Puasa sarana pengendalian diri

loading...
Puasa sarana pengendalian diri
Puasa sarana pengendalian diri
TAK mungkin ada kupu-kupu tanpa melewati proses menjadi kepompong. Begitu pelajaran alam yang sering dikutip para motivator.

Puasa yang kita jalani sesungguhnya sedang mengantarkan kita berproses menjadi manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang mendapatkan derajat takwa, sebagaimana tujuan berpuasa itu sendiri (QS Al Baqarah: 183), sebagai satu-satunya manusia yang paling mulia di sisi Allah SWT (QS Al Hujurat: 13).

Dalam diri manusia terdiri atas jasmani dan rohani yang masing-masing memiliki makanan tersendiri. Orang yang berpuasa (shaim) melepaskan diri dari jerat kebergantungan pada materi, sebagai santapan jasmani. Untuk menjadi manusia yang sempurna harus ada perimbangan (tawazun) antara keduanya.

Dan, berpuasa adalah satu jalan menuju perimbangan itu. Puasa juga memberi asupan gizi untuk menghidupkan rohani. Orang yang berpuasa semakin menyadari bahwa dirinya adalah hidup di antara jasmani dan rohani, di mana kedua-duanya harus mendapatkan asupan gizi yang seimbang.



Makna puasa bagi yang melaksanakannya adalah proses pelemahan dan pengendalian hawa nafsu, yang terkadang mengantarkan manusia pada perbuatan dosa dan maksiat yang dilarang oleh agama. Hal ini sebagaimana kita maklumi bahwa hawa nafsu cenderung mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang enak, mudah dan menyenangkan ketimbang yang benar, sesuai dengan norma dan ajaran agama.

Makna berpuasa sebagai sarana pelemahan hawa nafsu adalah karena saat berpuasa tenaga kita berkurang, akibat berkurang dan berubahnya ritme asupan gizi jasmani. Begitu pula dengan hawa nafsu yang kita miliki. Kita akan memilih untuk melakukan hal yang penting dan strategis dengan membuat skala prioritas karena tenaga yang terbatas. Lain halnya saat tidak berpuasa, karena energi berlebih, sering kali kita melakukan hal yang tidak penting, seperti bergunjing (ghibah), jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas, dan lain-lain. (Frager, 1999: 202).

Puasa mampu menghancurkan tajamnya syahwat dan mengendalikan nafsu, sebagaimana sabda Rasulullah: Hai, golongan pemuda! Jika di antara kamu ada yang mampu kawin hendaklah ia kawin, karena nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara. Dan bilamana ia belum mampu kawin, hendaklah ia berpuasa karena berpuasa itu dapat melemahkan nafsu syahwat. (Hadis Riwayat Jamaah) Puasa juga bermakna penguatan tekad. Saat berpuasa, meski haus dan lapar, kita tidak mungkin makan dan minum.

Saat rasa itu tiba, kita tidak menurutinya, bahkan kita bertekad untuk tetap bertahan sampai tiba waktunya berbuka puasa (magrib). Dan bila bulan Ramadan, proses ini terjadi setiap hari selama 30 hari. Itu artinya proses berlatih untuk bertekad menggapai sesuatu dilakukan dalam waktu yang lama (Frager, 1999: 203).Karena itu, puasa juga melatih pelakunya untuk berlaku jujur. Dengan tekad dan semangat yang bulat, seseorang dapat menyelesaikan puasa dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Kita dapat saja makan dan minum, tanpa diketahui oleh siapa pun. Maka sesungguhnya yang mengetahui orang itu berpuasa atau tidak adalah dirinya dan Allah SWT, bukan yang lain. Bayangkan jika semua penyelenggara negara, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, di negeri ini bertekad bulat menjalankan amanah dengan penuh kesungguhan, sebagaimana diucapkan saat dilantik di bawah kitab suci dari agama yang diyakininya, tentu negeri akan cepat menjadi negeri yang adil dan makmur.

Dan ketika setelah selesai menjalankan tugasnya (paripurna), ia akan menjalani masa pensiun berkumpul bersama keluarganya dengan penuh ketenangan. Puasa juga mengajarkan kita untuk tidak menjadi budak bagi kebiasaan kita (Frager, 1999: 202). Sebagian besar kita tunduk pada kebiasaan, misalnya makan di siang hari. Saat berpuasa, kebiasaan itu tidak lagi kita lakukan. Bahkan pada bulan puasa, ketika seharusnya umat Islam yang mayoritas di negeri berpuasa, tetapi faktanya terjadinya kenaikan hargaharga barang sehingga menyebabkan tingginya inflasi.

Dengan puasa, kita diharapkan tidak lagi berbuat sesuatu karena kebiasaan semata. Kita mesti melatih diri untuk berbuat di luar kebiasaan. Itulah hakikatnya kita berpuasa.Wallahua’lam.

FAOZAN AMAR
Direktur Al Wasath Institute dan Dosen Studi Islam UHAMKA
(nfl)
cover top ayah
وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ اِحۡسَانًا‌ ؕ حَمَلَـتۡهُ اُمُّهٗ كُرۡهًا وَّوَضَعَتۡهُ كُرۡهًا‌ ؕ وَحَمۡلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوۡنَ شَهۡرًا‌ ؕ حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً  ۙ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰٮهُ وَاَصۡلِحۡ لِىۡ فِىۡ ذُرِّيَّتِىۡ ؕۚ اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ
Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

(QS. Al-Ahqaf:15)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video