Puasa tak mengenal kaya-miskin
Jum'at, 27 Juli 2012 - 15:49 WIB
Puasa tak mengenal kaya-miskin
A
A
A
Sindonews.com - Puasa dapat membangun mental umat Islam yang tangguh. Tidak makan dan minum pada saat waktu imsak (menjelang subuh) hingga berkumandangnya Adzan Magrib dapat membangun kepekaan seorang muslim terhadap orang miskin.
Sebaliknya, bagi orang miskin puasa dapat melatih kesabaran akan hidup yang dijalininya. Mereka semakin kuat untuk tidak menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang serba kekurangan.
"Mereka mungkin akan mencuri, mencopet, bahkan berani merampok dan sejenisnya, hanya ingin memperoleh harta dunia. Tanpa memperhatikan rambu-rambu kehidupan bermasyarakat," ujar Pengurus Daerah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH Mahfudz Anwar, Jumat (27/7/2012).
Selain itu, puasa menjalankan ibadah puasa ini juga tidak semahal menajalankan ibadah haji yang membutuhkan materi. Ibadah puasa hanya membutuhkan niat dan menahan hawa nafsu. Bahkan, puasa itu juga bisa menghemat, karena menahan makan dan minum di siang hari.
Maka itu, miskin bukan alasan untuk tidak melakukan ibadah puasa.
"Jadi miskin itu menjadi bagian ujian keihklasan bagi seorang hamba Allah. Yang dapat menumbuhkan sikap qonaah," tukasnya.
Pada kesempatan itu, dia juga menyayangkan kondisi saat ini. Banyak orang tidak berpuasa, lantaran kemiskinan. Kondisi ini sangat kontras di zaman Rasulullah. Dikisahkan olehnya, zaman Rasulullah itu semua orang muslim yang hidupnya miskin tetap menjalankan ibadah puasa.
"Banyak orang muslim tidak berpuasa dengan dalih kemiskinannya. Karena bekerja berat, lalu tidak puasa. Karena alasan mencari nafkah, ngojek, menarik becak, nyopir, tukang, kuli dan sejenisnya mereka tidak berpuasa dan tidak menggantinya," ucapnya.
Dia menambahkan, puasa tidak menjadi wajib hukumnya bagi orang yang tidak mampu secara fisik. Misalnya, karena kesehatannya tidak mendukung atau sakit.
Sebaliknya, bagi orang miskin puasa dapat melatih kesabaran akan hidup yang dijalininya. Mereka semakin kuat untuk tidak menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang serba kekurangan.
"Mereka mungkin akan mencuri, mencopet, bahkan berani merampok dan sejenisnya, hanya ingin memperoleh harta dunia. Tanpa memperhatikan rambu-rambu kehidupan bermasyarakat," ujar Pengurus Daerah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH Mahfudz Anwar, Jumat (27/7/2012).
Selain itu, puasa menjalankan ibadah puasa ini juga tidak semahal menajalankan ibadah haji yang membutuhkan materi. Ibadah puasa hanya membutuhkan niat dan menahan hawa nafsu. Bahkan, puasa itu juga bisa menghemat, karena menahan makan dan minum di siang hari.
Maka itu, miskin bukan alasan untuk tidak melakukan ibadah puasa.
"Jadi miskin itu menjadi bagian ujian keihklasan bagi seorang hamba Allah. Yang dapat menumbuhkan sikap qonaah," tukasnya.
Pada kesempatan itu, dia juga menyayangkan kondisi saat ini. Banyak orang tidak berpuasa, lantaran kemiskinan. Kondisi ini sangat kontras di zaman Rasulullah. Dikisahkan olehnya, zaman Rasulullah itu semua orang muslim yang hidupnya miskin tetap menjalankan ibadah puasa.
"Banyak orang muslim tidak berpuasa dengan dalih kemiskinannya. Karena bekerja berat, lalu tidak puasa. Karena alasan mencari nafkah, ngojek, menarik becak, nyopir, tukang, kuli dan sejenisnya mereka tidak berpuasa dan tidak menggantinya," ucapnya.
Dia menambahkan, puasa tidak menjadi wajib hukumnya bagi orang yang tidak mampu secara fisik. Misalnya, karena kesehatannya tidak mendukung atau sakit.
(kur)
Lihat Juga :