Doa Sapu Jagat untuk Meraih Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

loading...
Doa Sapu Jagat untuk Meraih Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Doa Sapu Jagat untuk Meraih Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Berdoa punya peranan sangat penting bagi manusia. Doa merupakan permohonan sekaligus pengakuan seorang manusia bahwa hanya kepada Allah tempat meminta. Kita mengimani bahwa meskipun Allah Mahapengatur, Allah masih memberikan celah bagi hamba-Nya untuk menyampaikan keinginannya supaya terpenuhi.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (Q.S Ghafir ayat 60).

Ali bin Muhammad Al Mawardi dalam kitab Al Nukat wa Al 'Uyun Tafsir Al Mawardi, menjelaskan pandangan As Sadiy tentang makna kata 'ud'uni' dalam Surat Ghafur ayat 60. Menurut As Sadiy, kata tersebut bermakna perintah agar manusia meminta segala sesuatu kepada Allah.

Lafal doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah SAW adalah doa sapu jagat, yaitu doa kebaikan secara umum yang mencakup dunia dan akhirat. Intensitas yang tinggi menunjukkan betapa pentingnya doa ini. Hal ini dapat diketahui dari kesaksian para sahabatnya sebagaimana riwayat hadits berikut ini:

عن أنس قال كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Artinya, “Dari Anas, ia berkata, ‘Kebanyakan doa yang dibaca Rasulullah SAW adalah ‘Allāhumma, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār, ’’” (HR Bukhari dan Muslim).

Kita dianjurkan untuk banyak membaca doa sapu jagat, Doa ini mengandung banyak keutamaan karena besarnya cakupan permohonan kebaikan. Lafal doa sapu jagat adalah sebagai berikut:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār

Artinya, “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”

Lafal doa ini dikutip dari Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 201.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya, “Di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.’”

Sebab turunnya Ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas, katanya, “Suatu golongan dari kalangan Arab biasa datang ke tempat berwukuf lalu berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah tahunku ini tahun hujan dan tahun kesuburan, serta tahun kasih sayang dan kebaikan,’ tanpa menyebut-nyebut soal akhirat walau sedikit pun.” Allah pun menurunkan tentang mereka, “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Ya Tuhan kami berilah kami (kebaikan) di dunia, tetapi tiadalah bagian di akhirat.’ (Q.S. Al-Baqarah 200). Setelah itu datanglah golongan lain yakni orang-orang beriman yang memohon, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang beroleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.'” (Q.S. Al-Baqarah 201)

Dalam elaborasinya, para ahli tafsir mengatakan bahwa kebaikan di dunia adalah kesejahteraan dan kebahagiaan. Keduanya meliputi tiga dimensi: ruhani (mental dan spiritual), jasmani (tubuh), dan sosial. Kesejahteraan yang pertama meliputi, antara lain, kecerdasan intelektual, moral dan mental. Kesejahteraan kedua mencakup tubuh yang tidak cacat, tidak luka, kuat, dan indah. Sementara kebaikan yang ketiga adalah kemampuan ekonomi dan kehormatan diri.

Ahli tafsir terkemuka, Fakhr al-Din al-Razi, berpendapat bahwa kebaikan dunia adalah hidup aman, anak-anak (generasi) yang saleh (berakhlak mulia), istri yang salehah (berakhlak mulia), rizki halal yang mencukupi dan aman dari kekerasan. (Al-Tafsir al-Kabir).

Ibn Katsir, ahli tafsir lain, mengatakan bahwa doa sapu jagat mengandung semua tindakan yang membawa kebaikan dan menjauhkan diri dari semua keburukan. Kebaikan di dunia meliputi tubuh yang tidak berpenyakit (‘afiah), rumah yang lapang, pasangan yang menarik, rezeki yang cukup, ilmu yang bermanfaat, amal saleh (kerja-kerja yang baik), kendaraan yang nyaman, dan kehormatan diri yang terjaga. Sementara kebaikan di akhirat adalah kebahagiaan dan surga. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim).

Indikator kebahagiaan dunia

Suatu hari Ibnu Abbas RA, seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Beliau menjawab ada ada 7 indikator.

1) Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
halaman ke-1
preload video