Wajibkah Khitan Bagi Perempuan? Ini Penjelasan Ustazah Aini

loading...
Wajibkah Khitan Bagi Perempuan? Ini Penjelasan Ustazah Aini
Wajibkah Khitan Bagi Perempuan? Ini Penjelasan Ustazah Aini
Khitan bagi anak perempuan tidak semasyhur khitan yang dilakukan pada anak laki-laki. Jika khitan pada anak laki-laki adalah menyunnat kulup dari batang dzakar (penis), maka tindakan khitan pada anak perempuan adalah menyunnat bagian 'clitoral hood'.

Clitoral Hood atau disebut juga preputium clitoridis and clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans (batang klitoris). Berkembang sebagai bagian dari labia (bibir) minora dan merupakan homolog dari kulup penis (biasa disebut preputium) pada kelamin laki-laki.

Bagaiman hukum khitan bagi perempuan? Berikut ulasan Ustazah Aini Aryani, pengajar Rumah Fiqih Indonesia (RFI).

Adapun dalil yang menjadi dasar hukum khitan sebagai berikut:



1. Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus (QS. An-Nahl: 23).
2. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW, "Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita." (HR. Ahmad dan Baihaqi).
3. Dari Abi Hurairah RA Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Nabi Ibrahim AS berkhitan saat berusia 80 tahun dengan qadur/kapak. (HR Bukhari dan muslim)
4. Dari Aisyah RA, Rasulullah bersabda: "Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah," (HR. Muslim)

Dari dalil di atas, khitan bagi anak perempuan jelas disyariatkan. Namun jika ditinjau dari hukumnya, para ulama fiqih berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wajib, tidak wajib, dan ada juga yang memandang itu pemuliaan atas perempuan.

1. Mazhab Hanafiyah.
Madzhab ini sepakat bahwa berkhitan tidak diwajibkan bagi perempuan, mayoritas ulama dari madzhab ini tidak memandangnya dari kacamata hukum taklifi, namun sebagai kemuliaan bagi perempuan.

Ibnul Humam (wafat 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :
الختانان موضع القطع من الذّكر والفرج وهو سنّةٌ للرّجل مكرمةٌ لها
Khitan itu memotong sebagian dari zakar (kemaluan laki-laki) dan farji (kemaluan perempuan). Hukumnya Sunnah bagi laki-laki, dan bagi perempuan merupakan sebuah kemuliaan.

Az-Zaila’i (wafat 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :
وختان المرأة ليس بسنة، وإنما هو مكرمة للرجال لأنه ألذ في الجماع
Tidaklah sunnah bagi perempuan berkhitan, tetapi sebuah kemuliaan bagi laki-laki, karena dapat menambah keintiman dalam berhubungan suami istri.
halaman ke-1
cover top ayah
وَاذۡكُرِ اسۡمَ رَبِّكَ بُكۡرَةً وَّاَصِيۡلًا
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.

(QS. Al-Insan:25)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video