Saum+ sedekah=luar biasa

loading...
Saum+ sedekah=luar biasa
Saum+ sedekahluar biasa
Kita menyambut Bulan Suci Ramadan dengan ucapan ‘’Marhaban ya Ramadan’’ dan bukan dengan ‘’Ahlan wa Sahlan’’. Mengapa?

Marhaban ya Ramadan berarti menyambut bulan puasa dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak menggerutu atau menganggapnya sebagai penganggu kepentingannya. Sedang Ahlan wa Sahlan sekadar ucapan formal biasa seperti halnya perkataan ‘’Selamat Datang’’.

Kita harus bener-bener bersyukur lho, dipertemukan lagi dan diizinkan Allah SWT untuk menikmati Ramadan. Sebab, tidak semua orang diberi umur panjang, kesehatan, dan hidayah.

Tuh lihat, di sekeliling kita saat ini, ada yang sakit, terbaring lemah, lalu ia koma tidak sadarkan diri. Mana bisa dia puasa.

Bahkan ada yang umurnya nggak nyampe. Perhatikan coba di sekitar rumah kita. Ya Allah ya Karim, ada tetangga atau teman yang dua pekan atau sebulan yang lalu dia meninggal dunia; Tak sempat memasuki bulan puasa.

Sedangkan kita, Subhanallah, Allah SWT masih sayang sama kita, sehingga kita diijinkan memasuki dan menikmati Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Bulan yang kedahsyatannya nggak usah diomongin lagi.

Rasulullah SAW mengatakan, “Penghulu bulan adalah Ramadan, dan penghulu hari adalah Jumat” (HR ath-Thabrani). Beliau juga berwasiat, “Andai saja manusia tahu keutamaan Ramadan, pasti mereka berharap Ramadan berlangsung terus selama setahun” (HR ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi).

Para ulama menyebut Ramadan sebagai Bulan Agung (syahr ‘azhim), Bulan Mulia (syahr ‘ali), Bulan full Berkah (syahr mubarak), Bulan Pengampunan (syahr maghfirah), Bulan full Rahmat (syahr rahmah), dan Bulan Pembebasan dari Api Neraka (syahr itqun min an-nar).

Di Bulan Ramadan, Allah SWT mengobral tiket ke surga dengan diskon gede-gedean. Artinya, kebangetan sekali kalau dengan Ramadan, kita tidak bisa masuk surga. Pertama, jiwa kita dikuatkan kecenderungannya untuk ibadah dan menjauhi maksiat. Kedua, aktor intelektual pengajak maksiat, yakni setan, dikerangkeng, meskipun memang masih ada pengikutnya dari kalangan manusia.

Artinya, hanya orang yang kebangetan yang masih bisa kena jebakan setan pada bulan suci. Ketiga, pahala amal ibadah ditingkatkan derajatnya berlipat-lipat. Keempat, doa-doa di bulan suci mustajab alias dikabulkan. Dan kelima, pintu surga dibuka lebar-lebar, sedang pintu neraka ditutup rapat. Tuh, kurang apa lagi coba!

Maka, kiranya kepada Allah SWT kita memohon agar Ramadan kali ini berbeda dengan Ramadan sebelumnya, dimana kita berharap agar Allah SWT betul-betul memberikan kita kesehatan. Juga kita diberikan keluangan waktu, pikiran yang tenang, dan hati yang segar. Agar kita bisa beribadah dengan betul-betul, berharap kita sungguh-sungguh menjalani ibadah kali ini.

Kalau bisa, pada Ramadan kali ini, yang biasanya tarawih bolong-bolong sekarang tarawih bisa pol, puasa juga sampai pol, shalat berjamaah juga bisa sampai pol, begitu pula tilawah Quran kita.

Ramadan adalah bulan penuh rahmat, yang dahulu selalu ditunggu-tunggu oleh para sahabat, dan mereka senantiasa berdoa agar Allah selalu memberikan kesempatan kepada mereka agar bisa menikmati karunia rahmat-Nya.

Adalah dalam bulan Ramadan Kitab suci Alquran pertama kali diturunkan untuk mengumumkan berakhirnya penderitaan umat manusia pada masa itu, yang terkekang dalam jerat perbudakan dan ketidakmengertian.

Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan juga ada di bulan ini, dan dalam bulan ini pula kemenangan pertama kali diraih oleh kaum muslimin dengan ditaklukannya Mekkah. Akan tetapi, salah satu dari peristiwa besar yang terdapat dalam bulan ini adalah puasa dan beberapa hikmah yang bisa diambil dari puasa itu sendiri.

Lihai atau lalai?
Pernahkah iseng-iseng bertanya pada diri kita sendiri: "Sudah berapa kali kita melalui Ramadan ini? Lalu apakah kita semakin lihai menghadapi Ramadhan yang tiap tahun kita temui atau sebaliknya malah menjadikan kita lalai?"

Saudara, jika kita mengendarai motor, maka semakin sering kita mengendarainya maka kita akan semakin lihai. Begitu juga perkerjaan yang lainnya. Jika sering kita lakukan maka kepandaian kita akan bertambah akan perkerjaan tersebut.

Harusnya logika yang sama juga berlaku pada bulan Ramadan kan? Banyak dari kita mungkin yang sudah puluhan tahun ketemu dengan bulan Ramadan ini. Namun apakah itu menjadikan kita lihai atau malah lalai memasuki bulan yang mulia ini?

Berapa kali kita khatamkan Alquran pada Ramadan? Bertambahkah setiap tahunnya atau malah mandeg di situ-situ saja? Juga sudah semakin ikhlaskah dan tidak merasa berat lagi ketika harus mengeluarkan materi yang kita punya untuk bersedekah pada bulan Ramadan kali ini? ini pertanyaan yang harus sering-sering kita utarakan pada jiwa kita.

Jangan deh kita sampai jadi orang merugi, yaitu orang-orang yang amalannya pada hari ini sama dengan hari kemaren. Seorang muslim itu harusnya progresif. Selalu ada kemajuan dalam hidupnya. Bukan malah kemunduran. Begitulah sejatinya seorang muslim.
halaman ke-1
preload video