritas.

Perilaku agama seperti inilah yang tidak memberikan dampak positif dalam kehidupan. Berkali-kali haji, korupsi semakin jadi. Karena haji baginya adalah sekedar penghapus dosa masa lalu. Gagal memahami bahwa haji mabrur seharusnya menjadi energi perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidupnya.

Karakter beragama seperti inilah yang diancam dalam Alquran dengan “kehinaan dunia” (khizyun fil-hayatid dunya) dan “azab pedih” (adzabun syadiid) di akhirat kelak.

Puasa yang sia-sia adalah puasa yang berkarakter seperti ini. Puasa yang tidak disadari bahwa semua aspek amalan ritual itu punya konsekswensi sosial. Sehingga Rasul mengingatkan: “boleh jadi ada orang yang berpuasa tapi yang didapatkan sekedar lapar dan dahaga semata”.

Tarhib Ramadan
Ada perbedaan mendasar antara Muslim zaman now dan para sahabat Rasulullah SAW dan salaf saleh. Para sahabat disebutkan dalam berbagai riwayat menyambut Ramadan dengan penuh harap dan sukacita bahkan berbulan-bulan sebelumnya.

Doa yang paling masyuhur yang mereka selalu panjatkan bahkan enam bulan sebelum Ramadan tiba adalah: Allahumma balligna Ramadhan (ya Allah berikan kesempatan kepada kami untuk memasuki bulan Ramadan).

Rasulullah SAW sendiri bahkan mendoakan secara khusus dua bulan sebelum Ramadan, yaitu Rajab dan Sya’ban. Dan diikuti dengan doa: waballigna Ramadan!

Sementara kita umumnya tak acuh dengan penyambutan itu. Seringkali kita anggap Ramadan sebagai sakedar “tradisi tahunan” yang diasambut dengan biasa saja.

Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena pemahaman kita dan sahabat tentang “nilai” Ramadan berbeda. Hanya dengan memahami nilainya, sesuatu itu akan disikapi secara serius.

Jika anda memberikan emas kepada segerombolan sapi maka sapi-sapi itu akan mengacuhkan emas itu. Sebab bagi mereka emas itu tidak punya nilai (value). Tapi jika Anda berikan kepada sapi-sapi itu rerumputan, maka mereka akan berebut melahapnya.
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0914 seconds (10.55#12.26)