7 Karakter Masyarakat Madani

Rabu, 15 Januari 2020 - 17:28 WIB
7 Karakter Masyarakat Madani
7 Karakter Masyarakat Madani
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA

Pada bagian lalu disampaikan beberapa kriteria manusia atau sumber daya manusia (SDM) unggul dalam pandangan Al-Qur'an . Salah satunya adalah bahwa SDM unggul itu harus berwawasan kesalehan dengan 5 tingkatannya.

Akan tetapi kesalehan itu seharusnya dibawa ke tingkatan yang lebih tinggi, yang lebih dikenal dengan tingkatan 'muslih'. Yaitu kemampuan mentransformasi kesalehan pribadi menjadi kesalehan kolektif melalui perubahan kepada alam sekitar.

Komitmen 'islaah' (perbaikan), lebih populer dengan istilah amar ma'ruf nahi mungkar, inilah yang kemudian akan mengantar kepada terbentuknya masyarakat Islami. Sebuah bangunan masyarakat yang lebih dikenal dengan 'masyarakat madani'.

Saya tidak bermaksud membahas apa defenisi masyarakat madani itu. Walaupun kata ini sangat dikenal dalam bahasa asing dengan 'Civil Society'. Civil dan Madani sesungguhnya tidak semakna.

Walau demikian, kedua kata masyarakat madani ataupun civil society sama-sama mengandung makna tentang masyarakat yang memiliki karakter peradaban maju.

Kata madani sendiri bermakna sebuah tatanan yang berkarakter 'tamaddun' atau peradaban. Madani yang seakar dengan kata 'madinah' menunjukkan sebuah tatanan masyarakat kota yang tentunya lebih maju, berpendidikan, dan lebih beradab.

Dalam Al-Qur'an sendiri ada beberapa kata yang dipakai untuk menggambarkan kata masyarakat. Dari sekian kata itu yang paling populer adalah kata 'ummah' (umat).

Kata umat memang populer menggambarkan pengikut Nabi Muhammad SAW secara kolektif. Semua yang mengimani dan mengikuti ajaran agama ini (Al-Qur'an dan as-Sunnah), dan mengikrarkan 'laa ilaaha illallah-Muhammadun Rasulullah' adalah bagian dari umat itu.

Di antara ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang menggambarkan makna itu adalah "Katakanlah sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu".

Tapi ayat yang paling populer dan sering dikutip dalam menggambarkan kolektifitas umat ini adalah Surah 2 ayat 143 Al-Quran. Allah berfirman: "Dan demikianlah kami jadikan kamu ‘ummatan wasathan’ agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian".

Kata "ummatan wasathan" sengaja saya tidak terjemahkan. Sebab selama ini kita sering mendengarkan beberapa terjemahan dari kata ini secara tidak adil dan proporsional. Bahkan dengan terjemahan itu terasa ada penyempitan makna dari kata yang sesungguhnya.

Sebagian orang menterjemahkan kata "wasathan" dengan moderasi. Kata ini sudah pasti tidak mewakili kedalaman dan keluasan kata itu. Sebagian pula mengekspresikan dalam bahasa Inggris dengan kata "justly balance" (imbang berkeadilan). Terjemahan inipun jauh dari makna sesungguhnya.

Lalu apa makna Ummatan Wasathan?

Sejujurnya saya belum bisa menemukan terjemahan yang dapat mewakili kata itu. Olehnya saya hanya memberikan beberapa kriteria dari "ummatan wasathan" ini. Sekaligus barangkali konsep inilah yang secara minimal terwakili dalam terminologi "masyarakat madani" itu.

Saya ingin menyampaikan 7 karakterisitk dasar dari ummatan wasathan atau masyarakat madani. Ke 7 karakteristik ini tersimpulkan dalam konferensi internasional yang diinisiasi oleh Prof Din Syamsuddin selaku Special Envoy Presiden RI di Istana Bogor beberapa waktu lalu.

1. Ummatan wasathan itu berkarakter i'tidal.
Kata i'tidal berasal dari kata "adl" (keadilan). Tapi kata ini menggambarkan sebuah komitmen, tidak saja adil dalam hidup. Tapi juga memiliki komitmen yang tinggi dalam menegakkan keadilan dalam segala segmen kehidupan dan kepada semua manusia.

Keadilan itu universal. Tidak ada keadilan ekslusif. Tidak ada keadilan Islam, keadilan Kristen, Buddha atau Hindu. Adil ya adil. Karenanya keadilan harus ditegakkan walau terkadang bertentangan dengan kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.

Rasulullah SAW bahkan mengatakan: "Kalau sekiranya Fatimah, putri muhammad, mencuri niscaya akan kupotong tangannya".

Sebuah ketauladanan dalam komitmen penegakan keadilan dalam masyarakat. Bahwa siapapun dan bagaimanapun posisinya dalam masyarakat, semuanya sejajar di hadapan hukum.
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0874 seconds (10.177#12.26)