Menyambut Idul Fitri

loading...
Menyambut Idul Fitri
Menyambut Idul Fitri
BEBERAPA saat lagi, kita semua akan melepas bulan Ramadan, bulan yang luhur dan mulia. Kita segera bertakbir, mengagungkan Allah SWT dan menyucikan-Nya dengan bertasbih.

Takbir, tahlil, dan tahmid silih berganti berkumandang di angkasa raya diucapkan dengan lisan yang fasih dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Idul Fitri adalah hari raya kesucian yang dinantikan kehadirannya oleh setiap insan beriman karena akan kembali pada fitrah, yakni kemurnian dan kesucian. Kembali pada kemurnian dan kesucian berarti kita kembali pada suasana yang bersih terlepas dari dosa dan kesalahan.

Setiap orang yang melaksanakan puasa Ramadan sesuai dengan petunjuk Alquran dan Sunnah akan terlepas dosa dan kesalahannya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Kesucian yang telah kita peroleh dengan susah payah itu hendaklah terus dipertahankan sampai bulan-bulan berikutnya dengan meningkatkan iman dan takwa kita serta bertaqarub kepada-Nya dengan tunduk dan patuh.

Puasa Ramadan yang sebentar lagi akan selesai ini harus membentuk setiap diri umat Islam yang memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan dapat meningkatkan potensi kesucian rohaninya. Ibadah puasa dapat membentuk jati diri muslim yang sempurna dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Iman dan takwa itu dibuktikan dengan senantiasa berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am: 162-163).

Pembentukan jati diri dalam ibadah puasa merupakan aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan manusia mukmin. Karena dengan jati diri itulah kita akan bersikap istikamah dalam menjalani ajaran agama.



Ibadah puasa yang kita laksanakan harus mampu membentuk jati diri setiap muslim dan meningkatkan kualitasnya dari tahapan yang paling rendah menuju tahapan yang paling tinggi. Pembentukan jati diri itu menuju perubahan yang lebih sempurna sebagaimana dicontohkan melalui kehidupan para sahabat Nabi dan tabiin generasi awal. Seorang dianggap lulus puasanya adalah mereka yang bisa melakukan transformasi dari sikap jahiliah menjadi mukmin sejati.

Pola hidup yang tadinya dipenuhi dengan kerakusan digantinya dengan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam pola makan, dalam pola berpakaian dan bertingkah laku sehingga mereka tidak terjerembab dalam lembah kehinaan dan kehancuran. Ada tiga macam nafsu yang sering menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan, yaitu nafsu dari dorongan perut, libido seksual, dan hawa nafsu yang menyesatkan.

Nabi SAW sangat mengkhawatirkan umatnya terjerembab dalam tiga macam nafsu yang menghancurkan itu. Berbagai kejahatan dan perilaku buruk lainnya seperti korupsi timbul dalam kehidupan masyarakat karena manusia memperturutkan hawa nafsunya sendiri. Kembali kepada fitrah yang suci dan bersih itulah yang sesungguhnya kita jalani sekarang ini.

Hari yang amat berbahagia ini dinamakan Idul Fitri, yaitu kesucian dan keutuhan yang telah kita peroleh kembali setelah kita melakukan puasa Ramadan sebulan penuh. Dengan kembali kepada fitrah, kita akan mencapai kebahagiaan dan kesuksesan lahir batin yang selalu kita harapkan. Amin.

M MUJIB QULYUBIM
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta
Katib Syuriah PBNU
(hyk)
cover top ayah
اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ فِى الدَّرۡكِ الۡاَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ‌ ۚ وَلَنۡ تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيۡرًا
Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

(QS. An-Nisa:145)
cover bottom ayah
preload video