Ide Brilian Salman Al-Farisi Lindungi Madinah dari Kepungan Musuh
Kamis, 06 Agustus 2020 - 17:29 WIB
Dapat dibayangkan sekiranya sikap kaum muslimin ketika itu egois. Merasa paling benar, merasa paling pintar, merasa paling hebat dan berpengalaman, tentu mereka akan menolak usulan dari seorang yang bukan orang Arab, yang menurut tradisi sewaktu itu masih dipandang masyarakat kelas dua.
Islam mengajarkan arti dan makna kesejajaran dan kesetaraan di antara seluruh bangsa dan suku, melebur dalam persamaan kalimat tauhid: "Laailaha ilallah Muhammadur Rasulullah". Begitulah Islam mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah suatu alasan untuk saling berpecah belah dan merasa paling benar.
Hari ini kelemahan umat Islam , justru dipelihara dalam kalangan mereka sendiri. Manakala setiap kelompok dan mazhab mengklaim bahwa kelompok mereka lah yang paling benar dan paling lurus, menolak usulan dan pandangan dari selain kelompok mereka.
Bahkan, tidak sedikit hari ini banyak kelompok dan mazhab dalam Islam sendiri yang saling mengejek, menuding dan mengkafirkan. Inilah hal yang membuat kita sulit mengamalkan perintah "Wa'tashimuu bihablillah jami'aw walaa tafarraquu". Berpeganglah pada tali Allah dan janganlah saling bercerai berai."
Sumbangan ide brilian sahabat bernama Salman Al-Farisi itu bukan sekadar menjadi momentum kemenangan bersejarah di masanya, tapi tentang arti dan makna menerima perbedaan demi persatuan dan kesatuan menggapai kemenangan serta kejayaan bersama. Semoga Allah Ta'ala meridhoinya. (Baca Juga: Sejarah Kiswah, Kain Penutup Baitullah )
Islam mengajarkan arti dan makna kesejajaran dan kesetaraan di antara seluruh bangsa dan suku, melebur dalam persamaan kalimat tauhid: "Laailaha ilallah Muhammadur Rasulullah". Begitulah Islam mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah suatu alasan untuk saling berpecah belah dan merasa paling benar.
Hari ini kelemahan umat Islam , justru dipelihara dalam kalangan mereka sendiri. Manakala setiap kelompok dan mazhab mengklaim bahwa kelompok mereka lah yang paling benar dan paling lurus, menolak usulan dan pandangan dari selain kelompok mereka.
Bahkan, tidak sedikit hari ini banyak kelompok dan mazhab dalam Islam sendiri yang saling mengejek, menuding dan mengkafirkan. Inilah hal yang membuat kita sulit mengamalkan perintah "Wa'tashimuu bihablillah jami'aw walaa tafarraquu". Berpeganglah pada tali Allah dan janganlah saling bercerai berai."
Sumbangan ide brilian sahabat bernama Salman Al-Farisi itu bukan sekadar menjadi momentum kemenangan bersejarah di masanya, tapi tentang arti dan makna menerima perbedaan demi persatuan dan kesatuan menggapai kemenangan serta kejayaan bersama. Semoga Allah Ta'ala meridhoinya. (Baca Juga: Sejarah Kiswah, Kain Penutup Baitullah )
(rhs)
Lihat Juga :