Hukum Fidyah dan Qadha Salat-Puasa Bagi Orang yang Meninggal
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 22:09 WIB
loading...
Dalam Mazhab Syafii, jika seseorang semasa hidupnya pernah meninggalkan salat atau puasa wajib, apakah sebab kesibukan atau sebagainya, maka dianjurkan untuk mengqadhanya. Foto/Ist
A
A
A
Ibadah salat dan puasa merupakan perkara wajib yang tidak boleh diremehkan. Ketika seseorang semasa hidupnya pernah meninggalkan salat atau puasa wajib, apakah sebab kesibukan atau sebagainya, maka dianjurkan untuk mengqadhanya (menggantinya).
Apabila sampai akhir hayatnya (wafat), salat atau puasa wajibnya itu belum selesai ia qadha semuanya, maka kerabatnya harus mengqadhanya atau berinisiatif membayar fidyah salat atau puasa wajib si mayit tersebut. (Baca Juga: 5 Syarat Sahnya Salat Menurut Mazhab Syafi'i )
Lantas, apakah hukum membayar fidyah salat atau puasa bagi orang yang telah meninggal? Berikut jawabannya:
Dalam Mazhab Syafi'i , ada tiga pendapat mengenai hukum qadha salat atau puasa seseorang. Bagi yang mampu mengqadhanya semasa hidupnya, akan tetapi belum ia qadha sampai akhir hayatnya, maka ada tiga pendapat, yaitu:
1. Kerabatnya tidak mengqadhanya dan tidak membayar fidyahnya.
2) Diqadha kerabatnya atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit.
3) Membayar satu mud dari kebiasaan makanan pokok di daerah itu kepada orang miskin untuk satu salat atau satu puasa wajib yang ditinggal.
Imam Nawawi berkata: Pendapat yang benar lagi dipilih adalah sunah hukumnya bagi kerabat atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit mengqadha salat atau puasa si mayit tersebut. Ini berdasarkan hadis:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
"Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih mempunyai qadhaan puasa yang belum diqadha (diganti), maka walinya yang melaksanakannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam as-Subkii juga pernah melaksanakan salat qadha dari sebagian kerabatnya yang sudah meninggal. Akan tetapi dalam suatu pendapat boleh jugabagi keluarga yang ditinggal membayar fidyah salat atau puasa wajib si mait tersebut, berdasarkan hadis:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
"Siapa yang telah meninggal dan ia masih punya tanggungan puasa qadha sebulan, maka hendaknyalah kerabatnya membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap satu hari dari puasa." (HR. Tirmidzi)
Dalil di atas menerangkan masalah puasa saja, akan tetapi ulama' menganalogikan puasa dengan salat, sehingga hukumnya sama. (Baca Juga: Menyedihkan! Salat Bertahun-tahun Tapi Tidak Diterima, Apa Sebab? )
Dengan membayar fidyah satu mud kebiasaan makanan pokok di daerah itu kepada orang miskin untuk satu salat atau puasa wajib yang belum diqadha.
Apabila sampai akhir hayatnya (wafat), salat atau puasa wajibnya itu belum selesai ia qadha semuanya, maka kerabatnya harus mengqadhanya atau berinisiatif membayar fidyah salat atau puasa wajib si mayit tersebut. (Baca Juga: 5 Syarat Sahnya Salat Menurut Mazhab Syafi'i )
Lantas, apakah hukum membayar fidyah salat atau puasa bagi orang yang telah meninggal? Berikut jawabannya:
Dalam Mazhab Syafi'i , ada tiga pendapat mengenai hukum qadha salat atau puasa seseorang. Bagi yang mampu mengqadhanya semasa hidupnya, akan tetapi belum ia qadha sampai akhir hayatnya, maka ada tiga pendapat, yaitu:
1. Kerabatnya tidak mengqadhanya dan tidak membayar fidyahnya.
2) Diqadha kerabatnya atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit.
3) Membayar satu mud dari kebiasaan makanan pokok di daerah itu kepada orang miskin untuk satu salat atau satu puasa wajib yang ditinggal.
Imam Nawawi berkata: Pendapat yang benar lagi dipilih adalah sunah hukumnya bagi kerabat atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit mengqadha salat atau puasa si mayit tersebut. Ini berdasarkan hadis:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
"Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih mempunyai qadhaan puasa yang belum diqadha (diganti), maka walinya yang melaksanakannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam as-Subkii juga pernah melaksanakan salat qadha dari sebagian kerabatnya yang sudah meninggal. Akan tetapi dalam suatu pendapat boleh jugabagi keluarga yang ditinggal membayar fidyah salat atau puasa wajib si mait tersebut, berdasarkan hadis:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
"Siapa yang telah meninggal dan ia masih punya tanggungan puasa qadha sebulan, maka hendaknyalah kerabatnya membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap satu hari dari puasa." (HR. Tirmidzi)
Dalil di atas menerangkan masalah puasa saja, akan tetapi ulama' menganalogikan puasa dengan salat, sehingga hukumnya sama. (Baca Juga: Menyedihkan! Salat Bertahun-tahun Tapi Tidak Diterima, Apa Sebab? )
Dengan membayar fidyah satu mud kebiasaan makanan pokok di daerah itu kepada orang miskin untuk satu salat atau puasa wajib yang belum diqadha.
Lihat Juga :