Pra-Islam: Kisah Kabilah Arab Migrasi ke Syam dan Irak
Rabu, 10 Januari 2024 - 09:00 WIB
Mengenai kehidupan orang Badui yang luar biasa ialah, kendati kecintaan mereka sudah begitu besar pada cara hidup pedalaman, begitu besar kerinduan mereka setiap mereka berada jauh dari sana, namun mereka sangat mengagumi suasana pemukiman dengan tanam-tanaman yang indah di sekelilingnya serta para penghuninya yang tampak hidup nyaman dan makmur.
Menurut Haekal, yang menjadi pembicaraan orang di Makkah dan Madinah serta tempat-tempat lain di kawasan Hijaz, setelah mereka mengadakan perjalanan musim panas, ialah senantiasa tentang Syam dengan perkebunannya, tentang buah anggur dan gadis-gadis dengan matanya yang jelita.
Mereka yang ikut mengadakan perjalanan bercerita tentang semua itu, yang selanjutnya berpindah dari mulut ke mulut. Orang-orang yang mendengar lalu tersenyum, mata mereka terbelalak dan selera mereka bangkit, karena merindukan kehijauan yang serba segar itu.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Ah, coba di daerah mereka ada yang serupa itu: air yang lancar mengalir, tangan-tangan yang lembut dan pipi yang halus. Seolah mereka sudah lupa bahwa Allah Maha pencipta sudah membagikan rezeki kepada manusia begitu adil: penghuni daerah pedalaman itu dapat menikmati kebebasan mutlak, jauh dari segala macam ketidakadilan.
Semua ini tentu harus diimbangi dengan hidup yang serba berat dan sulit, meskipun tak berarti mereka tak ingin hidup nikmat dan makmur juga.
Demikian juga penghuni perkotaan. Mereka hidup makmur, senang, tertib dan aman, tetapi diimbangi dengan terbatasnya kebebasan dalam segala seginya. Selanjutnya, tak berarti orang tidak cenderung ingin menghancurkan segala belenggu ini karena ia merindukan kenikmatan dan keamanan.
Demikianlah keadaan kabilah-kabilah itu, yang pindah ke Irak dan Syam dengan kecenderungan yang berbeda mengenai keterikatannya dengan suasana pedalaman.
Lepas dari soal kenyamanan dan kenikmatan yang ada di daerah pemukiman, kabilah-kabilah itu masih kuat sekali mempertahankan nilai-nilai kehidupan Arabnya yang asli, demikian juga hubungannya dengan Semenanjung Arab sejak berabad-abad.
Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani
Menurut Haekal, yang menjadi pembicaraan orang di Makkah dan Madinah serta tempat-tempat lain di kawasan Hijaz, setelah mereka mengadakan perjalanan musim panas, ialah senantiasa tentang Syam dengan perkebunannya, tentang buah anggur dan gadis-gadis dengan matanya yang jelita.
Mereka yang ikut mengadakan perjalanan bercerita tentang semua itu, yang selanjutnya berpindah dari mulut ke mulut. Orang-orang yang mendengar lalu tersenyum, mata mereka terbelalak dan selera mereka bangkit, karena merindukan kehijauan yang serba segar itu.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Ah, coba di daerah mereka ada yang serupa itu: air yang lancar mengalir, tangan-tangan yang lembut dan pipi yang halus. Seolah mereka sudah lupa bahwa Allah Maha pencipta sudah membagikan rezeki kepada manusia begitu adil: penghuni daerah pedalaman itu dapat menikmati kebebasan mutlak, jauh dari segala macam ketidakadilan.
Semua ini tentu harus diimbangi dengan hidup yang serba berat dan sulit, meskipun tak berarti mereka tak ingin hidup nikmat dan makmur juga.
Demikian juga penghuni perkotaan. Mereka hidup makmur, senang, tertib dan aman, tetapi diimbangi dengan terbatasnya kebebasan dalam segala seginya. Selanjutnya, tak berarti orang tidak cenderung ingin menghancurkan segala belenggu ini karena ia merindukan kenikmatan dan keamanan.
Demikianlah keadaan kabilah-kabilah itu, yang pindah ke Irak dan Syam dengan kecenderungan yang berbeda mengenai keterikatannya dengan suasana pedalaman.
Lepas dari soal kenyamanan dan kenikmatan yang ada di daerah pemukiman, kabilah-kabilah itu masih kuat sekali mempertahankan nilai-nilai kehidupan Arabnya yang asli, demikian juga hubungannya dengan Semenanjung Arab sejak berabad-abad.
Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani
(mhy)
Lihat Juga :